
Penulis: Rahmanuddin
Tiga tahun berlalu ketika terakhir kali Rahim menikmati indahnya Ramadan bersama keluarga tercinta. Tentu dalam lubuk hatinya paling dalam ia sangat merindukan suasana Ramadan bersama keluarganya di rumah. Baginya, Ramadan adalah kesejukan dalam lentera kedamaian, terjalinnya silatuRahim yang begitu kuat dan gelak tawa khas Ramadan. Rahim biasa memanggil Amak pada ibunya sebab ia lahir dan dibesarkan di Bukittinggi Sumatera Barat. Selain bundo, sebutan amak pun akrab dipanggil di tanah Nagari ini.
Kini Rahim sedang bersibuk diri menggali ilmu kuliah di Perguruan Tinggi Negeri bergengsi di Kota yang terkenal dengan makanan khas Bika Ambonnya Kota Medan, Sumatera Utara. Yah, Rahim adalah mahasiswa semester VI di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan tepatnya pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Satu harapannya sebelum kuliah di kampus yang kini telah menginjak usia 44 tahun itu. Disitu, dengan semangat berkobar selalu menjalankan dan mengerjakan tugas kuliahnya setiap hari.
Semangat belajar Rahim pada tahun lalu mengalami penurunan. Katanya, tahun ini dia tidak mematok target pencapaian tahunan yang biasanya setiap perkuliahan semester selalu buat perencanaan atau target tahunan. Entah apa yang menyebabkan semangat belajarnya menurun pada tahun lalu.
Tahun ini, Rahim bertekad untuk semangat belajar dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya dan mengejar ketertinggalannya pada semester lalu.
Seperti puasa Ramadan tahun ini. Ia berusaha mantapkan dirinya untuk meningkatkan tingkat keimanannya kepada Sang Kuasa. Hanya saja seperti 2 tahun belakangan, semangat berpuasa tahun ini dijalani bersama para Sahabat kostnya. Rahim pernah merintih menangis kala ingat memori masa lampau sahur dan buka puasa bersama ayah, amak dan adeknya. Belum lagi kala ia berdoa kepada Sang Khaliq curahkan isi hatinya mengadu kerinduan yang tak dapat ditahan lagi bertekad ingin buka puasa dan laksana sahur bersama keluarga tercinta.
Sabtu malam yang sendu dengan iringan jangkrik merah dan suara katak berdendang di lantai 3 sebuah rumah tempat ia tinggal ditemani secangkir kopi kesukaannya dan Soni yang setia menemaninya mengobrol dan berbagi cerita serta pengalaman mengesankan tatkala merasakan manisnya kebersamaan dengan keluarga. Soni, sahabatnya di kost juga mahasiswa se-kampusnya.
Di lantai paling atas tempat ia tinggal langsung berhadapan dengan biru langit malam bertaburan bintang yang bersinar bak komet yang jatuh dan bulan sabit merah semakin terang alam semesta. Rahim begitu suka mendengarkan lagu dangdut lagu sejuta umat. Diantara ratusan lagu dangdut dan sekaligus penyanyinya, Rahim paling suka lagu-lagu yang dipopulerkan dan dinyanyikan oleh Evie Tamala. Memang pilihan Rahim paling ok kata soni dimalam itu. Lagu kenangan yang menyayat hati dengan judul Rembulan Malam serasi dengan malam yang sendu dikala itu.
Mereka ngobrol bukan soal percintaan karena kebiasaan remaja cerita-cerita soal percintaan. Atau rencana kehidupan di masa akan datang pun tidak. Karena sekarang para Muslim dunia sedang menjalankan hari-hari istimewa, Rahim dan soni ceritakan kenangan berpuasa di kampung halaman.
Rahim, baper saat bercerita mengenai keluarga karena tiga tahun lalulah tepatnya terakhir kali rasakan puasa bersama keluarganya. Soni juga perantau. Hanya saja kampungnya tak sejauh kampung Rahim. Soni tinggal di Perbaungan. Dengan menaiki sepeda motor 2 jam pun sampai.
“Kapan terakhir kali kau rasakan puasa penuh bersama keluarga?,” tanya Soni.
“3 tahun lalu,” jawab Rahim kebawa perasaan.
Rahim yang penasaran, tanya balik ke soni.
“Kau kapan puasa Ramadan terakhir dengan keluarga?,” tanya Rahim senyum.
“Aku baru 2 tahun lalu sih,” jawab soni jujur.
Mereka mengobrol semakin akur. Tak seperti biasa Rahim lebih sering diam dan menyendiri dari teman kostnya. Angin malam berhembus dari timur ke barat. Kulit Rahim yang sensitif angin malam dihiraukan karena perbincangan itu cukup membuat badannya terasa hangat karena ditemani oleh secangkir kopi yang sebelumnya sudah dicarik oleh soni yang jago dalam hal mengolah kopi bubuk yang ia bawa dari kampungnya 2 minggu sebelumnya.
Jam tangan putih kecokelatan yang serasi di pergelangan tangan kiri Rahim telah menunjukkan jam 23.04 WIB. Semakin dingin dan kopi buatan soni belum habis.
“Kalok makanan khas lebarannya apa aja yang biasa kalian makan?,” kepo soni.
“Ada Alamai, Lemang Durian, Kue Lapis, Kue Bawang, dan Wajik,” bantu Rahim semangat.
Soni penasaran mendengar kata wajik. Karena ia belum makanan tersebut.
“Wajik itu kayak apa?,” tanya soni penasaran.
Wajik itu terbuat dari beras ketan yang dimasak dicampurkan dengan gula merah yang sudah dicairkan setelah dipanaskan di kuali dengan bara api. Beras ketan yang sudah masak (nasi), dan gula merah yang sudah cair secara keseluruhan didiamkan hingga keduanya tidak mengeluarkan uap panas, di mix, hingga nasi ketan yang awalnya masih tanpa warna atau netral dengan warna putih, setelah dicampur dan diaduk warnanya akan berubah total menjadi merah tua. Kalau manis jangan ragu. Tapi tampilannya yang cantik dibungkus oleh pelepah daun pisang muda dibentuk pola bulat panjang diikat di sisi ujung-ujungnya. Tampilannya bagus dan tentu rasanya pun demikian. Ketika di mulut, legit gurih dan enak rasanya ketika melumcur di kerongkongan. Biasanya makanan enak juga memiliki efek negatif bagi para penikmat. Rahim jelaskan adanya efek negatif bagi para penimkat wajik khususnya bagi para penderita, Asma, Jantung Koroner, Asam Lambung, dan penyakit yang anti terhadap makanan manis dan santan karena beras ketan yang dimasak mengganti air dengan santan kelapa.
Kepada soni, Rahim begitu semangat ceritakan wajik dan lebaran Idul fitri tahun lalu. Sejak 3 tahun yang lalu, Rahim bersama keluarganya selalu menghidangkan wajik pada lebaran idul fitri. Sebenarnya ayah dan amaknya kurang suka nikmati makanan yang terlalu manis. Sebab, biasanya para orangtua selalui menghindari makanan yang terlalu manis karena dapat mempengaruhi kesehatan mereka.
Rahim selalu memuji masakan khas dari amaknya. Katanya, Menggugah selera. Pujinya kepada amaknya.
Lebaran tahun lalu ia begitu leluasa bersilatuRahim dengan keluarganya karena pihak kampus memberikan waktu libur yang cukup panjang. Tahun lalu juga ia merintih di depan ayah, amak, dan uninya (kakak), curahkan segala kesalahan dan khilafnya dan memohon ampun kepada Allah SWT untuk kembali ke fitrah.
Sebenarnya yang membuat Rahim begitu cinta dan rindukan makanan khas lebaran seperti wajik bukan karena rasanya yang begitu memanjakan lidahnya, tak lain karena Rahim begitu rindukan suasana Ramadan dan lebaran penuh bersama keluarganya di rumah.
Do’a-do’a pengiring selalu ia hadiahkan bagi keluarganya di kampung. Dalam hatinya, sebenarnya ia berharap tahun ini ia bisa kembali bersuka ria dan bersungkuh di hadapan orangtuanya. Hanya saja, 2 minggu setelah lebaran ia harus kembali berjuang untuk ikuti ujian semester di kampusnya.
Perbincangan bermakna silatuRahim di malam itu pun berakhir. Alarm Rahim berdering. Biasanya, Rahim selalu sempatkan mencari informasi seputar mata kuliah esok hari untuk memperkaya khazanah pengetahuannya mengenai hal-hal baru untuk ia sampaikan pada setiap perkuliahan. Karena ia begitu aktif dalam setiap proses perkuliahan di kelasnya.
Rahim dan Soni lekas turun ke lantai 2 kostnya. Ia menggenggam Smart Phone miliknya. Ternyata Rahim belum bisa move on dari pembicaraannya dengan soni. Terbawa perasaan. Ia mencoba mencari kontak di handphonenya atas nama my Mom begitu sukanya berbahasa inggris.
Waktu telah menunjukkan pukul 23.45 atau hampir jam 12 malam. Jelas semua orang di rumahnya sudah lelap dalam tidur. Apalagi kalau puasa Ramadan, untuk tidur lelap begitu mudah.
Rahim mengalihkannya dengan menyampaikan pesan singkat (SMS). Pesan singkat itu bertuliskan, “Mak, lebaran tahun ini masak wajik lagi yah!.” Masakan amaknya paling jago kata Rahim. Karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Rahim hidup bersama kedua orangtuanya dan 3 orang saudara perempuannya. Rahim adalah anak ke-3 dari 4 orang bersaudara. Kakaknya yang kini berprofesi sebagai Dokter Gigi dan yang kedua Karyawan Bank BUMN di daerah tempat ia tinggal. Sedangkan adeknya baru saja menyelesaikan sekolah menengah atasnya. Dalam beberapa waktu, ia sering membandingkan masakan ketiga saudara perempuannya dengan amaknya. Masakan amak memang paling jago, kata Rahim.
Editor : Aminata Zahriata

