STAN dan Kompleksitas Problematik di UIN SU

- Advertisement - Pfrasa_F

Siapa yang tidak tertarik untuk bergabung dalam dunia pendidikan berbasis keuangan negara. Demi untuk mendapatkan itu, segala kebutuhan pun dipersiapkan dari jauh hari. Mulai dari persiapan kemampuan otak dalam menjawab soal tes, kesehatan jasmani dan rohani, hingga keuangan pun diperkirakan mengenai transformasi dan akomodasi bagi peserta ujian yang berasal dari daerah yang jauh dari tempat tes. Namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi para peserta dengan semangat juang tinggi yang ingin menjadi salah satu dari 6.991 orang yang akan diterima oleh sekolah tinggi di bawah naungan Kementerian Keuangan itu.

Adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang lebih akrab disapa dan sekarang sudah berganti nama menjadi Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN di bawah lisensi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini adalah dambaan hati banyak pelajar di tanah air. Jika lulus di STAN akan banyak kenikmatan yang didapatkan, seperti jaminan uang kuliah gratis ditambah uang saku setiap bulannya, masa depan terjamin dengan peluang kerja pasti, serta menjadi orang yang unggul. Dengan demikian, segala kenikmatan yang akan disuguhkan, tidak menapik kemungkinan akan banyaknya persaingan. Jumlah peserta hingga ratusan ribu, namun kuota yang diterima hanya dalam jumlah 6.991 saja. Tentu ini tidak sebanding dan terdengar bising ditelinga para peserta.

Bukan STAN namanya kalau tidak ada kejadian menggemparkan. Kondisi jalan disekitaran tempat berlangsungnya ujian yang dapat dipastikan macet karena dipenuhi oleh kendaraan, baik itu roda dua maupun roda empat yang parkir sembarangan di area Gedung Serbaguna Sumatera Utara Jl. Williem Iskandar, pintu masuk Universitas Amir Hamzah (Unham) atau di depan Gerbang 2 dan 3 Universitas Negeri Medan (Unimed), hingga di pintu masuk UIN SU yang sampai melimpah ke jalanan di lajur yang berbeda sehingga menyebabkan kemacetan parah sampai ke pintu masuk Citraland Bagya City arah selatan.

Terkhusus di UIN SU, tentu ada larangan untuk tidak memakai pakaian terbuka dalam lingkungan kampus, tak terkecuali bagi yang non-muslim. Hanya saja banyak dari mereka yang menghiraukan peraturan yang dengan terpampang nyata dituliskan di papan besar karakteristik UIN SU di depan pos satpam dan papan informasi yang terletak di samping Aula UIN SU. Dengan menggunakan rok mini, baju dengan kerah sampai ke dada, hingga lengan baju hanya 5 cm dari ketiak masih banyak yang dengan nekad melanggar peraturan wajib bagi orang yang memasuki lingkungan kampus dan dengan perasaan tidak bersalah berjalan di sepanjang halte dan jalanan kampus.

Tahun 2017 adalah momentum bagi UIN SU untuk berikan gambaran fasilitas dan ruang belajar yang memadai. Hal itu ditunjukkan melalui Ujian Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (UM STAN) yang tahun ini kembali digelar dan menjadi salah satu penyedia fasilitas untuk peserta yang melaksanakan ujian.

Selain kemacetan disepanjang Jl. Williem Iskandar terkhusus dibeberapa lokasi ujian, pemandangan yang tidak sedap juga terlihat dari kertas berwarna putih, kuning, biru, hijau dan lain sebagainya dicampakkan begitu saja oleh orang-orang tidak bertanggungjawab. Kebanyakan kertas tersebut berisikan bimbingan belajar, dan brosur perguruan tinggi swasta.

Reporter         : Rahmanuddin

Editor             : Nurul Farhana Marpaung

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles