
Menyelenggarakan kegiatan kelompok belajar di lingkungan kampus UIN SU bukanlah hal yang mudah. Dengan berbagai ketentuan dan persoalan yang terus membayangi mahasiswa, membuat keinginan untuk memajukan aktivitas akademis UIN SU penuh dengan tantangan. Oleh karena itu, kelompok belajar English Educational Club (EEC) menyesalkan kepada kami saat menjumpai langsung Ketua Kelompok belajar yang dibentuk pada Tahun 2012 silam itu perihal pendanaan dan fasilitas belajar. Sabtu, (11/3)
Betapa tidak, berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh EEC hanya dibiayai oleh dana Fasilitator sendiri. Yang mana dalam hal ini fasilitatornya adalah mahasiswa yang merupakan penggerak kelompok belajar. Hanya saja, kelompok belajar yang baru balita ini sudah cukup mantap untuk melahirkan mahasiswa yang Multi Languange. Siang menjelang Adzan Dzuhur berkumandang mereka (Anggota) dipadukan dengan semangat Serbene (Singapura), dan Mr. Dallas (Kanada) menambah pengalaman berbahasa inggris 40 orang anggota dan member yang selalu rutin mengikuti program-program belajar EEC.
Ketika sadar tidak memiliki pembiayaan tetap, mereka memberlakukan pembayaran atau mengutip sejumlah uang kepada anggota jikalau belajar kembali. Rutinitas mereka belajar memilih hari sabtu sebagai schedule kelompok belajar. Roni Anggara yang kini merupakan Leader EEC saat ini dengan antusiasnya dan kawan-kawan mendatangkan 2 orang sosok di bidang pendidikan yang dengan sukarela mentransferkan kemampuan public speaking dalam berbahasa inggris kepada Mahasiswa UIN SU agar lebih berani dan bisa mengaplikasikan kemampuan bahasa inggris mahasiswa.
Menurut pernyataan Roni (Ketua), ia menyebutkan, “bapak yang dua itu berasal dari dua Warga Negara yang berbeda. Yang satu dari Singapura dan satunya lagi dari Kanada. Mereka datang tidak dibayar. Sebelumnya kami jumpa dengan mereka saat mengikuti program dari kelompok belajar yang sudah terkenal di Indonesia. Yaitu TOAST Masters beberapa waktu lalu.” Lugasnya.
Ia pun berbagi cerita kepada kami perihal prestasi EEC di dunia pendidikan berbahasa inggris. “Kami pernah mengirim delegasi di Ajang Debat tingkat Provinsi yang diadakan beberapa tahun lalu. Dengan bangga kami ikut serta. Hanya saja, kami kalah dari pesaing yang bukan dari mahasiswa jurusan Bahasa Inggris. Selain itu, ajang ini juga diikuti oleh Siswa/i SMA.” Tambahnya.
Atas kekalahan tersebut, ia mengaku menjadikan dirinya dan kawan-kawannya menjadi termotivasi untuk lebih giat lagi belajar berbahasa inggris. Hanya saja, ia cukup menyayangkan perihal sulitnya menghimpun dana karena hanya mendapat dana dari masing-masing anggota. Ditambah lagi sulitnya mencari tempat yang nyaman dan waktu untuk belajar.
Kegiatan yang di support oleh HMJ PBI ini baru pertama kali mengundang guru dari luar negeri. Ia berharap agar acara serupa terus diadakan untuk menambah kemampuan berbahasa bagi Mahasiswa UIN SU. “Mari kita bersama berbagi ilmu dan pengalaman. Kita berbagi ilmu agar Mahasiswa UIN SU bisa berbahasa inggris,” harapnya.
Reporter : Rahmanuddin dan Isma Hidayati
Editor : Shofiatul Husna Lubis

