
Penulis: Rika Wulandari
Pertemuan sore ini hanya sebentar, temanku itu terlihat sangat buru-buru.
“Aku tak bisa lama-lama, Ti, ke sini cuma mau nyamperin sebentar aja. Nanti malam ketemu di rumahmu, ya, bye!” Belum sempat aku menjawab, Kala sudah berlalu dari pandangan. Huh.
Langit hampir gelap, matahari sudah turun separuh. Aku harus pulang karena sebentar lagi waktu malam. Kuambil barang-barangku di pondok dan bergegas kembali ke rumah. Aku singgah ke pasar sebentar untuk menjemput ibu. Ia memang sering menghabiskan waktunya di pasar jika sore hari.
“Bu, nanti malam katanya Kala mau ke rumah,” kataku pada ibu di perjalanan.
“Lalu?” sahut ibu. Aku mengerutkan dahi aneh, biasanya ibu gembira sekali jika aku membawa teman.
“Oh, tidak apa, Bu. Hanya ingin mengabari ibu saja,” ucapku lagi, kemudian ibu hanya memandangku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Aku menghalaunya, ibu selalu begitu setiap aku membicarakan soal Kala. Setelah itu tidak ada pembicaraan apa pun lagi sampai kami tiba di rumah dan segera membersihkan diri.
Hari sudah malam. Selepas aku keluar dari kamar sehabis berberes, kulihat Kala sudah di ruang tamu bersama ibu.
“Kal, sudah lama?” tegurku ramah hingga menjadikan ibu dan Kala menoleh bersamaan.
“Eh, kamu sudah selesai? Makan dulu, Ti, di dapur ada ikan sambal,” kata ibu setelah melihatku menutup pintu. Ia menawarkan aku makan, tapi tidak kepada Kala. Ibu terlihat kejam, tetapi aku pun tetap meng-iyakan kata-katanya. Kala yang tadinya hanya menoleh saja, kini bangkit dan menghampiriku.
“Ti, aku mau bicara. Di dalam boleh?” Aku mengangguk dan izin masuk ke kamar lagi pada ibu, kemudian kami berdua meninggalkan ibu sendiri di ruang TV.
“Mau bicara apa, Kal?” Aku membuka pembicaraan lebih dulu, sebab kelihatannya ini serius.
“Ti, aku rasa ini sudah waktunya,” kalimat gamang itu tiba-tiba keluar dari bibir Kala, entah apa maksudnya.
“Maksud kamu?” tanyaku bingung dan menukikkan alis. Siapa pula yang tidak bingung dengan kalimat seolah-olah perpisahan itu?
“Ti, baiknya kamu sadar. Aku ini tidak pernah ada, tidak nyata,” ucapan Kala semakin membuatku bingung, “Ti, aku ini hayalanmu, puncak dari rasa keinginan hatimu untuk memiliki teman setelah kepribadian ‘menyenangkan’ milikmu hilang. Belum, kah, kamu menyadari itu?,” ucapnya panjang-lebar.
Apa-apaan Kala ini? Dia mengawur terlalu jauh. Mana mungkin orang sejelas di depanku ini hanya hayalan katanya?
“Kala, kita teman. Mana mungkin kamu itu khayalan—“
“Aku ini bayangan. Sikap menyenangkanmu dulu adalah aku, persis. Kamu merindukan sikap dan sifatmu yang hangat ke sekeliling dan sekitar, tetapi kamu ragu untuk memulainya lagi. Sehingga, kamu membayangkan kalau dirimu yang itu benar-benar hidup dengan memberikan penggalan namamu sebagai panggilanku,” Dia memotong pembicaraanku dengan begitu panjang. Aku ingin menyahut lagi tetapi dia melayangkan lima jari depan wajahku, pertanda aku disuruh berhenti.
Tak lama, kulihat ia perlahan memudar dan menghilang.
“Sadarlah, Mufti Atkala. Dunia nyata tidak begitu menyeramkan jika disambut dengan antusias. Terima mereka dengan ikhlas, bertemanlah dengan teman-temanmu di kelas,” Suara itu menggema di seluruh penjuru kamar. Suara Kala masih terdengar jelas, tetapi orangnya tidak ada. Aku memutar-mutar mencari asal suara, hingga kutemukan lagi Kala di depan pintu, samar-samar.
“Aku senang melihat sifat dan sikapmu kembali. Pertahankan kepribadian yang hangat itu, jangan ciptakan khayalan yang lain lagi. Hiduplah sebagai Mufti sekaligus Kala yang kamu inginkan sejak setahun kemarin. Mufti Atkala, bahagiakan dirimu dan ibumu. Sungguh, hanya kamu yang mengerti itu,” itu adalah kalimat terakhir yang kudengar dan kulihat keluar dari bibir Kala sebelum dia benar-benar menghilang.
Iya, dia adalah diriku sendiri yang katanya hanya ilusiku. Seakan tidak percaya, aku menampar-nampar pipiku sendiri untuk memastikan kalau ini mimpi. Namun, ini sakit. Aku keluar dan meminta ibu untuk memukulku dengan keras pun tetap terasa sakit.
Aku benar-benar berilusi setahun kemarin.
Aku menangis sejadi-jadinya di pangkuan ibu karena menyadari pernah merutuknya yang tidak peduli dengan sahabatku. Padahal, ibu memang tidak melihatnya. Maaf, Bu, kemarin anakmu tidak sadar sejauh itu.
~TAMAT~
Editor: Annisa

