(Sebuah catatan perjalanan menyebarkan dakwah di daerah pelosok )

Menjadi seorang relawan adalah pilihan hidup yang sangat beruntung dan sarat akan pengalaman unik, penuh inspirasi bagi setiap orang. Salah satu yang beruntung mencicipi nikmatnya menjadi seorang relawan tentu saja adalah diriku sendiri. Menjadi seorang relawan tentulah membutuhkan kekuatan mental yang harus diluruskan dan benar benar menjiwai apa esensi dari sebuah kerelawanan itu sendiri. Di saat anak-anak muda kebanyakan yang agaknya selalu sibuk dengan dunia maya hingga terbuai dengan kemewahan duniawi, alhamdulillah Tuhan masih memberikan hidayahnya kepadaku dan beberapa teman untuk turut serta menyiarkan dakwah dan perintah-Nya kepada masyarakat yang membutuhkan.
Beberapa saat lalu ketika pertama kali aku melihat pengumuman pendaftaran relawan sebar khatib pelosok yang diadakan dan diinisiasi oleh Lembaga Amil Zakat Ulil Albab, aku langsung tertarik untuk mendaftarkan diri. Setelah membereskan berkas berkas pendaftaran, mulailah masuk ke tahap wawancara. Aku dan beberapa teman yang belakangan kuketahui dari perguruan tinggi yang sama ikut dalam misi mulia ini. Seminggu kemudian, alhamdulillah namaku dinyatakan lulus menjadi salah satu relawan sebar khatib Jumat. Tujuannya adalah bagaimana kami mampu menjadi khatib di daerah daerah pelosok untuk menghidupkan Jumat mereka.
Jumat pagi, 09 Desember 2016. Aku dan empat serta 3 orang panitia dari LAZ Ulil Albab berangkat menuju lokasi yang akan didatangi untuk menyebarkan dakwah di daerah pelosok Deli Serdang. Dalam kesempatan ini kami akan mengunjungi desa di wilayah kecamatan Namorambe, Deli Serdang. Melalui kaca spion sepeda motor yang ku kendarai, aku melihat wajah wajah sumringah dan tulus dari kawan kawan lain untuk menyebarkan dakwah di daerah yang belum pernah kami singgahi. ”Saksikanlah kami sekumpulan anak muda menyampaikan risalah Sang Pencipta ke penjuru daerah, izinkan kami mengenal seluk beluk dan keanekaragaman nilai nilai hidup yang sesaat lagi akan kami dapatkan di sana,” bisikku pada langit pagi kala itu.
Kurang lebih satu jam, kami sudah sampai di daerah Namorambe, Deli Serdang. Setidaknya ini kuketahui dari batas daerah berupa gapura berisikan kalimat “Selamat Datang di Desa Tangkahan Kecamatan Namorambe”. Desa ini rencananya menjadi salah satu tujuan sebar relawan khatib kali ini. Setelah pelan pelan menyusuri jalanan yang agak berbatu dan kadang kadang dibalut tanah merah, kami tiba di salah satu masjid di kampung ini. Masjid ini bernama Namirah. Dari pamplet atau papan nama usang-lah kami ketahui nama masjid ini. Lokasinya yang agak ditepi jalan hingga kurangnya perawatan adalah salah satu tanda keberadaan masjid Namirah. Kurang lebih tiga desa di kecamatan Namorambe menggunakan masjid ini untuk aktifitas ibadah sehari-hari.
Tahun 1994-silam adalah awal dari didirikannya masjid ini. Hasil waqaf dan sedekah dari IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) wilayah Sumatera Utara. Setibanya kami di masjid ini, sambutan hangat kami terima dari BKM Masjid yang bernama bapak B. Tumanggor. Seorang pria paruh baya yang sudah lanjut usianya. Kesan ramah dan hangat pun kurasakan ketika pertama kali berjumpa dengannya. Kebetulan dari 5 relawan kali ini, aku yang dipercayakan untuk mengisi Khatib di masjid sederhana ini. Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB, artinya masih ada sekitar 1 jam lagi kesempatanku umtuk mengobrol dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru kukenal ini.
“Kalau disini memang sedikit sekali jamaah yang salat di masjid. Kadang-kadang kami tidak melaksanakan salat Jumat karena ketiadaan khatib. Islam di sini belum menjadi pedoman hidup masyarakatnya. Malah terkadang masih dicampur adukkan dengan adat yang melekat,” tukasnya kepadaku.
Di tengah-tengah perbincangan yang hangat, pria yang berasal dari Tanah Dairi ini pun meluapkan kekesalannya ketika masyarakat muslim di kampung ini hanya sekedar menjadikan agama sebagai identitas saja, namun aplikasi pelaksanaannya tidak ditaati. “ Disini lain, kalau sholat sehari-hari tidak ada yang ke masjid. Tapi, kalau hari raya, seperti Idul Adha banyak yang datang ke masjid mengaku-ngaku bahwa dulu pernah memeluk Islam untuk sekedar mendapatkan daging kurban misalnya,” tambahnya lagi.
Ketika waktu sholat sudah tiba, aku dipersilahkan untuk masuk ke masjid terlebih dahulu. Aku merasa terenyuh dan iba melihat kondisi kamar mandi sekaligus tempat mengambil air wudhu’ yang kelihatan seperti tidak layak dan hampir mirip dengan kandang hewan. Dindingnya yang tersusun dari tepas dan papan yang sudah lapuk menambah kesan kelam kamar mandi masjid ini. Belum lagi rumput-rumput liar di sampingnya yang merambat cepat dan tumbuh lebat semakin menutupi fasilitas kamar mandinya.
Kalau di masjid-masjid lain seperti di Medan misalnya, jamaah masjid yang puluhan lebih dari 40 orang sudah tercukupinya syarat Jumat. Namun, kenyataannya di masjid masjid pelosok seperti di Namirah ini, untuk menghadirkan jamaah yang yang banyak saja pun sangat sulit dilakukan. Hari ini misalnya, jamaah yang datang ke masjid ini hanya 10 orang, itupun ditambah dengan jamaah anak-anak. Namun, melihat semangat mereka menjadikan batu loncatan bagi aku untuk tetap optimis menyampaikan dakwah kepada umat.
Inilah kisah pertama sekaligus pengalaman luar biasaku menjadi khatib di daerah pelosok yang harus menghadapi umat yang sedikit dan buta akan pengetahuan agama Islam. Hari itu aku menyampaikan khutbah mengenai pribadi muslim yang siap menghadapi cobaan dari Allah Swt. Aku pun menyampaikan pesan khutbah tidak terlalu lama. Sebab, salah satu adab dalam menjadi khatib adalah memperhatikan objek dakwah yang sedang diberikan pencerahan. Untuk saat ini, aku menghindarkan penggunaan bahasa ilmiah maupun kata kata yang sulit, sebaliknya aku menyampaikan dengan bahasa dan tutur kata yang dimengerti oleh penduduk setempat.
Selesai sholat Jumat aku kembali berbincang dengan bapak ini, namun siang ini kami juga kedatangan tamu bapak-bapak dari kampung sebelah yang sengaja berbincang di dalam masjid ini. Ketika kutanyakan apa kebutuhan yang paling mendasar dari masjid ini, mereka bersepakat bahwa sekarang ini yang dibutuhkan adalah pembangunan gudang untuk meletakkan alat-alat keperluan masjid. Sebab, selama ini kalau hari raya tiba dan masjid penuh, mereka bingung mau meletakkan di mana barang barang di masjid ini. Tak lupa aku menyerahkan formulir pengisian data masjid sekaligus apa saja yang perlu pembenahan. Aku dan tim berharap suatu saat ada donatur yang meringankan tangannya untuk menyedekahkan hartanya membantu masjid ini.
Sekali lagi, aku teringat pesan mulia Rasul bahwa sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Menjadi relawan adalah hal demikian, aku merasa mendapat kepuasan batin dan emosional yang tidak mungkin diluapkan baik dengan kata dan perbuatan. Hanya kesyukuran kepada Ilahi bahwa hati dan inderaku masih diizinkan Tuhan untuk selalu memanfaatkan kebaikan kepada umat. Aku berharap kawan kawan muda Muslim di luar sana kiranya bisa mencicipi apa yang telah kulakukan ini. Sebab, aku yakin dan percaya bahwa barang siapa yang menolong agama Allah swt dengan disertai niat ikhlas dan benar benar mengharap kepada Allah saja, mudah-mudahan Dia menolong kita baik di dunia dan di akhirat. Semoga guratan kisah sederhana ini dapat menginspirasi kawan-kawan sekalian, bahwa selagi masih ada nafas dan nyawa di kandung badan, pantang bagi kita untuk selalu berbuat baik dan menebarkan benih benih keberkahan bagi sesama umat.
Penulis : Muhammad Hisyamsyah Dani

