
Penulis: Miftahul Zannah
“Nah, kita bisa lihat sendiri bahwa anak Ibu dan Bapak bisa berbicara dengan orang yang sama sekali tidak ada yang melihatnya. Klara adalah anak yang istimewa. Dia adalah anak indigo. Yang mana kalau sepenglihatan dan hasil dari pemeriksaan saya Klara bisa berbicara dengan makhluk tak kasat mata,” jelas dokter.
“Tapi, Dok. Apakah ini bisa berpengaruh pada kesehatan anak saya?” tanya Vera.
“Ya, ini sangat berpengaruh. Karena kecerdasannya di atas rata-rata. Sebaiknya Klara di tempatkan dalam pendidikan khusus,” sambung dokter.
Tiba-tiba Klara keluar dari balik tirai sambil senyum-senyum.
“Mama, sekarang Klara tidak kesepian lagi. Ada Jeni yang selalu menemani Klara,” ucap Klara dengan wajah bahagia.
“Tapi Klara itu hantu,” bentak Vera.
“Mama aneh, Jeni bukan hantu. Dia sahabat Klara,” jawab Klara dengan nada tinggi.
Vera mengalah, semua keadaan sudah berubah dia harus bisa mengerti sikap anaknya tersebut.
Tetapi ada sesuatu yang mengganjal, sejak tahu kalau Klara adalah anak indigo, ada keanehan pada sikap Rudi. Dia sangat dekat dengan Klara bahkan Vera pernah memergoki kalau Rudi dan Klara berbicara dengan seseorang yang sama sekali Vera tidak melihatnya.
“Mas. Kok kamu akhir-akhir ini aneh?” tanya Vera,
“Maksudnya?” balik tanya Rudi.
“Apa kamu sebenarnya bisa melihat sosok yang sering dilihat Klara?” sambung Verra.
“Sepertinya sudah waktunya aku harus jujur ke kamu Ver. Sebenarnya aku sudah tahu dari lama kalau Klara itu indigo. Karena Klara adalah keturunan dari aku, dan Jeni yang sering dikatakan Klara adalah penjaganya,” jelas Rudi.
“Apa, Mas? Kenapa selama ini kamu enggak jujur sama aku. Berarti kamu juga indigo sama seperti Klara? Iya, Mas?” tanya Vera kembali.
“Iya. Ini seperti warisan dari nenekku. Kenapa aku enggak jujur ke kamu, karena aku yakin suatu saat kamu juga bakalan tahu akan hal ini,” sambung Rudi.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar Klara, bahwa sosok Jeni berubah menjadi asli.
Tamat…
Editor: Amelia Pratiwi

