Kado Buat Rara

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto : Google
Foto : Google

Oleh : Rahmi Irada Lubis*

“Din, aku nggak mau tau… kamu harus datang di acara ulang tahunku. Oke?” kata Rara dengan nada mengancam. Dinda tersenyum lebar menanggapi ancaman sahabatnya tersebut.

“Iya Ra, aku usahakan datang kok.”

Sebenarnya tidak ada alasan bagi Dinda untuk tidak menghadiri undangan di hari istimewa Rara yang akan diadakan minggu depan itu. Hanya saja, Dinda sedikit bingung. Ia belum mempersiapkan kado buat Rara. Rasanya Rara telah memiliki segala yang ia mau. Bagaimana tidak, Rara termasuk berasal dari keluarga yang berkecukupan dan terlebih lagi dia adalah anak tunggal. Dinda tau betul bagaimana indahnya hidup menjadi seorang Rara yang dapat memiliki apapun yang ia mau. Berbanding terbalik dengan kehidupannya yang serba pas-pasan. Walau begitu, Dinda tidak pernah iri pada Rara. Dinda selalu bersyukur atas apa yang ia miliki. Karena itulah, Rara sangat mengagumi Dinda dan bangga menjadi sahabatnya.

Dinda ingin sekali memberikan sesuatu yang berkesan dan berharga buat Rara. Namun, lagi-lagi ia dilanda kegundahan. Apa dan bagaiman ia bisa membeli kado itu, dengan uang saku yang seadanya ia sisihkan sebagian untuk kado Rara dan rasanya itu masih tidak cukup. Dinda ingin membelikan Rara sebuah boneka panda, untuk melengkapi koleksi milik Rara. Tapi sayang, harga boneka itu jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan. Uangnya tidak akan cukup. Dinda kini terlihat lesu dan mulai berputus asa.

“Kenapa Din? Kok murung gitu?” Rara menghampiri  Dinda yang asyik merenung sendirian di bawah sebuah pohon saga dekat kantin sekolahnya.

“Hah.. enggak, enggak apa-apa kok Ra,” sentak Dinda sedikit terkejut akan kedatangan Rara.

“Ehh, gelang baru yah Din? Bagus banget, beli di mana?” Rara meraih pergelangan tangan Dinda.

“Ini? Enggak beli kok Ra, aku buat sendiri lagi.”

“Hah.. beneran Din? Bagus banget loh,” Rara tersenyum lebar.

“Makasih,” Dinda merasa tersanjung atas pujian sahabatnya itu. Bel tanda dimulainya jam pelajaran pun berbunyi dan keduanya beranjak menuju kelas bersama.

Sepanjang hari Dinda memandangi benda yang ada pergelangan tangannya itu. Ia merasa sangat senang karena Rara memuji hasil karyanya. Walaupun Dinda sendiri beranggapan gelang itu sangat biasa saja. Jelas berbeda dengan gelang-gelang yang biasa dikenakan Rara, mewah dan pastinya mahal.

Hari terus berganti, dan hari istimewa bagi Rara itu pun tiba. Taman yang berada di belakang rumah Rara tampak ramai dan indah dengan berbagai pernak-pernik dekorasi taman. Rara tak kalah indahnya, ia memakai gaun berwarna merah muda. Senyumnya terus merekah, semakin membuatnya tampak cantik. Dinda sangat senang melihat Rara tampak bahagia, namun di satu sisi ia juga khwatir dengan kado yang ia bawa. Ia merasa kurang percaya diri dengan apa yang akan ia berikan untuk sahabatnya itu. Dinda takut Rara akan kecewa saat melihat apa yang ia bawa. Teman-teman mereka yang lain membawa kado dengan ukuran yang besar, berbeda dengan apa yang dibawa Dinda. Hanya sebuah kotak kecil yang dapat digenggam dengan sebuah telapak tangan saja.

Acara berjalan dengan meriah. Rara dan teman-temannya bergembira, menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” bersama-sama. Satu persatu para tamu undangan mengucapkan selamat dan mendoakan Rara.

“Selamat ulang tahun yah Ra.. semoga kamu selalu dalam keadaan sehat dan dilindungi oleh-Nya,” ucap Dinda memeluk Rara.

“Makasih yah Din.. aku senang banget kamu bisa datang,” senyum Rara semakin mengembang.

“Ra.. ini buat kamu, mudah-mudahan kamu suka yah,” Dinda menyodorkan kado yang sejak tadi ada digenggamannya.

“Wah… sekali lagi makasih yah Din, aku buka yah?” sambut Rara.

“Jangan Ra.. jangan sekarang dong, nanti aja yah!” pinta Dinda. Rara mengangguk tanda setuju.

Entah kenapa Dinda masih saja merasa ragu dengan kado yang ia berikan. Sambil terus memperhatikan benda yang terus ia pakai dipergelangan tangannya itu, ia menghela napas panjang. Tiba-tiba saja Rara menghampiri Dinda, tepat di depannya. Rara menunjukkan pergelangan tangannya sambil tersenyum riang.

“Din.. makasih yah gelangnya, bagus benget nih,” katanya sambil terus memainkan pergelangan tangannya itu.

“Kamu suka Ra? Kamu enggak marah aku kasih gelang yang sama persis dengan punyaku?” Tanya Dinda dengan nada cemas.

“Yah enggak-lah Din, aku senang banget malah. Kan kamu buatin ini khusus buat aku, ini bakalan jadi gelang favorit aku,” jawab Rara dan keduanya pun tersenyum. Kini Dinda merasa lega karena apa yang ia berikan ternyata sangat disukai oleh sahabatnya. Benda yang ia anggap biasa saja, ternyata berharga bagi Rara.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles