
Penulis: Kauria Rawia
Prolog
Aku merenung menahan penat yang berkepanjangan/ hidupku tertatih kelelahan/ mencari manusia mana yang akan kujadikan sandaran/ qalbu-ku bertanya-tanya dimanakah keadilan/ mampukah aku bertahan melewati gelombang waktu yang menderu pada siak-siak bumi yang semakin kelabu?
Kau tahu betapa lelahnya ragaku. Katanya Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan. Semua kekecewaan sudah kuterima, maka tak heran tetap melihatku berdiri walau diterpa badai pelik nan licik di ujung tanduk kehidupan. Mematung bersama siluet elok yang hanya melintas dan melirik sekilas. Meski kehampaan terus mendekap tubuhku yang ringkih dalam balutan duka kepiluan. Tahukah kamu untuk apa aku bertahan?
Baca Juga: Ibu Tidak Pulang /1/
“Tuhan tidak adil!” ucapku rutin di depan cermin kamarku. Kuluapkan segala keluh kesah yang mungkin saja dinding-dinding kamarku muak akan “ritual” yang kulakukan hampir setiap harinya. Aku sudah tak ingat sejak kapan aku mengurung diri di kamar. Aku tak tahu pula sampai kapan akan seperti ini. Depresi, stres, atau apalah namanya untuk menggambarkan kondisiku sekarang. Di saat teman-temanku riuh dan bersemangat membicarakan rencana-rencana mereka setelah tamat SMA, berkuliah di kampus impiannya masing-masing-masing. Lain halnya denganku, seakan jalan hidup suram temaram sudah terpampang jelas di ambang mata. Duduk di bangku perkuliahan menurutku hanya tumpukan cerita berkedok angan semata yang sangat sulit menjadi realita.
Hidup tanpa ada orang tua yang menemani sudah biasa kulalui, tak merasa bersalahkah mereka meninggalkan kami hanya demi keegoisan mereka sendiri dan menyisakan keharmonisan yang tak lagi berarti. Aku dan adikku, Aldan tinggal di sebuah rumah sederhana bersama nenek. Nenek yang melanjutkan kasih sayang serta peran orang tua kepada kami. Ia hanya seorang penganyam tikar rotan, kemudian dijual ke pasar dengan harga yang tak sebanding dengan proses dan waktu pengerjaannya. Walaupun begitu, semangat dan ketulusannya sangat besar demi menghidupi cucu-cucunya. Setiap dini hari nenek selalu menyempatkan untuk bertahajud. Entah doa disertai kesedihan apa saja yang ia munajatkan dan adukan pada Tuhan. Akan tetapi aku percaya kebaikan yang terjadi di hidupku tak luput dari doa-doa yang telah ia haturkan pada Sang Pencipta.
…..
Hampir sebulan aku melepas masa SMA dan ini hari pertamaku untuk bekerja di warung makan kecil kepunyaan bibiku, Bik Sumi namanya. Jujur saja keinginanku untuk berkuliah masih sangat tinggi, tetapi lagi-lagi aku harus mengalah pada realita.
“Za, kamu yakin ingin bekerja di warung Bik Sum? Bukankah kamu bilang kamu ingin kuliah? Nenek bisa usahakan cari uang pinjaman dulu untuk administrasi awal, sembari menabung untuk biaya kuliahmu ke depannya,” tanya nenek disertai batuk menahun yang tak kunjung membaik.
“Insyaallah, Alza yakin dengan keputusan Alza ini, Nek. Aldan juga butuh biaya untuk sekolahnya, apalagi kalau sudah mau masuk SMP pasti kebutuhannya semakin banyak. Tidak apa-apa Alza tidak kuliah seperti teman-teman yang lain, bukankah jalan hidup orang berbeda-beda, Nek?” ucap Alza meyakinkan neneknya.
“Ya sudah kalau memang keinginan kamu begitu. Nenek hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk masa depan kalian,” Alza mencium tangan neneknya seraya pamit untuk bekerja sekaligus mengantar Aldan ke sekolah dengan mengendarai sepeda satu-satunya.
Sore hari dengan langit berhiaskan awan altosratus yang menawan berbaris tak beraturan, membentang layaknya mahakarya Sang Pencipta. Setelah pekerjaannya selesai, Alza bergegas pulang ke rumah. Jarak yang ditempuh cukup jauh, kurang lebih 3,5 km. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan. Sesampainya di rumah ia langsung memasak untuk makan malam nanti. Ketika Alza sibuk menyiapkan makan malam, berulang kali ia mendengar batuk nenek tak seperti biasanya, kali ini lebih parah. Alza menyuruh Aldan yang kebetulan sedang berada di dapur untuk membawakan air hangat serta melihat keadaan neneknya.
“Kak Alzaaaa!!!” teriak Aldan dengan nada yang panik, ia dengan cekatan mematikan kompor dan berlari gontai menuju kamar. Cairan darah yang keluar dari mulut nenek juga mengenai lantai dan pakaian neneknya.
“Aldan, panggil Mas Sidiq sekarang! Kita harus bawa Nenek ke rumah sakit!”
Baca Juga: Titipan-Nya /1/
Editor: Nisrina Ardra Hafizha

