Di Balik Senyuman

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto : Google
Foto : Google

Oleh : Nursa’adah*

Siang itu tepatnya tanggal 1 Juni bertepatan dengan hari ulang tahunku. Siang itu adalah hari yang tidak menyenangkan bagiku. Aku beranjak dari tempat duduk  dan keluar dari kelas sembari menggendong ransel hitam yang biasa ku bawa ke kampus. Teman-teman sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, sementara Aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan. Tanpa berpikir panjang lalu Aku keluar dari kelas, entah kenapa tiba-tiba butiran bening mengalir di pipiku. Aku sedih karena tiada seorang pun yang menemani siang itu. Lalu, Aku meniti tangga demi tangga dengan tertatih-tatih hingga akhirnya sampai dilantai satu. Aku ingin punya teman yang mau mendengarkan curhatku. Tak sadar butiran bening itu semakin menganak sungai di pipi. Aku mengusapnya dengan jilbab biru yang ku kenakan sambil meneruskan langkah menuju gerbang kampus. Hati berharap ponsel berbunyi, setidaknya ada yang mengingat ulang tahunku. Namun, itu semua hanya khayalan dan hal yang tak pasti. Aku enggan langsung pulang sebab belum terlalu sore, Aku menghentikan langkah dan memilih duduk di halte depan kampus. Orang-orang berlalu lalang di hadapanku di antara mereka ada yang melempar senyum ke arahku. Dengan sigap, Aku membalas dengan senyum seadanya. Entah mengapa fikiranku siang ini tak begitu tenang tidak seperti siang-siang sebelumnya yang damai. Aku mengalihkan pandangan ke depan, di sana mataku melihat sekelompok orang tengah bersenda gurau dengan teman-temannya. Aku tersenyum geli melihat tingkah mereka. Belum puas menyaksikan mereka, tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku menoleh ke sumber suara, ternyata ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) dia memberitahuku bakda zuhur ada rapat. Kemudian ia beranjak pergi setelah memberitahuku. Aku masih larut dalam lamunan, lamunan yang tak jelas arah.

Matahari semakin terik, Aku lupa kalau ada rapat bakda zuhur. Aku beranjak dari halte dan pergi ke mesjid untuk menunaikan kewajiban. Aku sempat menangkap beberapa pasang mata menatapku dengan penuh arti, seakan-akan mereka tahu apa yang ku rasakan saat ini.  Mataku sembab, Aku tak ingin orang-orang tahu kalau Aku baru saja menagis. Usai shalat Aku pergi menuju ruang rapat ternyata Aku telat. Sejenak, semua mata tertuju padaku. Mereka memandangiku lekat-lekat membuat Aku tak mengerti. Aku memilih tempat duduk paling belakang dengan sedikit kecewa.

Tanpa sadar rapat telah selesai tiada satu kata pun yang tersimpan di memoriku hasil rapat kali ini. Aku beranjak dari tempat duduk, mereka memandangiku kembali tapi Aku mengacuhkannya. Aku terus berjalan tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarku. Aku mengambil ponsel dari tas berharap ada message yang masuk tapi yang Aku harapkan nihil, mungkin Aku tidak mudah untuk diingat. Tanpa berfikir panjang Aku non aktif kan handphone. Tak penting bagiku untuk mengharapkan yang tak pasti. Aku terus berjalan hingga akhirnya sampai di gerbang kampus. Aku berdiri di bibir jalan menunggu bus untuk pulang. Lebih dari 1 jam Aku menunggu bus kecewa mulai menghampiri, tak lama kemudian bus yang ku tunggu sedari tadi tiba di hadapanku. Hanya dibelakang tempat yang kosong dengan terpaksa Aku dududk dibelakang. Aku menyandarkan punggung di jok bus dan mengaktif kan kembali handphone. Aku masih berharap ada message yang masuk tapi yang kuharapkan lagi-lagi nihil. “ Pentingkah Aku bagi semua orang????,” lirih dalam hati sedih. Tiba-tiba air mata kembali menganak sungai, membanjiri pipiku.

Di sepanjang jalan mataku terpejam, jarak rumahku dengan kampus memang tak begitu jauh hanya memakan waktu 1 jam. Bus berhenti mengangkut penumpang ibu-ibu separuh baya, tempat duduk kosong hanya disampingku, tidak ada pilihan lain ibu itu duduk disampingku. Aku menoleh ke arahnya dengan senyum, dia pun membalasnya, Aku kembali bersandar pada jok bus hingga tertidur, fikiranku mulai tenang namun terkecoh lagi bus nyaris menabrak motor, Aku ketakutan. Sempat terlintas dibenak.” Inikah akhir hidupku???,”  ibu separuh baya itu menatapku dengan penuh makna lalu ia berkata padaku “Jangan bersedih, kamu adalah wanita yang kuat,”ujarnya.  Aku heran dan tak mengerti apa maksud ibu itu, apakah ia tahu kalau Aku lagi bersedih kata-kata inilah yang selalu ku ingat, Aku bukan wanita tegar yang bisa menahan kesedihan. “Kau bisa menggantikan kesedihanmu dengan senyumanmu,” tambahnya. Setelah itu ia turun dari bus dan Aku tak sempat berkenalan dengan  ibu separuh baya itu, Aku amat penasaran padanya. Mengapa dia yakin dengan kata-katanya. Aku sama sekali bukan sosok yang dikatakannya, bahkkan Aku tak bisa menahan tangisku ketika Aku lagi bersedih. Aku tidak boleh bersedih dan tidak akan ada kesedihan lagi biarkan saja teman-temanku tidak mengingatku asalkan Aku tidak melupakan mereka. Akhirnya Aku tiba dipersimpangan rumahku. Jarak dari simpang menuju rumahku sekitar 50 km. Aku berjalan dengan cepat berharap cepat sampai dirumah, dan tiba sampai di rumah. Aku membuka buka pintu rumah, tanpa disangka ternyata keluarga memberiku surprize mereka menyiapkan bolu di ruang tamu, ada ayah, ummi dan adikku, Aku menangis dengan penuh haru Aku memeluk mereka semua, Aku senang kini kesedihan itu berubah jadi kegembiraan yang tak pernah ku bayangkan. Kini ku sadar Aku masih punya keluarga yang bisa memahamiku dan menyayangiku. Aku sangat menyayangi mereka, mereka sangat berarti hidupku.

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles