Jojo, Ku Gantungkan Harapanku di Pundakmu

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: www.google.com

Penulis: Ahmad Liwaul Hamdi

Melamun, hanya itu yang bisa aku lakukan setelah melaksanakan Ujian Nasional tingkat SLTA. Aku tidak tahu apakah setelah tamat sekolah aku akan melanjutkan pendidikan atau tidak. Hatiku berkata ingin, tetapi melihat keadaan kedua orang tuaku yang juga menanggung biaya sekolah adikku membuat aku terpaksa mengurungkan niat untuk kuliah.

Hari-hari berikutnya aku lalui dengan berbagai kegiatan, mulai dari menggantika orang tuaku di sawah sampai menyiapkan makan malam agar ketika sampai di rumah keduanya bisa langsung makan dan beristirahat agar tenaga keduanya pulih  melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.

Tibalah saatnya hari yang ditunggu-tunggu, hari pertama masuk sekolah untuk Tahun Ajaran baru, semua teman bersiap untuk pergi ke sekolah yang diinginkannya, begitu juga dengan adikku satu-satunya yang sedang berkemas untuk pergi ke sekolah. Dia tampak sangat bahagia bisa masuk ke sekolah pilihannya, tapi apalah daya ku yang hanya bisa menyimpan perasaan sedih karena tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi..

Setelah adikku pergi sekolah, Aku dan kedua orang tuaku bergegas pergi ke sawah untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah menanti di sana. Sesampainya di sawah, kami langsung bekerja dengan semangat agar cepat selesai dan  bisa kembali ke rumah lebih awal. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, aku memanggil ayah dan  ibu untuk beristirahat sambil makan dan melaksanakan salat berjamaah di gubuk kecil, yang menjadi pelindung kami dari sengatan matahari dan dinginnya hujan.

Beberapa saat kami duduk sejenak setelah menyantap makanan favoritku yaitu semur jengkol. Setelah terasa cukup istirahat, kami kembali melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Waktu berlalu dengan cepat, karena keasyikan bekerja sambil bercengkrama, suara azan mulai terdengar, hingga menghentikan aktivitas kami, dan bergegas menuju gubuk kecil  melaksanakan kewajiban seraya membereskan perlengkapan yang dibawa untuk menuju rumah.

“Senang sekali bang, teman Jojo bertambah banyak Bang,” ungkap Jojo dengan perasaan gembira.

“Tadi di sekolah kalian belajar apa Jo?,” tanyaku penasaran.

“Kami masih perkenalan aja bang, belum ada belajarnya,” jawabnya.

“Kamu belajar yang rajin ya dik, supaya bisa banggain orang tua kita,” nasihatku.

“Iya bang,” jawabnya singkat.

“Kamu sekolah yang serius, jangan hanya main-main di sekolah. lanjutkan cita-cita abang yang terhenti,” tambahku.

Sakin asyiknya bercerita, kami tidak sadar azan magrib berkumandang  menyadarkanku untuk segera berwudu dan melaksanakan salat berjamaah.

Waktu berlalu begitu cepat, sekarang Jojo, adikku sudah menginjakan kakinya di kelas XII SMA, dan menandakan dia akan lulus dan membuat Jojo berkeinginan untuk kuliah.

“Emak, Jojo ingin melanjutkan pendidikan ke kota ya,” ucap adik saya.

“Nak, emak bahagia jika Jojo kuliah, tapi kami tidak bisa membiayainya Jo,” ucap emak dengan nada yang lemah.

“Hmm, tapi Jojo tetap ingin kuliah mak, nanti di kota Jojo akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mak,” ujar Jojo.

“Kalau hati kamu kuat untuk kuliah silakan nak, kami hanya bisa bantu seadanya,”

“Iya mak,” sahut Jojo

Tibalah hari yang ditunggu oleh Jojo, hari ini dia akan berangkat ke kota. Sebelum berangkat tidak lupa dia minta izin kepada ayah dan ibu.

“Ayah, ibu. Jojo berangkat ya, doakan Jojo bisa mengikuti perkulihan di sana dan semoga Jojo baik-baik saja di sana,” ujarnya.

“Iya nak, setiap doa kami tidak akan lepas menyebut nama mu,” ujar ayah.

“Jaga diri di kampung orang ya nak, jangan asal pilih teman, salat jangan ditinggalkan nak,” ucap emak sambil meneteskan air mata.

“Jo, kamu jangan sia-siakan kesempatan ini ya, abang sudah berkorban demi Jojo agar bisa terus melanjutkan pendidikan,” ujarku dengan perasaan sedih.

“Iya ayah, emak, dan abang. Aku akan selalu ingat pesan kalian. Dan aku akan melanjutkan mimpi abang,” balas Jojo

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Sekarang Jojo sudah lulus dan berhasil mendapat gelar yang di idamkannya yaitu Sarjana Ekonomi. Dan kini dia sudah bekerja di bank ternama di kota tempat dia kuliah. Dengan modal itu dia mengajak keluarganya untuk tinggal di kota bersamanya.

Editor: Siti Arifah Syam

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles