
Oleh : Annisa Mahzura*
Terlalu sakit ketika seorang anak melihat anggota keluarga terdekat sedang dalam masalah yang besar. Tapi, aku bisa apa, apa yang bisa dilakukan untuk anak berumur 7 tahun yang melihat kakak kesayangannya diikat bahkan dipasung di depan matanya. Tidak ada yang dapat dilakukannya selain menangis, mengelus pipinya setiap hari, mengacak rambut tebalnya dengan ramah. Itu yang mampu di lakukannya sejak dulu untuk kakak kesayangannya.
Aku anak biasa dari keluarga biasa, yang terlahir tidak pernah melihat sosok ayah, tapi aku yakin yang namanya seorang ayah itu pasti sangat baik, karena ibu sering menceritakannya kepada kami. Walaupun aku tidak pernah marasakan kasih sayang ayah yang hangat seperti cerita-cerita ibu, aku tidak pernah menyesal karena terlahir tanpa ayah sepanjang hidupku, karena aku memiliki kakak laki-laki yang sangat sayang padaku dan ibu. Kak Dion selalu berusaha menjadi sosok yang bisa melindungi kami, kak Dion juga berusaha menjadi kakak yang sangat baik untukku, meski dengan badan kecilnya dia selalu menjadi jagoanku ketika orang-orang menghina dan menjauhiku. Jadi, aku tidak pernah kekurangan apapun sampai detik ini, karena kak Dion akan selalu berusaha untuk menutupi kekurangan apapun itu.
Sejak kecil aku lebih banyak di urus oleh kak Dion, karena ibu yang harus bekerja demi kami siang dan malam, itu membuat aku dan kak dion jarang bertemu dengannya. Meskipun begitu, ibu selalu menyempatkan untuk bertemu dengan kami setiap pagi sebelum kami berangkat ke sekolah.
Aku memang tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah, tapi ibu dan kak Dion memberikan aku kasih sayang yang mampu menutupi semuanya. Dua orang yang sangat aku cintai didunia ini, dua orang yang mampu membuat aku tegar sampai detik ini. Meskipun sosok mereka tak lagi selalu menemani hari-hariku, tapi paling tidak aku yakin mereka selalu mendoakan aku.
Dari 20 tahun yang lalu ayah telah meninggalkan aku karena sakit yang dideritanya dan sudah 13 tahun aku merayakan ulang tahunku berdua di tempat ini setiap tahunnya. Saat Ibu meninggal dunia, aku merasa dunia berhenti, tapi waktu tetap berjalan. Ibu meninggalkan aku di dunia yang kejam ini, dunia yang penuh dengan keegoisan dan keangkuhan, tapi aku bertahan karena semua nasehat dan kata-kata ibu masih utuh dalam benakku, dan paling tidak aku masih mempunyai seorang kakak yang sangat luar biasa yang ada di sampingku saat ini. Meskipun kak Dion tak seperti dulu, meskipun kak Dion tak mengenaliku dengan benar, dan tak lagi mampu melindungiku, namunaku sangat bersyukur Tuhan masih membiarkan kak Dion untuk menemaniku di dunia ini.
— FlasBack—
Semenjak kabakaran yang kami alami 13 tahun yang lalu, Tuhan memisahkan kami dengan ibu untuk selamanya. Ibu mengalami luka bakar hampir 95 persen, dan kata dokter, ibu takkan bertahan dalam 24 jam, itu yang ku dengar dari salah seorang tetangga yang membantu ibu ke rumah sakit, karena saat itu aku juga dalam keadaan yang tidak sadarkan diri. Ketika aku bangun, hal pertama yang membuat aku putus asa, aku kehilangan kedua kakiku.Kakiku terbakar, sampai dokter harus memotongnya. Itu juga cerita yang ku dengar. Saat itu, untuk anak yang berumur 7 tahun, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan, aku punya cita-cita untuk masa depan ku, tanpa kedua kaki ini, cita-citaku akan berantakan, bahkan hancur. Sakitnya, saat itu membuat aku lupa dengan kakak dan ibuku. Sudah hampir 3 hari aku berada dirumah sakit, aku tersentak ketika seorang anak yang lebih muda dari ku memanggil nama ibu, dengan spontan aku menjerit memanggil nama ibu dan kak Dion sampai berkali-kali, sampai suster yang merawatku tiba dan menanyakan mengapa aku berteriak hingga sekencang itu ‘ada apa Dian, apa kamu merasa sakit’, tanyanya dengan panik. ‘Ibu dan kakak, dimana mereka?’, airmataku terus mengalir, firasatku mereka dengan keadaan yang tidak baik.
Saat suster menjelaskan secara perlahan, dan mencoba menenangan aku dengan kepanikanku yang luar biasa, dia membawaku ke pemakaman ibu, dan aku hanya sanggup memandanginya dari kursi roda yang menghalangiku untuk berada dibawah sana, rasanya aku ingin bertemu sekali lagi untuk terakhir kalinya, aku ingin ingin memeluknya Tuhan. Menjerit dalam hati saat itu yang bisa ku lakukan, rasanya ini lebih sakit dari ketika aku mendengar kakiku dipotong.
Suster kemudian membawaku ke tempat kakakku yang juga dirawat di Rumah Sakit yang sama denganku. Sepajang perjalanan menuju Rumah Sakit, aku hanya berdoa agar kesedihan dan kesakitanku saat ini tidak bertambah dengan keadaan kakak. Karena suster tidak mau memberitahuku sebelum aku bertemu dengan kak Dion secara langsung.
Tiba di depan pintu ruangan kak Dion, suster berkata ‘jangan tanyakan hal yang mampu membuatnya sedih, dan jangan dulu katakan tentang ibu kalian’ suster itu memberi jari kelingkingnya, sebagai simbol perjanjian, agar aku mengikuti intruksinya. Tanpa berkata apapun, aku langsung memberi jari kelingkingku juga. Dan dia langsung mendorong kursi rodaku masuk ruanga.
Aku menarik nafas sangat panjang. Aku tak mampu mengekspresikan kesedihan seperti apalagi hari ini untuk kak Dion. Sudah 3 pagi belakangan ini aku bangun dengan airmata dan kesedihan dalam, dan aku tidak tahu lagi seperti apa pagi besok ketika aku bangun dari tidurku, karena hari ini aku sudah mengetahui begitu banyak kesedihan yang dalam, dari Ibu yang sudah meninggal dunia, dan sekarang aku melihat kakak kesayanganku terbaring lemah tak berdaya tanpa bantuan alat-alat keras itu. Saat suster berkata bahwa dia akan meninggalkan aku berdua diruangan kak Dion, aku langsung menangis dan memanggil-manggil namanya ‘kak, kak, kak Dion’, aku tak tahu apa yang namanya hidup untuk sekarang ini. Aku sendiri tanpa kaki, ibu yang sudah beda dunia dengan ku, dan sekarang kak Dion bernafas tapi seperti tak bernyawa. Saat ini memandanginya adalah kenyamanan tersendiri yang bisa ku lakukan. Mengunjunginya setiap waktu sebisa yang ku lakukan. Paling tidak aku sedikit berguna ketika dia tak menyadari ada aku disini.
‘Kak, aku rindu kita sekolah lagi, aku rindu kakak yang berkelahi karena membelaku, dan aku rindu pandangan mata indah kakak.’ Berdialog sendiri, yang sering aku lakukan. Iyaa, karena aku memang merasa rindu dengannya, aku rindu sekali dengan pahlawanku yang satu itu. Aku tersenyum ketika teringat kakak yang ketauan mencontek saat ujian, ‘apa kakak masih ingat dengan kejadian itu, akan ku ceritakan singkat ya kak’. Sepanjang aku cerita, kak Dion tidak memberi respec apapun, seperti yang di katakan suster, jika aku selalu bercerita yang lucu-lucu, kak Dion akan memberi respec dan itu belum terjadi. Tarikan nafas panjang yang selalu ku lakukan, yang didalamnya ada harapan bahwa kakak akan bangun dan tersenyum lagi. Bersama kita taklukkan dunia, yaa kata-kata yang selalu kak Dion katakan padaku ketika aku menangis.
Hari ini minggu ke-4 kami dirumah sakit, tak ada yang menjenguk selama ini, selain suster dan dokter yang menangani kami berdua. Tapi aku tidak heran, karena memang kami tak punya siapa-siapa. Dan entah kenapa hari itu, pagi-pagi aku sudah di bawa oleh suster ke tempat kak Dion, dan waw, aku melihat kak Dion sudah terbangun dari tidur panjangnya. Tapi ketika aku mendekat dan mencoba ingin memeluknya, dia malah seakan tak mengenaliku, dan malah menjauh seperti melihat orang cacat yang asing. Ku kira itu karena kondisiku yang seperti ini, tapi setelah ku pikir-pikir,aku mengenali seseorang itu dari wajahnya bukan kaki atau tangannya, tapi mengapa dengan kak Dion. Saat itu juga dokter yang merawatnya langsung memeriksa keadaannya, dan mamberi tahuku bahwa keadaan kak Dion tak seperti dulu, bahkan sangat jauh dari kesehatannya dulu.
Keputusasaanku datang lagi dan bahkan sekarang semakin besar dan menjadi-jadi. Entahla, anak berumur 7 tahun ini mengalami masalah sebesar ini, membuat aku membenci hidupku. Saat aku tahu kak Dion terkena komplikasi penyakit bagian saraf, dia tidak akan mengingat apapun lagi, dan lebih mengarah pada depresi berat, itu membuat kak Dion harus di rujuk ke RSJ, dan aku tak dapat melakukan apapun, aku pasrah apapun yang terjadi saat itu.
Semenjak kak Dion di bawa dan dirawat di RSJ, aku diasuh oleh suster dan dokter yang merawatku, mereka menyekolahkan aku, bahkan mereka mengoperasi kakiku, dan ketika aku berada di tingkat SMA, aku sudah memiliki kaki palsu. Walaupun tak senyaman memiliki kaki asli, tapi paling tidak aku mampu berdiri dan berjalan sendiri. Suster dan dokter itu ternyata suami istri, mereka memang sudah lama berencana untuk mengasuhku, semenjak dirumah sakit. Aku tidak pernah absen menjenguk kak Dion setiap minggu. Minggu ini aku bisa menjenguknya dua kali, karena aku mendapat bonus dari suster yang sekarang ku panggil dengan panggilan bunda, dan dokter yang ku panggil ayah. Aku selalu menceritakan setiap episode hari-hariku dengan kak Dion. Dari dulu aku dan kak Dion memiliki cita-cita yang sama, yaitu menjadi seorang Atlet. Tapi Tuhan punya rencana lain dengan mengambil kakiku dan mengambil akal sehat kakakku. Jadi, aku putuskan untuk menjadi seorang Psikiater. Agar aku selalu bisa mengurus dan menjaga kakak kesayanganku. Dan sudah ku putuskan akan mengabdiakan diriku untuk kak Dion, pahlawanku, untuk Ibu di surga yang telah melahirkan aku, dan untuk orangtua angkatku Bunda suster dan Ayah dokter kesayanganku, yang telah bersedia membesarkan dan membiayai sekolah-sekolah kusampai aku menjadi seorang Psikiater seperti sekarang.

