
Judul: Pukul Setengah Lima
Penulis: Rintik Sedu
Genre: Fiksi, Drama Psikologis, Romansa
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 375 halaman
Peresensi: Windari Syntia
Tidak semua orang beruntung tumbuh di lingkungan yang memberikan rasa aman dan nyaman. Bagi sebagian orang, rumah justru menjadi tempat yang menyimpan luka, ketakutan, dan kenangan yang sulit dilupakan. Realitas tersebut menjadi fondasi utama dalam novel Pukul Setengah Lima karya Rintik Sedu. Melalui kisah yang sederhana tetapi emosional, novel ini mengajak kita sebagai pembaca menyelami kehidupan seseorang yang berusaha mencari tempat pulang, baik secara fisik maupun batin.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Alina, seorang perempuan yang hidup dengan berbagai trauma akibat kondisi keluarganya. Ia tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari kata hangat. Hubungannya dengan orang-orang terdekat tidak berjalan dengan baik sehingga membuatnya merasa asing terhadap kehidupannya sendiri. Di tengah perasaan tersebut, Alina bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya di dalam bus pada pukul setengah lima sore. Pertemuan yang tampak biasa itu menjadi awal dari perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya.
Baca Juga: Maybe You Should Talk to Someone: Surat Cinta untuk Kesehatan Mental Kita
Menariknya, saat pertemuan tersebut terjadi, Alina memilih memperkenalkan dirinya dengan nama lain, yakni Marni. Kebohongan kecil yang awalnya tampak sepele kemudian berkembang menjadi konflik yang memengaruhi perjalanan hidupnya. Melalui identitas baru tersebut, Alina seakan berusaha melarikan diri dari masa lalu dan berbagai luka yang selama ini membebaninya. Namun, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan nyata, seseorang tidak dapat terus-menerus bersembunyi dari dirinya sendiri.
Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada cara Rintik Sedu membangun karakter Alina. Pembaca tidak langsung diperlihatkan seluruh latar belakang kehidupannya. Sebaliknya, penulis menyusun potongan-potongan cerita secara perlahan sehingga rasa penasaran terus terjaga hingga akhir cerita. Teknik tersebut tentunya berhasil membuat pembaca dapat memahami alasan di balik berbagai keputusan yang diambil oleh Alina, termasuk tindakan-tindakan yang terkadang terasa tidak masuk akal.
Dari segi tema, Pukul Setengah Lima menawarkan pembahasan yang cukup kompleks. Novel ini tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga trauma keluarga, kesehatan mental, kesepian, penerimaan diri, hingga pencarian identitas diri. Tema-tema tersebut disampaikan dengan bahasa yang ringan dan sederhana sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca, terutama generasi muda yang sering menghadapi persoalan serupa dalam kehidupan sehari-hari.
Gaya bahasa Rintik Sedu juga menjadi daya tarik tersendiri. Kalimat-kalimat yang digunakan cenderung sederhana, namun mampu menyampaikan emosi dengan cukup kuat. Banyak bagian yang terasa reflektif dan mengajak pembaca merenungkan kehidupannya sendiri. Tidak heran apabila novel ini mampu membangun kedekatan emosional antara tokoh dengan pembaca. Beberapa adegan bahkan dapat membuat pembaca turut merasakan kesedihan, kemarahan, maupun harapan yang dirasakan oleh Alina.
Meski demikian, novel ini bukan tanpa kekurangan. Pada beberapa bagian, alur cerita berjalan cukup lambat karena fokus pada penggambaran perasaan tokoh. Bagi pembaca yang menyukai cerita dengan konflik cepat dan penuh kejutan, ritme tersebut mungkin terasa sedikit lebih membosankan. Selain itu, beberapa konflik juga terkesan terlalu berlarut-larut sehingga membuat penyelesaiannya terasa kurang kuat dibandingkan pembangun konfliknya.
Terlepas dari kekurangan tersebut, Pukul Setengah Lima tetap berhasil menyampaikan pesan yang mendalam. Novel ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki luka yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Seseorang mungkin tampak baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang menghadapi berbagai persoalan dalam dirinya. Melalui perjalanan Alina, pembaca diajak memahami pentingnya menerima masa lalu, berdamai dengan diri sendiri, dan berani mencari bantuan ketika merasa tidak sanggup menghadapi semuanya sendirian.
Judul Pukul Setengah Lima juga memiliki makna sombolis yang cukup menarik. Waktu tersebut bukan sekadar penanda pertemuan antara dua tokoh, melainkan simbol momen yang mengubah arah kehidupan seseorang. Dalam hidup, sering kali terdapat satu peristiwa kecil yang tanpa disadari menjadi titik balik bagi perjalanan seseorang. Pesan inilah yang terasa kuat sepanjang novel.
Secara keseluruhan, novel ini layak dibaca oleh pembaca yang menyukai kisah emosional dengan sentuhan psikologis yang kuat. Novel ini tidak menawarkan kisah cinta yang berlebihan, melainkan perjalanan seorang tokoh dalam memahami dirinya serta memaknai arti rumah yang sesungguhnya. Dengan karakter yang dekat dengan realitas, tema yang relevan, dan gaya bahasa yang menyentuh, Rintik Sedu berhasil meninggalkan kesan mendalam yang tetap membekas bahkan setelah halaman terakhir ditutup.
Baca Juga: Menjelajahi Laut Monster dan Ketakutan Akan Kehilangan
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

