Kompas Si Penunjuk Jati Diri (Bagian 2)

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet – https://pin.it/25QQwIacJ )

Penulis: Muhammad Baker Al Hakim

Di pos kedua, kami diminta membuat tandu dari dua batang bambu dan selembar jaket. Aku memegang tali dengan percaya diri, membuat simpul yang dulu sulit kulakukan. Kak Hakim menepuk bahuku sambil tersenyum bangga.

“Nah, sekarang kamu sudah jago. Lihat, kan? Yang penting mau belajar.”

Saat itu, aku menahan senyum yang sulit disembunyikan. Untuk pertama kalinya, aku merasa menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Baca Juga: Rumah Itu Masih Ada, Tetapi Bukan Untukku Lagi

Perubahan yang kurasakan ini tidak hanya terasa di lapangan pramuka, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Aku mulai lebih percaya diri di kelas, berani berbicara di depan teman-teman, bahkan guru pun memperhatikan sikapku yang mulai berubah. Ayah dan Ibu yang biasanya sibuk kini mulai memperhatikan perkembanganku.

Suatu malam, Ibu datang ke kamar sambil membawa segelas susu.

“Belakangan ini Ibu lihat kamu lebih sering tersenyum. Ada apa?” tanyanya lembut.

Aku menceritakan semuanya, tentang latihan, teman-teman baru, petualangan jelajah alam, dan bagaimana pramuka membuatku merasa hidup kembali. Ibu tersenyum bangga serta berkata, “Ibu ikut senang kamu menemukan tempat yang bikin kamu berkembang.”

Kata-kata itu membuat hatiku hangat. Setelah sekian lama, akhirnya aku merasa benar-benar pulang.

Tantangan terbesar datang ketika pramuka mengadakan lomba tingkat kecamatan. Reguku terpilih untuk mewakili sekolah. Kami harus bersaing dalam berbagai kategori, yaitu pionering, tali-temali, baris-berbaris, hingga sandi.

Malam sebelum perlombaan, aku duduk di depan meja belajar sambil menatap tali yang sudah kusimpulkan berkali-kali. Rasa gugup terus menghampiri.

Namun, kemudian aku teringat perjalanan panjangku, dari remaja yang kehilangan arah hingga kini menjadi seseorang yang dipercaya. Aku menarik napas dalam-dalam dan kembali berlatih.

Hari perlombaan itu tiba. Kami berdiri tegap dengan seragam rapi dan wajah penuh semangat meski diliputi kecemasan. Ketika lomba baris-berbaris dimulai, suara komando terdengar tegas. Aku mengikuti langkah teman-teman, menyatukan hentakan kaki dengan tempo yang sama. Setelah itu, lomba sandi, lomba simpul, dan berbagai kegiatan lain pun berlangsung. Kami bekerja keras, saling menguatkan, dan saling mendukung tanpa keluhan.

Ketika pengumuman pemenang dibacakan, jantungku seolah berhenti sesaat.

“Juara 2 tingkat kecamatan diraih oleh … regu dari SMA Negeri 5!” suara panitia menggema.

Kami saling menatap, lalu bersorak gembira. Tidak ada yang menyangka kami bisa sampai sejauh itu. Rasanya dunia tiba-tiba menjadi lebih terang. Kak Hakim memeluk kami satu per satu, sementara teman-temanku menarikku ke tengah untuk berfoto bersama.

“Tanpa Saka, kita nggak bakal bisa setenang ini waktu cari arah jelajah!” kata Farhan sambil tertawa.

Aku tersenyum lebar, sesuatu yang jarang kulakukan beberapa bulan lalu.

Saat matahari mulai terbenam, kami duduk bersama di lapangan sambil menikmati angin sore. Suasana damai membuatku berpikir banyak hal. Aku melihat tali yang melilit di tiang bendera, kompas yang tergantung di saku, dan teman-teman yang bercanda tanpa jeda. Saat itulah aku tersadar.

Inilah jawabannya.

Inilah jati diri yang selama ini kucari, bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui proses, langkah demi langkah, simpul demi simpul, tawa demi tawa.

Kini hidupku tidak lagi sesunyi dulu. Aku punya tujuan, punya tempat untuk pulang, dan punya orang-orang yang menerimaku apa adanya. Pramuka bukan hanya kegiatan, tetapi juga rumah keduaku, tempat aku belajar menjadi diriku sendiri.

Hari itu, aku pulang dengan hati penuh gembira. Aku bukan lagi Saka yang kehilangan arah, melainkan Saka yang tahu ke mana ia ingin melangkah.

Sejak saat itu, aku yakin akan satu hal: terkadang jati diri tidak ditemukan dalam kesunyian, melainkan dalam kebersamaan, di antara baris-berbaris, simpul tali yang saling menguatkan, dan tawa teman-teman yang kini menjadi keluargaku.

Baca Juga: Kompas Si Penunjuk Jati Diri (Bagian 1)

Editor: Dinda

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles