Sibaroar, Sosok Petuah Marga Nasution

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto : Fakhrurrazi

Semarak Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2017 kembali menggeliat dengan menyuguhkan berbagai macam pagelaran aksi memukau. Penampilan yang  sengaja dipertunjukkan untuk memperkenalkan budaya khas Sumatera Utara, Kabupaten Mandailing Natal yang menggelar “Malam Pesona Mandailing Natal” di panggung Teater PRSU, JL.Gatot Subroto Medan, beberapa waktu lalu Selasa malam 28 Maret 2017 saat itu. disaksikan oleh Ratusan hingga ribuan pasang mata drama kolosal “Asal-Usul Marga Nasution” persembahan dari Jeges Art Production yang didatangkan langsung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab Madina di Kota Panyabungan siap mengungkap kesaktian Sibaroar sang pemilik marga Nasution yang sakti.

 “Nasution” merupakan marga bagi masyarakat Mandailing yang sudah cukup familiar di Indonesia khususnya di tanah batak, Tapanuli dan Mandailing Natal di Provinsi Sumatera Utara. Beberapa nama besar turut memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa, politik, jagad hiburan, pedagang, pengusaha, budayawan, pejabat negara, tokoh pers, cendekiawan dan yang lainnya sudah cukup banyak berhasil membawa Mandailing Natal atau yang bermarga Nasution di kancah Nasional dan Internasional.

Sutan pulungan (Raja pulungan) bersama permaisurinya (Ratu) resah sejak awal menikah selama lebih dari 3 tahun belum dikarunia keturunan yang akan mewarisi kerajaan mereka. Raja dan Permaisuri bingung dan khawatir siapa yang akan menggantikan raja berikutnya. Berbagai macam carapun dilakukan guna memperoleh keturunan yang nanti akan menjadi penerus tahta sang raja.

Raja dan permaisuri tak hentinya berdoa dan berharap kepada sang pemberi kehidupan untuk memberikan anak kepada mereka. Hingga tiba suatu hari raja dan permaisuri mendatangi sebuah tempat yang juga sering mereka kunjungi bersama dayang-dayang, dan prajurit Sopo godang (istana) ke hutan untuk memburu yang lokasinya juga cukup dekat dengan aliran sungai Batang gadis.

Tiba-tiba suara tangis bayi terdengar dari arah yang berlawanan yang juga didengar oleh dayang-dayang dan raja. Namun sebelum bayi tersebut diketahui, sosok perempuan berpakaian putih dengan rona wajah putih pucat berpenampilan anggun dan cantik sempat menampakkan dirinya sekilas mata. Menurut perkiraan bahwa wanita itu merupakan bunyian pemilik bayi yang sengaja ia tinggalkan di sudut hutan. Permaisuri segera membawa bayi tersebut dan kemudian dibawa ke Sopo godang untuk diasuh dan dijadikan sebagai anak dan diberi nama Sibaroar.

Setelah beberapa hari Sibaroar tinggal di kerajaan dan menjadi anak dari raja dan permaisuri. Hingga pada akhirnya permaisuri dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sutan Diaru.

Sutan Diaru dan Sibaroar semakin akrab. Saat usia mereka tepat 10 tahun, Raja mengajak Sibaroar dan Sutan Diaru untuk berburu ke hutan. Kebiasaan berburu raja memang tak diragukan lagi dan sudah diakui oleh kerajaan-kerajaan lainnya. Hanya saja, Sutan Diaru tidak mau diajak berburu karena anak kandungnya cenderung manja. Atas semangat Sibaroar, Raja Pulungan mengajaknya untuk ikut berburu dan disinilah Sibaroar belajar berburu.

Hingga pada akhirnya kegelisahan menghampiri pihak kerajaan. Sebab, Sibasor (Sang pemilik kekuatan spiritual dari kerajaan) meminta kepada pihak kerajaan untuk memberikan sesembahan berupa anak laki-laki. Meskipun raja menyukai karakter Sibaroar, tentu dia tidak akan mengorbankan anak kandungnya untuk dikorbankan.

Pihak Kerajaan akhirnya menyusun sejumlah cara untuk menjebak Sibaroar dan dijadikan yang akan dijadika sebagai tumbal. Hanya saja, Sibaroar tidak cukup mudah untuk ditaklukkan dan dijebak. Sibaroar, memiliki daya tahan tubuh yang cukup bagus dan tingkat kemampuan dalam berpikir yang tidak dapat disepelekan. Hingga tiba saat Sibaroar akan dijadikan tumbal, ia berencana untuk menjebak para penjaga.

Sutan Diaru dan Sibaroar memiliki kemiripan dalam hal tinggi badan dan bentuk wajah. Hal ini yang membuat pengawal merasa terkecoh. Dengan otak cerdas yang dimiliki oleh Sibaroar, salah seorang dayang yang ia panggil dengan Umak di lingkungan kerajaan mengajaknya untuk bersembunyi ke hutan belantara yang dekat dengan aliran sungai Batang Gadis. Sebelumnya, Sibaroar sudah tertukar dengan anak raja, Sutan Diaru. Itulah sebabnya Sibaroar dan salah seorang dayang tersebut sembunyi ke hutan.

Sutan Diaru telah menjadi tumbal. Namun, pihak kerajaan terus mencari. Hingga saat Sibaroar tiba di tepi sungai Batang Gadis yang alirannya begitu deras dan bibir sungai yang begitu lebar Sibaroar melihat ibunya di tepi sungai seberang yang tidak lain adalah sorang bunyian. Ia memberi isyarat kepada Sibaroar seraya menunjuk sebuah dahan yang cukup besar agar segera menyeberangi sungai tersebut. Tak butuh waktu lama, Sibaroar beserta  satu orang dayang kerajaan segera melewati sungai besar tersebut.

Sibaroar bersama dayang berhasil menyeberangi sungai. Hingga raja, permaisuri, dan para penjaga dan pihak keamanan istana melihat saat Sibaroar dan dayang saat menyeberangi sungai. Namun, mereka tak mampu untuk melewati sungai tersebut. Dengan pasrah dan kecanggungannya, raja menyebut Sibaroar dengan sebutan, nasaktion (Si sakti/Si ajaib). Dari itu, hingga ia berumur 18 tahun, ia dinamai nasaktion. Dengan kesaktian yang dimiliki oleh Sibaroan yang dinobatkan menjadi seorang raja di kerajaan baru yang dibentuknya sendiri. Pamor Sibaroan semakin kuat dengan kekuatannya mengalahkan dua kerajaan saat perang.

Reporter                     : Rahmanuddin dan Safitri Adriani Nasution

Editor                         : Siti Arifah Syam

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles