Takdir-Nya /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Illustrator: Muhammad Hanif Muzhaffar)

Penulis: Annisa

Langkah Dinda terhenti pada sebuah ruangan bertuliskan “Ruang Administrasi”, ia terus berdoa, semoga saja jumlah biaya dengan jumlah uang yang dipegangnya cukup.

“Permisi, Buk, atas nama Nia Ramadhani,” ucapnya kepada petugas di ruang itu.

“Silakan duduk, Nak. Untuk biaya keseluruhannya 200 ribu,”  ucap petugas administrasi itu.

Dinda kaget, uangnya hanya 70 ribu, tak cukup. Bahkan tidak sampai separuh dari nilai yang diucapkan petugas administrasi tersebut. 

“Ma..maaf, Buk, apakah tidak bisa kurang?” ucap Dinda takut.

“Tidak, Nak, memang segitu nominalnya,” jelas petugas administrasi tersebut.

“Saya cuma punya 70 ribu, Buk. Apakah bisa saya mencicilnya untuk beberapa hari ini? Jika saya bayarkan semua, adik saya tidak bisa makan, Buk,” jelas Dinda dengan suara memelasnya.

“Yaudah, saya kasih waktu tiga hari untuk segera kamu lunaskan, tapi kamu janji untuk tetap membayarnya ke sini, ya,”

“Iya, Buk, saya janji. Saya akan membayarnya dan tidak kabur, terima kasih banyak, ya, Buk,” ucap Dinda senang dan menyalami petugas tersebut sebagai rasa terima kasih. 

Kini, uang Dinda tersisa 20 ribu saja, hutangnya pada klinik tinggal 150 ribu lagi dan harus dilunasinya dalam waktu tiga hari. Dinda pergi mencari makanan di sekitar klinik tersebut karena dari siang sampai malam ini perut Nia belum terisi apapun, ditambah lagi ia sedang sakit. Uangnya hanya cukup membeli nasi beserta lauk sebungkus saja. 

“Tak apa, yang penting Nia sehat, aku bisa kenyang dengan minum dan memakan roti sisa tadi,” gumamnya. Setelah ia mencari nasi dan beras untuk sarapan adiknya esok, Dinda kembali menemui adiknya yang masih berada di klinik. 

“Assalamu’alaikum… Ada yang lapar gak, nih?” sapa Dinda ketika memasuki ruangan adiknya.

“Kak Dinda lama banget! Nia kira Nia ditinggal,” cemberut raut Nia tampak.

“Hehehe, maaf, ya, Nia. Kakak abis cari makan buat Nia, biar Nia cepat sembuh dan bisa nemeni kakak jualan lagi,” bujuk Dinda.

“Ayo kita makan, pasti udah lapar banget, ya. Maaf, ya, Nia,” ajak Dinda.

“Gak papa Kak Dinda, Nia belum laper kok,” terdengar suara kriuk-kriuk dari dalam perut Nia.

“Katanya belum lapar, itu cacingnya udah demo, hihihi. Yaudah, sini Kakak suapin,” lrdek Dinda pada adiknya sembari membuka bungkusan makanan dan menyuapi adiknya.

“Emm… enak, Kak. Kakak udah makan?” tanya Nia, disambut dengan anggukan Dinda.

“Udah kok, kakak udah makan. Nia abisin makanannya, ya, jangan banyak bicara, nanti kesedak, lo,” terpaksa Dinda berbohong demi adik tersayangnya. Bagi Dinda, kebahagiaan Nia hal nomor satu di hidupnya.

“Setelah Nia siap makan, Nia minum obat, terus kita pulang, ya.”

“Yey… kita pulangg!” seru Nia gembira.

“Waduh, pelan-pelan ngunyahnya Niaaa… nanti kesedak.”

“Enggak, Kak. Biar kita cepat pulang dan cepat sampai ke rumah,” sahut Nia penuh penuh semangat. 

Setelah semuanya selesai, mereka berdua bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah, Dinda menyuruh Nia untuk istirahat, sedangkan dia keluar sebentar untuk mengisi perut kosongnya dengan potongan roti yang masih bisa diselamatkannya.

Malam belum terlalu larut, seperti biasanya, dia pergi ke tempat Bik Imah untuk membeli roti yang akan ia dagangkan kembali esok paginya. Namun, kali ini ia minta tolong dulu pada Bik Imah karena uangnya habis untuk membayar dan membeli makanan Nia.

“Assalamu’alaikum Bik, Dinda mau ambil pesanan roti,” ucap Dinda.

“Eh Dinda, bentar, ya, Bik Imah ambil dulu.”

“Bik, bentar dulu.”

“Kenapa Dinda?”

“Bik, Dinda boleh gak ambil rotinya dulu? Uang Dinda habis, Bik, untuk bayar klinik.”

“Ha? Siapa sakit Din?”

“Nia, Bik”

“Ya Allah, yaudah gak papa Din semoga Nia segera sembuh dan dagangan Dinda lancar ya,”

“Alhamdulillah, Aamiin.. Terima kasih, Bik.”

Begitu banyak orang baik yang membantu Dinda, walaupun bukan saudaranya, hal itu didapatnya karena ia selalu menjaga etikanya kepada orang-orang. Dinda dan keluarganya adalah orang rantauan yang mencari keberadaan ayahnya.

Namun bukan kabar baik yang didapat keluarga Dinda, melainkan kabar memilukan bahwa sebenarnya ayahnya telah meninggal dunia di daerah ini karena kecelakaan saat sedang bekerja. Ibu Dinda yang baru saja pindah ke sini terpaksa membanting tulang hingga sakit-sakitan dan pada akhirnya meninggal dunia.

Sejak saat itu, Dinda tak lagi menikmati bangku pendidikan, ia berusaha menggantikan posisi ibunya untuk merawat Nia. Tekad Dinda adalah bisa membahagiakan Nia dan menyekolahkannya, agar hidup Nia bisa lebih baik di masa depan. Sekalipun dia tidak pernah menyerah pada takdirnya karena Dinda yakin Takdir Tuhan jauh lebih indah suatu saat nanti.

Dinda segera pulang setelah urusannya di tempat Bik Imah selesai dan tak lupa ia menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba dari Sang Pencipta. Setelah itu, ia segera beranjak tidur di samping Nia sembari bergumam melihat wajah Nia.

“Dek… Kamu yang sehat, ya, Kakak gak mau kehilangan orang yang Kakak sayang untuk kesekian kalinya. Semoga takdirmu senantiasa bahagia diberi oleh Allah,” ucap Dinda.

Bersambung…

Editor: Putri Khairunnisa Nabilah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles