Selamat Datang, Sakarin! /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad Haris)

Penulis: Irham Aliyafi Siahaan

Pagi ini cerah dan cenderung sangat terik mengingat ini adalah awal musim panas di Jepang. Musim panas di sini bisa melebihi kemarau di Indonesia. Dan, yang paling ikonik ketika musim panas ialah suara jangkrik yang bernyanyi bersahutan di siang hari. Awal musim panas mulai dengan membuka restoranku seperti biasa, karena dalam hitungan 30 menit akan banyak pelanggan datang untuk sarapan. Kebanyakan, sih, pelanggannya adalah orang Indonesia yang merantau di Jepang atau orang Jepang yang banyak tahu tentang Indonesia karena pernah tinggal di sana atau hanya mempelajari Indonesia.

Aku membuka restoran masakan Indonesia, di mana tiap waktu menunya berganti. Ada menu untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Dan seperti kebanyakan restoran Indonesia di Jepang lainnya, harga makanan di restoranku lebih mahal dari harga asli kalau di Indonesia. Dikarenakan bahan-bahan yang harus diimpor dari Indonesia yang membutuhkan biaya pengiriman tambahan. Aku memiliki lima belas pekerja yang mana sepuluh di antaranya adalah perantau dari Indonesia, dua dari Malaysia, dan dua orang asli Jepang berketurunan Indonesia, dan satu orang lagi perantau dari Arab yang sempat bekerja di Indonesia selama dua tahun. Karena kami semua terhubung dengan Indonesia, maka selama bekerja kami menggunakan bahasa Indonesia campur Melayu untuk berkomunikasi.

Oh, iya, hampir lupa. Hajimemashite, watashi wa Kanegawa Fataha. Tau enggak artinya? Aku bantu deh. Perkenalkan, aku Fataha Kanegawa. Di balik, ya, soalnya peletakan marga dalam bahasa Jepang dan Indonesia itu di balik. Aku biasa dipanggil Taha, dan sudah berumur 25 tahun. Ayahku orang Jepang asli, dan Ibuku orang Sunda. Aku lahir di Indonesia dan besar di sana hingga umur 15, dan pindah ke Jepang ketika memasuki umur 16. Aku sekarang sedang menjalankan restoran yang diwariskan ayahku sejak beliau berpulang dua tahun silam. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku berumur 35 tahun dan sudah pindah ke Amerika serta dan berkeluarga. Dan aku sekarang tinggal berdua bersama Ibuku di Jepang. Oke cukup perkenalannya.

Menu rekomendasi untuk hari ini ada es buah dan es teler, karena sudah memasuki musim panas. Dan, ya, minuman itu dipesan oleh hampir seluruh pelanggan di restoran ini. Rasa buah yang segar, air yang manis, dan dingin dari es batu memuaskan tenggorokan. Soal sehat atau tidaknya pikirkan saja nanti, kepuasaan sesaat ini lebih mendominasi. Karena yang namanya manusia wajar saja lebih mementingkan kepuasaan sesaat itu. Kalau kata pelanggan setiaku “Biar segar dulu leher ini, Bos. Setelahnya baru minum air putih, biar agak sehat sedikit, haha,” guraunya.

Di jam makan siang, ada satu pelanggan wanita yang menarik perhatianku. Sepertinya dia lebih tua dariku. Dia terlihat ayu. Kutebak dia keturunan Indonesia yang merantau ke Jepang. Tipikal wajah orang Indonesia itu memang kentara walau dicampur ras mana pun.  Matanya sekilas mengingatkanku pada seseorang, tapi aku lupa. Aku sengaja menyambutnya dengan Bahasa Indonesia ketika memasuki restoranku, “Selamat Datang di Restoran Ibu Ati, Nyonya,” sambutku. “Terima kasih, Mas,” jawabnya dengan aksen Indonesia yang fasih, yang seratus persen Indonesia. “Ya, dia orang Indonesia,” batinku. 

Aku layani dia lagi dengan Bahasa Indonesia. “Mau pesan apa?” tanyaku. “Menu set untuk makan siang kali ini apa ya, Mas?” sambutnya. “Kali ini? Memangnya ini kali berapa dia datang ke restoranku?” batinku. “Oh, kita ada nasi gado-gado, nasi pecal, dan untuk minumnya ada es buah dan es teler. Dua minuman ini spesial di musim panas ini, Nyonya,” jawabku sambil menunjuk menu dan menjelaskan kepadanya. “Oh, baik, Mas. Saya tanya dua rekan saya ini dulu,” jawabnya. Aduh aku sampai lupa melayani dua temannya karena fokus pada wanita ini. Hahaha, aku menertawai diriku sendiri, dan untungnya dia tidak komplain soal itu. “Mas, Mas?” panggilnya menyadarkanku dari lamunan. “Ah? Oh, iya , Nyonya. Jadi, mau pesan apa? Maaf saya melamun,” jawabku merasa malu dan tidak enak. “Santai, Mas. Jadi saya pesan nasi pecal satu dan dua nasi gado-gado. Yang nasi pecal dibikin pedas, ya, Mas. Yang nasi gado-gado enggak usah dibuat pedas. Tahu sendirikan pedas bagi orang Jepang itu bagaimana? Hahaha,” dia tertawa kecil. Bahkan tertawa pun dia masih saja ayu. Aku tersenyum sendiri memandangnya. “Oh, iya, untuk minumnya kita pesan es buah, tapi dalam satu teko bisa, Mas?” lanjutnya. “Oh bisa, bisa. Jadi satu nasi pecal pedas, dua nasi gado-gado tidak pedas, dan es buah satu teko. Untuk kuah gado-gado dan pecalnya mau digabung atau di wadah terpisah?,” tanyaku mengulangi pesanan mereka. “Digabung saja, Mas,” jawabnya lembut dan dengan keayuan yang sama. “Baik, silakan ditunggu. Terima kasih,” jawabku menutup percakapan. “Terima kasih kembali, Mas,” jawabnya. Aduh, manisnya.

Hari itu aku sangat gembira karena bertemu dengannya. Aku sempat berkenalan dengannya, dan namanya adalah Sakarin. Sakarin berarti serbuk putih pengganti gula ketika aku lihat di Google. Tapi aku masih menebak-nebak matanya. Seperti tidak asing. Sayangnya aku tidak sempat berfoto dengannya. Tapi tidak sopan juga mengajak berfoto di kali pertama jumpa, bukan? 

Setibanya di rumah aku menceritakan kepada Ibuku tentang Karin, ya, aku akan memanggilnya Karin mulai sekarang. Ketika aku mengatakan namanya ‘Sakarin’, mata ibu membesar, sedikit bergetar seperti mendapatkan kabar gembira yang telah dinanti. “Ibu kenapa? Ibu baik-baik saja?” tanyaku.

Editor: Miftahul Zannah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles