Marpangir: Tradisi Mandi Suci Sehari Sebelum Ramadan

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Dinamika)

Warga desa Tanjung Tiram, Kec. Padang Bolak, Kab. Padang Lawas Utara, Sumatra Utara, beramai-ramai melakukan tradisi marpangir. Tradisi yang dilakukan suku Mandailing ini, sudah berlangsung sejak lama dan dilakukan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Marpangir adalah kegiatan membersihkan diri di sungai atau pancuran menggunakan ramuan yang telah diracik dan dilakukan sehari sebelum bulan suci Ramadan.

Marpangir dilakukan sebagai upaya pembersihan diri. Sehingga, dipercaya akan membuat keadaan manusia kembali suci untuk melaksanakan ibadah puasa sepanjang bulan Ramadan. Untuk menyambut bulan suci Ramadan tahun ini, tepat pada Senin, 12 April 2021 maka sebagian besar dari suku Mandailing yang tinggal di Desa Tanjung Tiram melakukan tradisi marpangir.

Lisa Ramadhani, salah satu warga yang akan mengikuti tradisi marpangir menjelaskan ramuan khusus yang disiapkan dalam melangsungkan tradisi marpangir. “Racikan ramuannya terdiri dari pandan musang (daun pandan), bunga kenanga, jeruk purut, tapak leman (dedaunan), habelu (akar wangi). Biasanya semua ramuan tadi dimasak kemudian dibawa ke pancuran atau Parsariran (salah satu sungai daerah Tapanuli Selatan) untuk dipakai mandi,” jelas Lisa.

Sungai menjadi tujuan utama warga Desa Tanjung Tiram, untuk melakukan tradisi marpangir. Tradisi ini menimbulkan perkumpulan besar yang tak dapat dihindari dari adanya kontak fisik, sehingga imbauan jaga jarak kemungkinan besar tidak akan terlaksana. Virus Covid-19 ternyata tidak menghentikan keinginan warga Desa Tanjung Tiram untuk  tetap melaksanakan tradisi marpangir. Meskipun virus ini telah melumpuhkan berbagai wilayah di belahan dunia. Sayangnya, Covid-19 tidak menjadi penghalang untuk melaksanakan tradisi yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya bagi warga desa sekitar.

“Kalau takut sama Covid-19 pasti iya, tapi karena marpangirnya di sini saja, tidak apa. Dan kami merasa Covid-19 tidak ada disini bahkan mungkin virus itu tidak ada menurut saya,” ujar Ibu Ani tegas dan  meyakinkan.

Disisi lain, Amel dan Dinda gadis desa yang sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah memilih untuk tidak mengikuti tradisi marpangir akibat virus Covid-19 yang sedang terjadi. “Kami tidak ikut, di rumah saja. Terkait kasus Covid-19 walaupun belum ada kasusnya disini, kami tetap takut dan mengikuti peraturan pemerintah,” ucap kedua gadis itu merasa  waspada.

Marpangir bukanlah sebuah kewajiban melainkan sebuah tradisi. Tradisi telah menjadi bagian dari masyarakat sejak lama dan merupakan harta serta ciri khas dari suatu daerah. Tradisi akan memudar dan kemudian hilang jika tidak dilestarikan. 

Reporter : Risma Dona Siregar dan Tri Puji Astuti

Editor      : Anggia Nurulita

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles