Medan, Dinamika Online – Media menjadi fasilitator kebutuhan publik akan informasi. Perkembangannya sangat pesat, dan sangat beragam. Mulai dari media cetak, media online hingga media audio visual. Ciri khasnya pun beragam, dan dikemas sangat kreatif untuk memenuhi kebutuhan publik.
Berbicara mengenai media, audio visual menjadi daya tarik tertinggi dan menjadi pilihan teratas dalam mengonsumsi informasi. Perkembangan audio visual begitu cepat menuju papan atas media informasi, karena lebih unggul dalam penyajian informasinya. Tampilannya yang komplit juga menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya. Apalagi para konsumen media audio visual mengingikan berita yang cepat, juga ingin langsung melihat keadaan di tempat kejadian perkara.
Sejarah jurnalistik televisi di Indonesia dimulai tahun 1962 oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI). Dua puluh tahun kemudian, di tahun 1989, RCTI mengudara, salah satu program beritanya yaitu Seputar Indonesia. Tahun 1990-an, bermunculan televisi swasta lainnya. Mulai SCTV, ANTV, dan yang lainnya. Bahkan SCTV punya slot (jam siaran) berita lebih banyak dibanding televisi swasta lainnya. Karena itulah mulai muncul istilah ‘tv berita’.
Perkembangan pertelevisian di Indonesia diwarnai dengan tayangan berita atau news. Stasiun televisi nasional saling berlomba menayangkan program berita yang dikemas dalam berbagai bentuk, mulai dari straight news, hard news, hingga investigative news.
Televisi menjadi asumsi seseorang untuk mendapatkan sebuah informasi, baik itu hiburan, tanggapan, perkara penting hingga sebuah refleksi relaksasi dari hingar bingarnya kepenatan aktivitas hidup. Menanggapi perkembangan tersebut, Lembaga Pers Mahasiswa Suara USU melakukan pelatihan mengenai jurnalisme televise, Salam Ulos bertema ‘Jurnalisme Televisi Mewartakan Bencana’. Dengan menggandeng pemateri asal Jakarta, Gunawan, selaku Freelance Broadcast dan Konsultan Televisi, Syaiful Anwar Lubis selaku Eksekutif Produser iNews Tv Biro Medan.
Pelatihan yang digelar di Berastagi 16-21 November, diikuti perwakilan beberapa Lembaga Pers Mahasiswa seluruh Indonesia, antara lain berasal dari Bali, Makassar, Yogyakarta, Padang, Lampung, Medan hingga Banda Aceh turut ambil bagian dalam pelatihan ini.
Gunawan mengungkapkan bahwa jurnalis televisi saat ini kebanyakan sebagai praktik memenuhi tanggung jawab, bukan menyampaikan berita yang seharusnya. “Para jurnalis televisi rata-rata menyampaikan sebuah berita hanya memenuhi tugas dan mencari rating dari stasiun televisi terkait, bukan lagi menyampaikan berita yang sesungguhnya,” ungkapnya .
“Kita sebagai jurnalis televisi juga seharusnya tidak terlalu dekat dengan lingkup berita yang akan diangkat, karena akan mempengaruhi berita yang akan dimuat,” tambah Gunawan.
Ketua Panitia pelatihan Salam Ulos, Amelia Ramadhani menanggapi perihal pelatihan junalisme televisi yang dipilih sebagai materi pelatihan nasional, “April lalu Pers Mahasiswa Suara USU meliput kembali kejadian meletusnya Gunung Sinabung tersebut, hal itu menjadikan dasar dari pencetusan materi tersebut. Namun, tidak hanya lewat tulisan. Peliputan jurnalisme bencana kini juga disajikan dalam bentuk video jurnalistik, seiring dengan berkembangnya jurnalisme tv di Indonesia,” ungkapnya.
“Oleh karena itu PJTLN Salam Ulos 2015 tahun ini mengusung tema Jurnalisme Televisi Mewartakan Bencana. Pemahaman mengenai jurnalisme televisi akan diperkuat dengan pemahaman bahasa dan teknis pengambilan video jurnalistik. Sebab keduanya adalah hal yang tak terpisahkan,” tambah Amelia.
Dunia pertelevisian Indonesia menjadi pilihan pertama dalam mendapatkan informasi berita terkini. Oleh sebab itu, banyak media pertelevisian Indonesia berlomba-lomba dalam menyampaikan berita terkini. Selain mencari rating, media televisi juga ingin media sangat dekat dengan publik dan akan menjadi pilihan pertama dalam mendapatkan informasi.
Reporter : Dhanu Nugroho Susanto
Editor : Nurtiandriyani Simamora

