
Penulis: Ikram Muharril
“Kamu pekerja keras, ya? Boleh kau menemaniku hingga sekiranya temanku tiba? Rasanya aneh betul. Temanku ini semula tidak menyukai kopi, setelah membaca tulisanmu di koran hanya butuh beberapa detik, malah dia mengajakku untuk menikmati kopi. Dan di sini … aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu kembali.”
Karim mengiyakan ajakan seraya tersenyum. Temannya kompak, berseru menerima ajakan. Mereka berdua berjalan mengarah utara Cafe, Clara masih belum bisa lepas dari rasa penasarannya. Kagum.
Baca Juga: Kopi Jurnalis/Bagian 4/
“Katamu, ia tidak menyukai kopi. Tetapi, mengapa setelah membaca tulisanku ia malah mengajakmu menikmati kopi yang sedari awal ia hindari? Padahal, jika dipikir, aku sedang tidak membahas seputar kopi dalam tulisan.”
Clara terdiam. Pikirannya mengawang, hingga akhirnya jatuh pada perasaan dalam hati yang sulit ia pahami. Kata orang ini semacam jatuh cinta, hingga berselang beberapa menit setelah perjumpaan tadi siang, ada percakapan singkat antara ia dengan seorang sahabatnya di kantor. Hingga perasaan jatuh cinta berubah menjadi begitu janggal.
“Ra, ada masalah? Ucap Karim membelah lamunan.
Clara masih diam, kepalanya mendadak sedikit pusing, lantas menyeruput Latte yang tersaji. “Tidak ada masalah. Aku hanya heran. Katanya, seperti tidak asing dengan penulisnya. Setelah aku menyebut namamu dengan latar belakang hidupmu yang juga kebetulan seorang pers di kampus sewaktu dulu makin membuatnya terkejut.”
Matanya mengerjap. Siapa pula orang yang dimaksud Clara. Terlintas di benaknya masa di mana ia pergi meninggalkan segala keraguan perihal rasa cinta. Waktu di mana ia ingin terbebas dari trauma, kondisi keluarga dan masa lalunya. Saat semuanya berkecamuk dalam kepala, ia mulai menyibukkan diri dalam pekerjaan agar mampu melupa dan berdamai dengan segalanya.
“Sudahlah. Nikmati saja sementara yang ada. Bisa jadi dia memang mengenalku atau hanya salah orang saja.”
Clara mengangguk mendengar kalimat itu. Meski ia sudah tau akan apa yang terjadi setelah ini. Baru sekitar 7 jam yang lalu ia duduk bersama Karim dengan sumringah yang berhias di wajahnya. Namun kini, mungkin sebentar lagi akan berubah, ia berpinta pada hati kecilnya agar tetap tenang tanpa melibatkan air mata. Jatuh cinta tidak pernah salah, hanya keadaan dan waktulah yang sulit dipercaya kenapa rasa itu hadir secara tiba-tiba.
“Karim, maaf sebelumnya. Akan ada Coffee Shop yang segera dibuka, berdekatan dengan stasiun ibu kota. Mereka meminta untuk kerja sama dengan kafe ini. Aku juga sudah mengirim kontakmu untuk bisa dihubungi. Selaku owner aku mengerti kau tidak pernah salah perhitungan. Maaf mengganggu waktu kalian berdua, aku pamit pergi.”
“Baiklah, Hadi, terima kasih.”
Clara menyimak dengan cermat pembicaraan keduanya. Ia tidak salah mendengar soal tadi? Owner?
“Hei! Tempat ini milikmu? Benarkah? Lantas, ikut berkerja siang malam untuk apa? Terlebih membawa gerobak kopi keliling, ini bagaimana konsepnya? Kau membuatku semakin bingung!”
Karim menyeringai, sedikit salah tingkah seraya menatap sejenak ke atas langit. Perjalanan yang memang tanpa ia duga sudah sejauh ini. Rahasia kecilnya terbuka.
Bersambung …
Baca Juga: Kopi Jurnalis/Bagian 3/
Editor: Kauria Rawia

