Lebih Dekat dengan Istilah Psikopat

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad Hanif Muzhaffar)

Penulis: Anju Minta Marito Manik

Mendengar kata psikopat, apa yang pertama kali terlintas dipikiranmu? Jika yang terlintas adalah sosok pembunuh berdarah dingin nan sadis, maka kamu perlu memahami istilah ini kembali, karena psikopat bukan hanya sekadar tentang pembunuhan. Psikopat atau dalam psikologi dikenal sebagai antisocial personality disorder merupakan suatu gangguan kepribadian antisosial yang menyebabkan penderitanya cenderung akan bersikap antisosial. 

Banyak yang menyalahartikan antisosial seolah mereka tidak suka bersosialisasi dengan lingkungan. Padahal, maksud dari antisosial di sini adalah senang melawan atau melanggar aturan-aturan yang berada dalam lingkungan sosialnya. Tidak ada yang tahu persis apa yang menyebabkan seseorang menjadi psikopat, namun kemungkinan berasal dari kombinasi faktor genetika, lingkungan dan interpersonal. Menurut Irna Minauli, seorang psikolog sekaligus pemilik lembaga psikologi Minauli Consulting menyatakan sifat psikopat sudah muncul saat kanak-kanak. 

“Gangguan kepribadian antisosial ini sudah muncul sejak kanak-kanak, sebelum usia 18 tahun. Sejak kecil mereka sering melanggar aturan seperti menyiksa binatang. Mereka seolah menikmati penyiksaan yang dilakukannya seperti mematahkan sayap-sayap belalang dan mencopoti kaki-kakinya, bersikap kejam terhadap binatang dan tidak memiliki empati. Gangguan perilaku pada masa kanak-kanak ini dikenal sebagai gangguan perilaku (conduct disorder). Perilaku psikopat tidak mungkin muncul secara tiba-tiba ketika seseorang masuk pada usia dewasa. Biasanya sejak kanak-kanak dan remaja mereka sudah mempunyai sejarah kriminal seperti mencuri,” jelasnya.

Secara kepribadian, para psikopat biasanya terlihat menawan, senang bersosialisasi, peduli dan ramah pada orang lain. Mereka mampu membuat orang lain jatuh cinta terhadap dirinya. Kecerdasan mereka umumnya diatas rata-rata serta piawai dalam berbicara sehingga mereka bisa mengelabui atau membohongi orang lain. 

Secara umum aktivitas mereka sama seperti orang lain. Mereka belajar untuk meniru emosi, yang sebenarnya tidak mereka rasakan, hingga tampak seperti orang yang normal. Hanya saja ketika mereka sudah berada dalam kondisi tersebut, mereka cenderung memperlihatkan perilaku yang manipulatif dan tidak memiliki empati seperti membunuh, menipu, menganiaya, dan berbagai bentuk tindakan antisosial lainnya, para psikopat menganggap hal tersebut sebagai perilaku yang menarik. Ketertarikan mereka terhadap perilaku antisosial yang berisiko tinggi seringkali tanpa memiliki tujuan yang jelas.

Dikutip dari laman hellosehat.com mengatakan beberapa teori menjelaskan bahwa psikopat hanya ingin menempatkan dirinya dalam situasi yang berbahaya atau situasi yang dapat membuat mereka tertangkap, karena adrenaline rush yang mereka alami. Mereka juga ingin membuktikan bahwa mereka lebih pintar dari semua orang, termasuk polisi, sehingga tidak akan tertangkap bila melakukan tindak kriminal. 

Memahami kutipan tersebut, dapat kita ketahui jika tertangkap tentu mereka tidak akan jerah atas tindakan yang telah mereka lakukan. Para psikopat juga mampu mengendalikan emosinya hingga keinginannya tercapai. Akan tetapi jika mereka mengalami hambatan atau rintangan untuk mencapai tujuannya, mereka bisa meledak-ledak dan tidak terkendali.

Beberapa cara sederhana mendeteksi perilaku psikopat antara lain dengan melihat hubungan pertemanannya. “Apakah mereka memiliki banyak teman dari masa lalu atau tidak, apakah mempunyai kecenderungan untuk melanggar aturan atau memanipulasi. Ciri lain adalah mereka cenderung bersikap kejam pada orang lain, senang memfitnah atau menceritakan aib orang lain, padahal orang tersebut bersikap baik padanya. Perilaku psikopat bermula dari pelanggaran kecil hingga pembunuhan sadis,” ungkap Irna Minauli.

Lebih lanjut, Irna juga menjelaskan bahwa penelitian dengan melihat fungsi otak para psikopat menunjukkan adanya abnormalitas atau perbedaan dengan kebanyakan manusia normal lainnya. Pada manusia normal, terdapat koneksi antara bagian yang berkaitan dengan perilaku dan emosi. Pada psikopat, koneksi antara perilaku dengan emosinya terganggu sehingga seolah setiap perbuatan yang mereka lakukan tidak menimbulkan emosi tertentu. Jika manusia normal, saat melakukan kejahatan akan dihantui rasa bersalah dan kekhawatiran atas perbuatannya. Pada psikopat hal tersebut tidak mereka rasakan, bahkan mereka memberikan justifikasi atau pembenaran atas perilakunya itu.

Psikopat termasuk salah satu gangguan jiwa berat karena sudah dimulai sejak masa kanak-kanak, sehingga peluang untuk penyembuhannya menjadi lebih kecil. Mereka juga cenderung menjadi perilaku kriminal. Prognosis atau kasus psikopat ini negatif atau sulit disembuhkan. Kebanyakan penelitian tidak menemukan metode yang tepat untuk menyembuhkan perilaku psikopat ini. Sebaliknya, ketika metode digunakan pada psikopat, mereka akan menjadi lebih terlatih untuk meningkatkan kemampuan manipulatifnya guna menyamarkan kepribadian mereka yang sesungguhnya. 

Editor: Rindiani

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles