
Judul Lagu: Daur Hidup
Pencipta: Donne Maula
Penyanyi: Donne Maula
Genre: Pop/Folk-Pop
Tahun Rilis: 2024
Durasi: 2 menit 42 detik
Peresensi: Muhammad Baker Al Hakim
Pada lagu ini terdapat lirik-lirik yang sangat relate dengan kehidupan mahasiswa. Lagu ini dapat dikaitkan dengan kehidupan remaja yang sedang beranjak dewasa ataupun mahasiswa yang tengah berjuang di dunia perkuliahan. Sering kali masa kuliah disebut sebagai masa paling indah. Namun, jujur saja, di balik itu banyak mahasiswa yang diam-diam merasa cemas. Lewat lagu berjudul “Daur Hidup”, Donne Maula seolah mengajak pendengarnya berbincang secara jujur tentang perasaan yang sering dipendam sendiri. Lagu yang dirilis pada 2024 ini bukan sekadar musik biasa, melainkan seperti pelukan hangat bagi para “jiwa yang bertahan” di tengah rumitnya proses menjadi dewasa.
Jika didengarkan dengan saksama, lagu “Daur Hidup” tidak hadir dengan musik yang berisik. Donne memilih aransemen sederhana berupa dentingan piano yang tenang dan hangat. Bagi mahasiswa yang setiap hari dipenuhi tugas, tekanan organisasi, hingga drama kelompok kuliah, musik minimalis seperti ini terasa menenangkan. Seolah menjadi tempat bercerita yang tidak banyak menuntut. Musiknya seperti teman yang tidak banyak bertanya, tetapi bersedia duduk menemani saat seseorang merasa buntu menghadapi tugas kuliah ataupun skripsi.
Baca Juga: Antara Prinsip dan Perasaan
Kesederhanaan musik tersebut justru memiliki kekuatan besar. Lagu ini tidak memaksa pendengarnya untuk tiba-tiba kembali semangat atau selalu terlihat ceria. Sebaliknya, “Daur Hidup” seakan berkata, “Tidak apa-apa jika hari ini kamu merasa lelah.” Sebagai mahasiswa, kita sering dipaksa untuk selalu produktif, selalu aktif, dan selalu terlihat baik-baik saja. Padahal, terkadang beristirahat sejenak adalah hal paling benar yang dapat dilakukan untuk diri sendiri.
Lirik “Hai, perkenalkan, aku jiwa yang bertahan” menjadi bagian yang paling mengena. Bagi mahasiswa, kata “bertahan” seperti sudah menjadi makanan sehari-hari. Bertahan dari tumpukan tugas, bertahan dari pertanyaan “Kapan lulus?” atau “Berapa nilaimu?”, hingga bertahan dari rasa minder ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial.
Donne Maula seperti menciptakan lagu ini khusus untuk mereka yang sedang berada di usia 20-an, fase ketika seseorang sering terjebak dalam perasaan yang naik turun. Inilah yang disebut sebagai “daur”. Ada masa ketika seseorang begitu semangat mengejar ambisi, ingin memiliki IPK tinggi dan aktif di berbagai kegiatan. Namun, keesokan harinya bisa saja muncul rasa kosong dan mulai mempertanyakan diri sendiri, seperti “Apakah aku benar memilih jurusan ini?” atau bahkan merasa menjadi beban bagi orang tua.
Lagu ini mengingatkan bahwa perasaan yang berantakan tersebut sangatlah normal. Gagal hari ini bukan berarti akhir dari segalanya, melainkan hanya satu fase sebelum seseorang kembali bangkit. Kalimat pembukanya terasa seperti pengakuan jujur bahwa mampu bertahan hingga hari ini saja sudah menjadi pencapaian yang luar biasa.
Lirik bertema “Seni Bertahan di Bawah Bayang Ambisi dan Ekspektasi” terasa begitu dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ambisi memang dapat menjadi penyemangat, tetapi jika tidak dikendalikan, ambisi juga bisa membuat seseorang mengalami burnout dan stres berlebihan. Belum lagi ekspektasi dari orang tua, lingkungan, hingga media sosial yang seolah menuntut setiap orang untuk selalu terlihat produktif setiap saat.
Melalui “Daur Hidup”, Donne mengajak pendengarnya untuk kembali mengenal dirinya sendiri. Ia tidak memberikan motivasi yang terdengar muluk-muluk. Sebaliknya, ia hanya ingin pendengarnya mampu menjadi teman bagi dirinya sendiri. Lagu ini mengingatkan bahwa di balik sosok mahasiswa yang terlihat kuat dan serba bisa, tetap ada manusia biasa yang memiliki rasa takut dan membutuhkan waktu untuk bernapas sejenak.
Lagu ini cocok didengarkan saat seseorang merasa dunia sedang tidak berpihak padanya atau ketika merasa lelah menghadapi proses menjadi dewasa. Bagi mahasiswa, “Daur Hidup” terasa seperti sandaran yang selama ini dicari, tetapi sering kali malu untuk diminta. Lagu ini memberi ruang untuk melepas beban sejenak dan mengakui bahwa manusia tidak harus selalu sempurna di mata orang lain.
Pada akhirnya, lagu ini menjadi pengingat bahwa setiap rasa lelah yang dirasakan hari ini sebenarnya sedang “didaur ulang” menjadi kekuatan baru di masa depan. Bagi siapa pun yang merasa tersesat oleh ambisi atau sesak karena ekspektasi orang lain, lagu ini mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar sendirian. Selama seseorang masih memilih untuk bertahan, selama itu pula ia sedang menciptakan karya seni paling jujur dalam hidupnya, yakni menjalani hidup apa adanya.
Lagu ini layak masuk ke dalam playlist mahasiswa, bukan hanya saat sedang lelah mengerjakan tugas, tetapi juga sebagai pengingat bahwa menjadi manusia bukan sekadar tentang terlihat kuat. Menjadi manusia berarti belajar menerima semua rasa, baik ketika sedang bahagia maupun saat berada di titik terendah. Sebab, pada akhirnya hidup adalah tentang bagaimana seseorang mengolah rasa sakit menjadi alasan untuk tetap melangkah, meski perlahan.
Baca Juga: Jangan Paksa Rindu (Beda): Saat Melepas Jadi Bentuk Cinta Terindah
Editor: Dinda

