Selamat Datang, Sakarin! /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad Haris)

Penulis: Irham Aliyafi Siahaan

“Tidak apa-apa. Ibu teringat seorang anak yang pernah Ibu kenal dulu. Anak yang baik, pintar, ramah, banyak omong, dan juga ayu. Tapi mungkin Ibu salah orang. Tidak sedikit kemungkinan perantau dari Indonesia bernama Sakarin, bukan? Walau hanya tiga dari sepuluh kemungkinan, mungkin dia yang ketiga, dan Sakarin yang Ibu kenal itu yang pertama,” jawab Ibu. “Banyak omong, ramah, dan ayu. Itu seperti Sakarin yang tadi siang,” batinku. “Baiklah, Bu. Sudah waktunya tidur. Iya atau tidak, semoga Ibu bisa bertemu anak bernama Sakarin yang Ibu kenal dulu,” sambungku menutup percakapan malam ini.

Hari esok adalah hari kedua musim panas, dan aku memulai hari seperti biasa. Jangkrik masih semangat bernyanyi bersahutan, karena musim ini adalah musim mereka. Musim mereka untuk unjuk suara. Tak terlintas pikiran tentang Sakarin di pagi hari. Tapi, menjelang siang hari aku tiba-tiba teringat tentangnya. Menunggu di depan pintu restoran untuk menyambutnya. Tapi, sampai lewat jam makan siang dia tidak datang. Aku menunggu sampai jam makan malam pun dia tak kunjung datang. Aku ingin memastikan apakah dia Sakarin yang Ibu kenal atau tidak. Aku ingin mendekatkan diri untuk bertanya tentang itu.

Musim sudah berganti. Tak ada lagi panggung untuk jangkrik musim panas. Sudah berganti dingin. Menu rekomendasi juga sudah berganti, tapi Sakarin hanya berkunjung dua kali semenjak kali pertama jumpa, dan dia terlihat sibuk bersama rekan-rekannya. Aku tak enak untuk mengajak bicara tentang hal pribadi dengannya. Aku masih penasaran tentang Sakarin yang ini. 

Aku juga masih penasaran tentang masa lalu Ibu dengan Sakarin yang ia kenal. Seperti apa Sakarin itu? Apakah dia masih hidup? Apakah dia masih mengenali Ibu atau sebaliknya? Tapi aku tak enak untuk menanyakannya pada Ibu. Beliau sedang butuh istirahat banyak karena membuat menu baru untuk restoran. Nanti saja aku tanyakan. 

Musim dingin sudah hampir habis, dan Ibu sudah membaik. Suatu hari di penghujung musim dingin Ibu ikut aku ke restoran, tapi beliau aku larang untuk ikut memasak. Biar koki yang bertugas sajalah yang melakukannya. Kalaupun Ibu menginginkan sesuatu yang berhubungan tentang memasak, bisa minta tolong ke mereka. Toh, mereka juga melarang Ibu untuk bekerja keras. Mereka menyayangi Ibu juga, karena Ibu memang tipe penyayang. Tidak pernah bersuara tinggi walau marah. Bukan karena sudah tua, melainkan sejak aku kecil pun beliau tidak pernah berbicara dengan nada tinggi ketika marah. Jadi ya, mereka para koki akan membantu Ibu dengan senang hati.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba, Sakarin berkunjung ke restoran kami. Dia datang ketika aku sedang mengelap meja pesanan kasir karena sedang kosong juga. Ketika aku melihat dia dengan kardigan abu-abunya beserta payung transparan yang ikonik di Jepang, sontak aku langsung menghentikan kegiatanku dan buru-buru melayaninya. Ya, kisahku ini bukan kisah yang sulit ditebak. Karena buru-buru, aku terpeleset kaki meja dan terjatuh layaknya anak kecil. Niat ingin tebar pesona, malah malu sejadi-jadinya, dan itu benar-benar menyakitkan. 

Aku mencoba bangkit dengan kaki yang agak pincang. Menghampiri Sakarin dengan senyuman menahan sakit. “Selamat datang kembali, Sakarin. “Hisashiburi (sudah lama tidak bertemu),” sapaku. Kulihat dia menahan tawa, “Udah tahu kakinya lagi sakit, bukannya diperiksa dulu malah maksa kemari. Sini aku bantuin, nanti makin parah lagi,” jawabnya dengan sedikit tertawa sambil melihat kakiku yang sakit. “Daijoubu desu yo (enggak papa), enggak sakit, kok,” bantahku. “Udah, enggak usah bandel, mana P3Knya?” omelnya. Aku pun mengalah dan meminta salah satu pegawaiku yang dari Indonesia untuk mengambil kotak P3K.

Ketika diobati, aku bertanya kenapa dia jarang kemari lagi? Dan ternyata dia pulang ke Indonesia karena Ibunya sakit. Dan setelah kembali ke Jepang, tepat seminggu kemudian Ayahnya menyusul Ibunya karena kecelakaan. Dia bercerita sambil menahan tangis. Aku jadi merasa bersalah, “Maaf, Sakarin. Aku tak bermaksud membuatmu sedih,” ungkapku merasa bersalah. “Tidak apa-apa, Mas. Aku memang ingin bercerita. Aku sudah tak punya tempat cerita,” jawabnya.

Ternyata ketika aku sedang diobati, Ibu menguping dari meja kasir. Ketika aku selesai diobati, Ibu sudah di belakangku. Ibu langsung menyapa Sakarin ketika ia sedang membereskan kotak P3K. “Jadi kamu Sakarin yang diceritakan Taha? Kamu memang ayu, Sakarin. Terima kasih sudah membantu anak saya,” sapa Ibu. Kulihat Sakarin berhenti membereskan kotak P3K ketika mendengar suara Ibu. Dia melihat Ibu ketika Ibu selesai bicara. “Anda Ibu Ati? Ibu Sukmawati yang 20 tahun lalu pernah menjadi relawan di Lembang? Ibu ingat aku? Aku Sakarin yang pernah Ibu ajari Bahasa Jepang. Aku Sakarin yang dulu Ibu bawa jalan-jalan ke Bandung, apa Ibu ingat aku?” tanya Sakarin menggebu-gebu. Ibu termangu sebentar, seperti memutar ulang roll film  yang ada di ingatannya. “Ah iya, itu saya. Jadi kamu Sakarin? Sakarin Atmadjaya? Gadis pintar, ramah, pemberani, baik, dan banyak omong itu?” tanya Ibu kembali dengan mata berkaca-kaca sambil merentangkan tangan hendak memeluk Sakarin. “Iya, Bu. Ini aku. Ibu pergi tanpa berpamita padaku. Aku tak tahu apa-apa tentang Ibu. Yang aku tahu hanyalah Ibu Sukmawati istri orang Jepang,” jawab Sakarin sambil membalas rangkulan Ibu, dan mereka menangis haru. 

“Ibu selalu berdoa untuk bertemu denganmu, Nak. Ibu sangat merindukanmu. Ibu tak punya anak perempuan, dan kamu sudah seperti anak perempuan Ibu ketika pertama kali Ibu berjumpa denganmu. Kenalkan ini Taha, anak kedua atau si bungsu. Kakaknya sudah pindah ke Amerika. Kami hanya tinggal berdua. Ayo masuk ke kamar Ibu. Ibu punya kamar di restoran ini. Sekali lagi, selamat datang kembali, Sakarin Atmadjaya” kata Ibu dengan hati senang. “Selamat datang, Sakarinnya Ibu,” sambutku. “Terima kasih, Bu, Mas Taha,” sambutnya.

Editor: Miftahul Zannah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles