Bisinis Malam Menggairahkan

- Advertisement - Pfrasa_F
Sumber : www.medanbisnisdaily.com
Sumber : www.medanbisnisdaily.com

Di tengah gerimisnya hujan, di bawah langit nan gelap gulita, di antara aroma sayur busukyang berserakan, tomat pecah yang berjajar dipinggiran parit, asap warung kopi yang sesekali mengepul, teriakan orang-orang berjalan mondar-mandir, anak-anak tertawa dan sebagian menangis, lelaki berkaus merah menunggu mobil truk di depan gerbang. Seorang wanita hampir paruh baya berjalan dengan langkah yang begitu cepatnya, azan isya baru selesai dikumandangkan. Dan langkah kakinya menerawang lurus jauh ke ujung jalan yang ada di hadapannya. Bukan karena dia takut diguyur hujan, bukan pula takut diterpa badai malam. Dalam benaknya, niat mulia sudah tertanam. Pikiran waswas sedang bergumam, langkah kakinya semakin cepat, tanpa menghiraukan sekeliling yang ia lewati, ia terus berjalan menerobos debu-debu yang berhamburan akibat rintik hujan yang turun di tengah-tengah kemarau panjang.

“Huh..” dia menghela napas, sesekali melihat telepon genggam yang ia bawa, melihat angka yang terus bergerak, memperhatikan jarum jam yang terus berputar. Dag-dig-dug jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya, akibat gerakan badannya yang juga ikut bergetar, ditambah lagi pikiran yang terus menghantui. Dalam mesin merah jambu yang terbungkus batok dan kulit serta rambut dikepalanya tersirat pemikiran “Apakah ada barang yang akan digeser?” Ambigu sekali. Ya, kalimat ini seolah menjadi makan malamnya.

“Ting, gua iya barangndu sendah?” (baca: ting, bagaimana barang kamu hari ini?), seru salah satu teman seperjuangannya dalam bisnis malam. Ya, ibu tua ini adalah seorang pebisnis, bukan seperti pebisnis yang sering kita ketahui, namun ini sedikit berbeda. Tempatnya di pusat pasar Jl. Jamin ginting, Kec. Laucih atau yang biasa disebut Pasar Induk.

Waktu berbisnisnya juga tengah malam, dan rata-rata yang berbisnis ini adalah ibu-ibu. Yang salah satunya adalah Nande ini. Wanita yang bertempat tinggal tidak jauh dari Pasar Induk, memulai bisnisnya sejak terjadinya penggusuran pedagang di pusat Pasar Sentral yang mengharuskan para pedagang pindah ke tempat baru ini, disaat itu pulalah Nande ini menggeluti bisnis malam ini.

Wanita kelahiran 54 tahun silam itu bernama Nande Iting, yang menggaet marga suku karo yaitu ginting, ibu dari lima orang anak hasil pernikahan dengan suaminya yang sudah 17 tahun meninggal dunia ini adalah seorang ‘penggeser sayur’. Maksud penggeser disini adalah pedagang sayur-mayur dengan bermodalkan bibir berucap untuk meminta kepada tokeh sayur agar sudi memberikan beberapa bal barang beliau untuk dijual oleh Nande Iting dengan harapan mendapat untung sebesar Rp. 200/Kg nya.

Dengan tangan yang sudah keriput,  ia sanggup bertanggungjawab sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Karena sifatnya yang periang dan penuh canda tawa, dunia seolah menutup wajahnya dari pandangan sulitnya kehidupan. Menurut Nande Iting, penghasilan yang ia dapatkan permalam mencapai 50 sampai 100 ribu rupiah, kalau lagi rejeki bisa mencapai 150 ribu rupiah, tergantung banyaknya barang orang lain yang dapat ia geser ke lapak jualannya. “Ya setiap hari, Iting dapat 100 ribu, kadang kalau rejekinya nambah mau sampek 150 ribu,” ujarnya dengan logat bahasa Karo.

Ini sebabnya mengapa Nande Iting merasa bisnis ini menggairahkan. Di saat dulunya ia hanya pedagang segala jenis barang yang dapat dijual dan tidak tahu untung dan ruginya berapa. Kini memberanikan diri menggeser barang orang lain tanpa modal. Akan tetapi, hal yang kurang menyenangkan dari bisnis ini adalah, Nande Iting harus berusaha sekuat tenaga bagaimanapun caranya untuk menghabiskan barang dagangan yang ia geser. Sebab bila barang belum habis, tidak boleh dikembalikan, ini memang sudah hukum alam pedagang penggeser barang. Dan kalau 2 hari barangnya belum habis terjual, kerugian atas busuknya barang ditanggung penggeser barang.

Di era sekarang, daya saing semakin ketat, para pedagang pun bersaing secara sehat. Nande Iting tidak memiliki pilihan lain untuk biaya hidup sehari-hari serta menyekolahkan dua anak bungsunya. Pendidikan yang tidak tamat sekolah dasar membuatnya menjadi lebih semangat dan bergairah untuk menyekolahkan sepasang anak bungsunya ke jenjang yang lebih tinggi agar mendapat penghidupan yang lebih layak dari yang ia alami sekarang.

Jasa seorang tukang sayur, memang tidak begitu penting menurut kita pribadi sebagai seorang yang hanya mengkonsumsi sayuran di rumah. Tanpa mengetahui perjuangan pendistribusiannya. Di saat kita sedang tertidur dengan pulasnya di atas kasur empuk dengan bantal guling dan selimut tebal yang menghangatkan suasana kamar kita, mereka harus membuka mata dengan lebarnya, menelusuri dinginnya malam yang menusuk tulang tetapi sedikit terkikiskan dengan kaus kaki, syal di leher, serta jaket tebal yang mereka kenakan. Dan jam tidur diganti di saat orang lain pada umumnya sedang bekerja di siang hari.

Tahu kah kita, tanpa pedagang sayur malam seperti ini, mungkin begitu sulit untuk kita dapat mengkonsumsi sayuran. Karena mengharuskan kita pergi ke kebun atau pusat pasar langsung. Tetapi karena adanya mereka-mereka ini, para pedagang sayur yang berada disekitaran rumah kita bisa menjadi lebih mudah sebagai perantara atas jual beli sayur-mayur ini.

Harapan Nande Iting sama halnya dengan harapan para pedagang lainnya kepada pemerintah untuk sudi kiranya segera menutup atau memindahkan penuh seluruh pedagang yang masih tersisa di pusat Pasar Sentral Jl. Sutomo Medan. Agar tidak terpecahnya pembeli menjadi dua bagian, yang membuat omset dan pembeli menjadi berkurang dari sebelumnya. Jika pemerintah memang ingin menstabilkan ekonomi pedagang sayur, besar harapan pemerintah mengindahkan kritik saran para pedagang.

Penulis                       : Nurafni Sitepu

Editor                         : Nurul Farhana Marpaung

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles