Ketika Ayah Tak Biayai Kuliah

- Advertisement - Pfrasa_F

Oleh: Maryanti Hasugian*

Aku anak ketiga dari empat bersaudara, orang-orang biasa memanggilku Tsalisah. Ayah memberiku nama itu, katanya Tsalisah dalam Bahasa Arab artinya yang ketiga, sesuai dengan nomor urut kelahiranku dalam keluarga. Aku alumni dari pesantren favorit di Aceh stambuk 2013. Saat ini, Aku tengah menjalani Strata 1 Kependidikan di salah satu universitas Islam di Sumatera Utara, Medan.

“Assalamu’alaikum…..,” ucap suara dari ujung telepon.

“Wa’alaikumussalam..,” ucapku dengan senyum mengembang.

“Tsa, Ayah bilang kamu harus pulang secepatnya. Ayah tak sanggup lagi biayai kuliahmu, dagangannya tumpur ditambah lagi dengan kebun sayur gagal panen,” ucap suara dari ujung telepon mengakhiri.

Kabar itu seperti halilintar menyambar tubuhku. “Bagaimana mungkin Aku bisa hidup di kota metropolitan ini tanpa bantuan Ayah?,” tanyaku dalam hati. Aku menangis terpaku di atas sajadah biru pemberian Ayah bulan lalu, rindu menggebu-gebu pada Ayah. Sejenak terlintas di benakku wajah Ayah saat pulang dari kebun. Badannya letih, mukanya memelas, perutnya lapar. Biasanya Aku yang selalu mengambilkan nasi untuk Ayah dan mengoleskan balsem di badannya. Namun semua itu tidak dapat kulakukan saat ini.

***

Aku diam terpaku di depan rumah megah nan indah di kawasan Pancing dengan memeluk map hijau di tangan kananku, berharap diterima menjadi guru les anak-anak. Namun sayang, harapan itu belum terwujud. Dengan sabar Aku berjalan menuju rumah-rumah sembari menyodorkan map hijau, namun tetap saja gagal. Aku nyaris putus asa tapi mengingat Ayah yang tak sanggup lagi biaya kuliah, Aku harus bekerja keras agar bisa biayai kuliah sendiri, namun sampai saat ini Aku belum mendapatkan pekerjaan.

***

“Tolong….tolong…,” teriak seorang wanita paruh baya. Aku menghampirinya dan membantunya berdiri. Barusan sebuah angkot menyerempetnya dan berlalu.

“Terimakasih Nak,” ucap Wanita itu padaku.

“Sama-sama Bu,” balasku.

“Siapa  namamu, dan mau kemana Nak?”.

“Tsalisah, biasa di panggil Tsa. Saya sedang nyari kerja Bu”.

“Kerja apa? Di akhir bulan gini kantor-kantor tidak membuka lowongan kerja Nak? O ya, kenalkan nama Ibu, Maryam,” ucapnya sembari mengulurkan tangannya padaku.

“Saya mau mengajar anak-anak les Bu, tapi nampaknya belum dapat-dapat sampai sekarang”.

“Kebetulan, anak Saya nyari guru les untuk mengajari cucu-cucu Saya. Tapi kami tidak punya uang untuk bayar gajinya, maklumlah pekerjaannya hanya menjual jagung bakar di pinggir jalan,” ucapnya sembari menarik napas

“Ga papa Bu, Saya ikhlas. Di mana rumahnya Bu?”.

“Rumahnya di samping Rumah Sakit Haji”.

***

Hari ini Aku tidak berlama-lama di kampus, usai perkuliahan Aku langsung pulang. Biasanya Aku selalu menyempatkan diri mampir di perpustakaan walau hanya sekedar mengisi daftar pengunjung. Mengingat hari ini adalah hari pertama mengajar cucu-cucu Ibu Maryam, Aku harus segera pulang sebentar lagi azan Ashar berkumandang. Memang jam lesnya tidak ditentukan Ibu Maryam, mungkin karena jasaku yang tidak dibayar itu yang membuatnya membasskan kapan saja Aku sempat mengajari cucu-cucunya.

Ba’da Ashar, Aku langsung bergegas meuju rumah Ibu Maryam. Semua telah kupersiapkan dari kos. iqro’, sempoa dan alat tulis lainnya. Dengan bacaan basmalah diiringi niat ikhlas yang mendalam, kulangkahkan kakiku menuju angkot. Jarak rumahnya memang lumayan jauh dari kos-ku, Aku memilih jalan kaki mengingat uang yang sudah minim di kantong. Keringat mulai bercucuran, debu-debu merambat masuk ke lubang hidung, namun semua itu tidak kuhiraukan. Aku masih bersama dengan semangat yang telah kurekatkan dari tadi pagi. Langkahku terhenti saat seorang pengendara sepeda motor menanyakan alamat rumah sakit spesial saraf padaku.

“Maaf Mbak, mau numpang tanya. Mbak tahu alamat ini?,” ucap Pemuda itu dengan menyodorkan selembar kertas.

“Jl. Tuasan. Oh tahu, tapi cukup jauh dari sini,” ucapku.

“Mbak bisa antar Saya?”.

“Maaf Mas, Saya mau mengajar”.

“Tolonglah Mbak, ibu Saya tengah terbaring di sana. Baru selesai dioperasi, kata dokter ibu butuh darah dan Saya mau mendonorkan untuknya,” pinta Pemuda itu dengan wajah memelas.

Aku berpikir sejenak, menimbang-nimbang antara menepati janji dengan Ibu Maryam dan menolong Pemuda itu.

“Tolonglah Mbak, nanti Mbak Saya antar kembali ke sini. Yang penting saat ini ibu Saya bisa selamat”.

“Gimana kalau Mas telepon saja dokternya, biasanya persediaan darah ada di rumah sakit,” ucapku mengelak.

“Itu masalahnya Mbak, baterai Saya lowbat. Saya boleh pinjam hp-nya Mbak?”

Aku ragu meminjamkannya, tapi niatku adalah untuk menolongnya. Aku melihat ada yang aneh dari Pemuda ini. Ia mau pergi setelah menjepitkan hp-ku di helmnya, dan berpura-pura menelepon. Tiba-tiba Pemuda itu hendak memajukan sepeda motornya, dengan cepat Aku menghentikannya. Pemuda itu menyuruhku naik, dengan berat hati Aku pun menuruti dan duduk di belakangnya. Dalam perjalan Pemuda itu menyuruhku menulis resep-resep berbahasa medis. Aku mulai curiga, apa sebenarnya yang Ia inginkan dariku?

“Astaghfirullah,” ucapku dalam hati.

Ya Allah, jangan-jangan.. Pikiranku mulai kacau, resah dan takut. Simpang Tuasan sudah hampir kami lewati, namun Pemuda ini tidak juga belok. Rasa curiga semakin menjadi-jadi.

“Aduh.. handphone-nya jatuh Mbak,” ucap pemuda itu sembari melepas bamper handphone-ku.

“Deg…” jantungku berdetak, tebakanku benar. Ada yang tidak beres dari Pemuda ini.

Pemuda itu menyuruhku turun, dan Aku menolaknya. Aku tahu Dia telah membohongiku. Dengan tegas, Aku merebut kembali handphone-ku dari tangannya. Dan menyeberang jalan mengambil bamper hp yang dijatuhkannya tadi.

Alhamdulillah… Aku selamat dari niat jahat Pemuda tampan itu, mungkin ini adalah efek dari niat ikhlas yang kuselipkan ba’da ashar tadi.

Jarum jam menunjukkan 17.00 WIB, Aku melanjutkan niat tulusku menuju rumah Ibu Maryam dan mengajari cucu-cucunya membaca iqro’. Satu jam telah berlalu, dan Aku memutuskan untuk pulang. Hujan sangat deras malam itu, Ibu Maryam memintaku tidur di rumahnya, namun Aku menolaknya dengan dalih besok pagi ada kuliah jam 07.00 WIB.

Tak lama kemudian menantu Ibu Maryam datang bersama seorang lelaki, ternyata itu bosnya. Salah seorang pengusaha di Kota Medan, ia menawarkanku mengajar di sekolah swasta miliknya. Aku mengangguk pelan menandakan setuju, Ibu Maryam tersenyum melihat tingkahku.

“Ya Allah, sungguh besar manfaat niat ikhlas itu,” ucapku dalam hati.

***

Sebulan mengajar di sekolah swasta, Aku betah di sana bersama anak-anak kurang mampu dalam hal materi. Aku sangat mengerti mereka karna Aku juga dari keluarga tidak berada.

“Tsa,” ucap Bos menyapaku.

“Saya Pak, ada yang bisa Saya bantu”.

“Tidak, Kamu sudah cukup banyak membantu Saya melalui mengajar di sekolah ini, dan ini untukmu,” ucapnya sembari menyodorkan amplop tebal padaku.

“Terimakasih banyak Pak,” ucapku girang.

Aku bergegas menuju warung, membayar hutang-hutangku sebulan ini, dan Alhamdulillah sisa gaji yang kuperoleh tadi pagi masih banyak. Aku memberi tahu Ayah agar tidak lagi memikirkan biaya kuliah dan biaya hidupku. Aku hanya minta doa yang banyak darinya agar semua urusanku dimudahkan dan rezeki dimurahkan.

*Penulis adalah mahasiswa UIN-SU Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan jurusan PGRA semester III.

 

 

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles