Lily Flower: Wanita Paling Cantik

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://in.pinterest.com/)

Penulis: Abty Fauziah Ahmad Bahri

Konon, bunga lili adalah lambang keindahan dan kemurnian. Kelopaknya yang putih bersih selalu berhasil menarik perhatian siapa saja yang memandangnya. Banyak orang mengagumi lili karena penampilannya yang anggun, namun hanya sedikit yang memahami bahwa keindahannya bukan sekadar terletak pada warna atau bentuknya. Lili tetap mekar dengan tenang, memberikan pesonanya tanpa meminta pujian dari siapa pun.

Arga tidak pernah memikirkan hal itu. Baginya, keindahan selalu tentang apa yang terlihat oleh mata. Karena itulah, sejak remaja ia selalu mengejar perempuan-perempuan yang menurutnya cantik. Makin cantik seorang perempuan, makin besar keinginannya untuk memiliki hati perempuan itu.

Baca Juga: Biliuner Cilik (Bagian 5)

Sejauh yang ia ingat, hampir semua perempuan yang pernah menjadi kekasihnya adalah perempuan-perempuan yang dikagumi banyak orang. Namun, anehnya, tidak satu pun yang mampu membuatnya bertahan. Selalu ada alasan untuk pergi. Selalu ada kekurangan yang ia temukan.

Seolah-olah ada sosok perempuan sempurna yang terus ia cari, tetapi tidak pernah berhasil ia temukan. Hingga suatu sore, di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota, seorang sahabat mengajukan pertanyaan sederhana yang perlahan mengubah cara pandangnya tentang arti kecantikan.

“Sebetulnya, wanita seperti apa yang kau cari?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Herdi sambil menyeruput kopi hitamnya.

Sore itu, langit berwarna jingga pucat. Cahaya matahari yang mulai tenggelam menembus jendela kaca kedai, menciptakan bayangan panjang di atas meja kayu tempat mereka duduk. Arga yang sedari tadi sibuk memainkan gelas kopinya menjawab tanpa berpikir panjang.

“Yang cantik.” Jawabnya.

Herdi terkekeh. “Memangnya yang kau pacari selama ini tidak cantik?”

“Cantik.”

“Baik?” Tanya Hendri lagi.

“Baik.”

“Terus kenapa putus?”

Arga mengangkat bahu. “Entahlah. Rasanya kurang saja.”

Jawaban itu membuat Herdi menggeleng pelan. Sudah terlalu sering ia mendengar kalimat yang sama. Selama bertahun-tahun mengenal Arga, sahabatnya itu selalu berpindah dari satu hubungan ke hubungan lainnya. Nama-nama mantan Arga bahkan sudah terlalu banyak untuk diingat.

Anehnya, semuanya memiliki satu kesamaan. Mereka cantik, sangat cantik. Ada yang memiliki senyum menawan, ada yang terkenal di media sosial, ada pula yang menjadi pusat perhatian setiap kali memasuki ruangan. Namun, tak satu pun bertahan lama.

“Lalu, cantik yang kau maksud seperti apa?” tanya Herdi lagi.

Arga membuka mulut untuk menjawab, namun tidak ada kata yang keluar. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa ia tidak tahu jawabannya.

Hari-hari setelahnya berjalan seperti biasa, Arga tetap menjadi Arga. Ia bekerja, berkumpul dengan teman-temannya, dan sesekali berkenalan dengan perempuan baru. Tetapi, setiap kali memulai hubungan, akhir ceritanya selalu sama. Awalnya terasa menyenangkan, lalu biasa saja, kemudian membosankan. Seolah ada ruang kosong dalam dirinya yang tidak pernah benar-benar terisi.

Sampai suatu hari, kantor tempatnya bekerja mengadakan kegiatan bakti sosial di sebuah desa kecil yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Arga sebenarnya tidak terlalu tertarik mengikuti kegiatan itu. Namun, karena diwajibkan oleh perusahaan, ia tetap datang. Pagi itu udara desa terasa sejuk. Embun masih menempel di dedaunan, sementara suara anak-anak yang berlarian memenuhi halaman balai desa. Di tengah keramaian itulah pandangan Arga berhenti pada seorang gadis. Bukan karena ia paling mencolok, justru sebaliknya.

Gadis itu mengenakan hijab berwarna krim sederhana dan pakaian longgar yang jauh dari kata mewah. Wajahnya nyaris tanpa riasan. Namanya Alya. Saat yang lain sibuk berbincang atau berfoto, Alya justru duduk bersama beberapa anak kecil, mengajari mereka membaca dengan penuh kesabaran. Senyumnya hangat, tawanya ringan, dan entah mengapa, Arga terus memperhatikannya.

Hari itu berlalu tanpa percakapan berarti di antara mereka. Namun, beberapa minggu kemudian, mereka kembali dipertemukan dalam kegiatan sosial yang sama. Dan di sanalah Arga melihat sesuatu yang tidak pernah ia lupakan.

Siang itu Alya sedang memindahkan beberapa kardus bantuan seorang diri. Kardus-kardus itu cukup berat. Beberapa orang melihatnya kesulitan, namun tidak ada yang bergerak untuk membantu. Sebagian berpura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Sebagian lain memilih mengobrol seolah tidak melihat apa pun. Arga yang berdiri tidak jauh dari sana merasa kesal melihatnya. Tetapi, sebelum ia sempat menghampiri, Alya berhasil menyelesaikan semuanya sendiri.

Hal yang membuatnya makin heran adalah apa yang terjadi setelahnya. Beberapa saat kemudian, salah seorang yang tadi mengabaikannya membutuhkan bantuan, dan Alya tanpa ragu berjalan menghampiri. Dengan senyum yang sama, dengan ketulusan yang sama, seolah tidak pernah diperlakukan buruk sebelumnya. Arga benar-benar tidak mengerti. Akhirnya ia mendekatinya.

“Mengapa kau tetap baik pada mereka?” Tanya Arga.

Alya menoleh.

“Maksudmu?”

“Mereka tadi tidak membantumu. Bahkan pura-pura tidak melihatmu.”

Alya terdiam sejenak, kemudian tersenyum. Senyum sederhana yang terasa jauh lebih indah daripada senyum siapa pun yang pernah Arga lihat.

“Aku berbuat baik bukan untuk membalas kebaikan mereka.” Jawab Alya.

“Lalu untuk apa?” tanyanya lagi.

Alya menatap langit yang mulai berubah keemasan.

“Untuk membalas kebaikan Tuhan.”

Arga membeku.

Angin sore berembus pelan. Suara anak-anak yang bermain terdengar samar dari kejauhan. Namun saat itu, hanya satu kalimat yang terus bergema di kepalanya.

Untuk membalas kebaikan Tuhan.

Kalimat sederhana itu seperti mengetuk pintu yang selama ini tertutup rapat dalam dirinya. Tiba-tiba ia teringat pada bunga lili. Bunga yang selama ini ia kagumi hanya karena keindahan kelopaknya. Padahal keindahan sejatinya bukan terletak pada apa yang terlihat oleh mata, melainkan pada makna yang dibawanya.

Untuk pertama kalinya, Arga memahami bahwa kecantikan yang selama ini ia cari bukanlah wajah yang sempurna. Melainkan hati yang mampu tetap bersinar meski tidak selalu diperlakukan dengan baik.

Arga menatap Alya yang kembali membantu anak-anak dengan senyum tulusnya. Lalu, tanpa sadar ia ikut tersenyum. Karena akhirnya ia menemukan jawaban atas pertanyaan Herdi waktu itu. Wanita cantik yang selama ini ia cari ternyata bukan wanita yang paling indah dipandang, melainkan wanita yang membuatnya ingin menjadi manusia yang lebih baik.

Dan wanita itu adalah Alya.

Baca Juga: Biliuner Cilik (Bagian 4)

Editor: Tengku Wafa’ Alifah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles