
Penulis: Rika Wulandari
Angin panas siang itu terus berembus. Biasalah, musim kemarau. Tinggal di pesisir pantai memang selalu mendapatkan bonus dari Tuhan. Musim hujan kecipratan airnya, musim kemarau begini kebagian sengatan panasnya. Apalagi kalau musim pancaroba, duh.
“Parah! Panas banget, cuy!” keluh Kala sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya.
“Biasa aja kali, namanya juga pelajaran olahraga,” balasku yang disambut dengan delikan.
“Dih, yang bilang panas karena olahraga siapa? Cuacanya, Mufti …” ucapnya lalu mengelus dada pertanda menenangkan dirinya sendiri, sedangkan orang yang dimaksud—aku—hanya menggelengkan kepala dan berlalu dengan earphone di telinga.
Sepertinya kami memang tidak bisa jika tidak bertengkar sehari pun. Pertengkaran yang hari-hari terjadi bagaikan bumbu-bumbu penyedap rasa yang turut meramaikan hidupku. Senang sekali rasanya mengenal Kala. Tidak salah aku memilih teman. Kala memiliki pribadi yang baik, dia begitu memahamiku. Padahal, kami baru kenal setahun. Memang tidak menutup kemungkinan untuk saling mengenal sedekat itu dalam waktu satu tahun. Akan tetapi, jarang rasanya ada laki-laki yang begitu, kan?
Baca Juga: Kala Gila /1/
Aku dan Kala tidak sekelas, kami kenal karena bertemu di kelas peminatan seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya. Kala otentik dengan baju kotak-kotak berwarna calming, contohnya seperti hitam yang bercampur dengan putih dalam satu baju. Kadang-kadang ia berkacamata, kadang lagi tidak. Sesuai mood-nya saat menemaniku menjalani hari-hari di perkuliahan. Tak perlu menanyakan aku, baju yang kumiliki rata-rata kemeja polos dengan warna hitam, paling berwarna pun mungkin abu-abu.
Berhenti, jangan mengasihaniku.
Hari ini kuliahku selesai dengan cepat. Aku memiliki waktu lebih banyak untuk sekadar bermain pasir di pinggir pantai. Ya, bersama Kala. Tadinya ingin mengajak teman yang lain, tetapi aku mengurungkan niatku karena takut mereka menolak. Selama ini aku tak pernah dekat dengan teman-teman sekelas, jadi canggung rasanya jika tiba-tiba harus mengajak mereka ke pantai untuk sekadar menghabiskan waktu pulang. Banyak dari mereka anak organisasi, bukan kuliah-pulang-kuliah-pulang seperti aku ini. Jadi, aku yakin mereka pasti sibuk sekali.
“Mufti, sini bantu Ibu sebentar!” Aku mendengar teriakan dari jauh, kulihat ibu membawa ember besar di hadapannya. Biar kutebak, mungkin ibu habis pulang dari Pasar Apung untuk membeli ikan.
“Kal, kutinggal sebentar, ya!” ucapku sedikit keras karena sedikit jauh dari Kala, yang kemudian dibalas anggukan serta jempol tangan kanannya.
“Daripada diam-diam sendiri di situ, mending kamu bantuin Ibu,” tutur ibu sambil menyerahkan ember berisi ikan-ikan segar yang ditangkap nelayan.
“Aku tidak sedang sendirian, kok, Bu,” ucapku mengoreksi perkataan ibu.
“Iya, baiklah. Kamu tolong antarkan ini ke rumah dulu, ya, kemudian pergilah ke mana pun kamu akan bermain,” tutur ibu yang kusahuti dengan kedipan mata dan berlalu meninggalkan ibu yang kembali ke kumpulan temannya.
Tak lama aku berjalan, ibu memanggil lagi, “Oh, iya, Ti. Pisahkan ke baskom kecil, lalu masukkan kulkas, ya!” titah ibu. Aku mengangguk lagi dan pergi ke rumah untuk segera kembali ke pendopo di pinggir pantai.
Lekas aku selesaikan perintah ibu agar Kala tidak menunggu lama. Hampir lupa, aku juga ingin mengambil earphone-ku yang tadi tertinggal di kamar tidur. Ini earphone kesayangan meski kini talinya hanya berfungsi satu. Aku mengambil dua roti abon sekaligus di atas meja untuk dimakan sambil menghadap pantai.
Baca Juga: Titipan-Nya /1/
Editor: Syahda Khairunnisa

