Kau Bisa! /3/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Dina Febriyanti)

Penulis: Siti Asyaroh

“Ibuuu,” panggil Risa dengan mata berkaca-kaca. Rani kembali memeluknya dengan erat, seolah pelukan itu tak akan pernah bisa lepas. Rani tak tahan membendung air mata, hingga akhirnya ia pun menangis. “Semua akan baik-baik saja Nak, tenanglah, hati-hati dijalan.”

Kereta api akan segera berangkat, Risa pun segera naik. Risa menatap ibunya dari jendela kereta seraya melambaikan tangan. Hati Risa terasa perih, ia akan berpisah dari ibunya. Namun ia harus terlihat tegar, ia tak mau mengecewakan ibunya.

Risa telah sampai di kota Medan dan dijemput oleh bibinya. “Ayo Nak, kita ke rumah Bibi,” sapa bibi Risa ramah. 

Satu bulan berlalu, Risa masuk ke sekolah barunya dan berkenalan dengan teman-temannya. Risa sangat senang, ternyata teman-teman barunya sangat baik. Ia pun mengikuti pelajaran seperti biasa walau masih ada rasa khawatir dalam dirinya.

Tiga bulan berada di sekolah baru, Risa mendapat kepercayaan dari seorang guru Tahfidz untuk mengikuti lomba menghapal 10 juz Al-Qur’an mewakili sekolahnya. Tentu Risa terkejut mendengarnya. Ia merasa tak pantas menjadi perwakilan sekolahnya. Pada dasarnya, Risa adalah anak yang pintar dan memiliki daya ingat yang kuat. Namun, semua itu tersembunyi oleh ketidakpercayaan dirinya.

“Maaf Pak, saya tidak dapat mengikuti lomba ini,” tolak Risa.

“Kenapa Nak?” Tanya gurunya heran.

“Saya merasa tidak pantas menjadi perwakilan sekolah kita Pak, saya ragu dan saya gugup saat tampil,” jelas Risa.

“Risa, kamu ini sedang belajar, jadi wajar saja kamu merasakan seperti itu. Semakin sering kamu mengikuti lomba maka semakin terbiasa pula untuk tampil di depan umum. Kamu juga berpotensi dalam bidang menghafal Al-Qur’an, maka gunakan kelebihan itu dengan baik. Saya harap kamu tidak menolak lomba ini,” nasehat guru Risa.

Sesampainya di rumah Risa menelpon ibunya dan menceritakan perihal lomba iu ke ibunya.

“Nak, orang yang berani adalah orang yang merasa takut tetapi ia memilih untuk terus melangkah.”

Seketika perkataan ibunya membuat Risa semangat dan akhirnya ia pun mengikuti lomba itu. Setiap hari ia mengulang hafalan yang pernah ia hafal saat berada di SMP. Tak lupa di sepertiga malam ia sholat tahajud memohon kepada Allah agar hatinya tenang. 

Dua minggu berlalu, Risa pun diantar oleh gurunya untuk mengikuti lomba itu. Tangannya dingin, perasaannya cemas. Ingin rasanya ia menangis. Ia terus beristighfar. Tak lama, nomor  peserta Risa pun dipanggil. 

Penampilan Risa cukup baik, namun ia tidak menyadari itu, ia hanya merasa lega dan pasrah apapun nanti hasilnya.

Keesokan harinya, pengumuman pemenang dibacakan. Risa kembali datang bersama gurunya. Namun, alangkah terkejutnya Risa saat namanya dipanggil ke depan sebagai juara pertama. Sebelumnya tidak ada terbesit dipikirannya untuk menang, ia datang hanya ingin mengambil sertifikat. Risa merasa sangat gembira dan setelahnya ia menelepon ibunya untuk memberitahu kemenangannya.

“Alhamdulillah… selamat Nak, akhirnya kamu bisa mengalahkan rasa takutmu, kedepannya semoga kamu lebih baik lagi. Tidak harus menang, kamu berani tampil saja itu sudah lebih dari cukup. Percayalah Nak, kamu tidak seburuk apa yang kamu kira karena nyatanya kamu bisa!” ucap ibu  memberinya semangat.

Sejak saat itu, Risa berusaha untuk tidak terlalu takut akan hal-hal yang belum terjadi. Ternyata lomba yang ia takuti sebelumnya menjadi pengalaman emas bagi Risa.

Editor: Anggia Nurulita 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles