Oleh : Sri Wahyuni*
Setelah memperingati hari sumpah pemuda 28 Oktober lalu, Bangsa Indonesia juga baru saja memperingati Hari Pahlawan 10 November. Hari bersejarah besar bagi Bangsa Indonesia. Mengingat kembali kisah-kisah heroik para pahlawan yang mengadu nyali dan nyawa hingga menumpahkan darah demi kemerdekaan tanah air tercinta.
Dalam mengenang Hari Pahlawan, sebagai Bangsa Indonesia yang menghargai jasa perjuangan para pahlawannya, mari kita hayati makna isi kutipan puisi Chairil Anwar berjudul “Kerawang-Bekasi”.
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
Arti 4-5 ribu jiwa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang
Untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Torehan pena Charil Anwar di atas adalah pesan pahlawan kepada rakyatnya. Pesan untuk melanjutkan perjuangan yang bagi bangsa sendiri belum berarti apa-apa tanpa dilanjutkan. Meski Hari Pahlawan ini lebih ditujukan kepada tragedi pertempuran di Surabaya yang merupakan pertempuran pertama antara milisi Indonesia dengan tentara Belanda setelah kemerdekaan Indonesia dengan berbagai insiden yang terjadi, seperti insiden di Hotel Yamato dalam memperjuangkan pengibaran bendera saka merah putih, dan berkoarnya semangat Bung Tomo ketika berpidato, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya” menyorakkan pemuda-pemuda Surabaya dengan semangat tinggi, dan ditetapkanlah 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang bermula 17 Agustus 1945 bukanlah sebuah hadiah dari pahlawan yang harus dibungkus rakyatnya. Tetapi kemerdekaan itu adalah kerja yang harus kita lanjutkan. Karena kemerdekaan yang seutuhnya adalah merdeka di mata dunia dan merdeka di hati rakyatnya. Sebagai Bangsa Indonesia, mari kita bangkitkan semangat juang untuk Indonesia dan membasmi kebodohan sendiri. Rakyat yang bodoh akan menghasilkan negara yang tidak berkembang.
Lalu apa yang bisa kita perbuat sebagai pemuda penerus perjuangan?. Banyak hal yang bisa kita lakukan menebus kegagahan mereka yang sudah menjadi tulang berserakan. Khususnya sebagai pelajar, maka menjadi pelajar yang giat dan bersungguh-sungguh akan mengharumkan nama Bangsa Indonesia. Pemuda yang cerdas akan membangun negara yang maju dan bangsa yang berkualitas.
Selain dukungan dari pemuda bangsa, kemerdekaan bangsa akan berjaya apabila ditopang pemimpin yang jujur dan berloyalitas tinggi. Bangsa yang sibuk dengan urusan sendiri akan melupakan orang-orang yang dipimpinnya dan lahirlah negara liberal yang sangat bertolak belakang dengan status yang tengah dianut Indonesia yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Para pahlawan peduli terhadap Indonesia dengan berkorban nyawa demi kemerdekaan, lalu kita sebagai penikmat kemerdekaan, apa yang sudah kita korbankan?
*Penulis adalah mahasiswa UIN SU Fakultas Dakwah dan Komunikasi semester III

