Oleh: Rahmi Irada Lubis*
Bulan Juli telah berlalu, fase mekar terbaik edelweiss telah dimulai. Wanita muda itu mulai mengingatnya kembali, memori awal Agustus tahun lalu saat edelweiss menjadi simbol harapan kisah cintanya. Benar perkataan para pujangga, hal yang paling sulit untuk dihapuskan adalah kenangan. Kenangan itu masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Cerita tentang keindahan bunga edelweiss; bunga abadi. Potret bunga itu masih terpajang di atas meja rias kamarnya. Sesekali ia sengaja memandangnya, untuk mengenang seseorang yang telah memotret keindahannya.
Masih terekam jelas dalam ingatan Rina, suara kegembiraan Adit saat mengatakan akan mendaki Gunung Papandayan. Seperti biasa, Adit begitu antusias bila bercerita tentang pendakiannya dan Rina selalu dengan senang hati mendengarkan. Apalagi yang bisa ia lakukan selain mendengarkan cerita Adit via telepon, jarak selalu menjadi penghalang. Rina dan Adit berada di kota yang berbeda, hanya suara yang dapat meredam kerinduan dari keduanya. Selama tujuh hari Adit berlibur di Garut bersama teman-temannya. Rina sangat iri waktu itu karena Adit justru menghabiskan waktu berlibur bersama teman-temannya, bukan dengan dirinya.
Pagi itu ponsel Rina berdering, sebuah pesan masuk dan itu dari Adit. Pesan itu berisi potret bunga berwarna putih yang indah. Potret yang kini ada di meja rias kamarnya. “Bunga yang indah,” gumamnya dalam hati. Tak lama kemudian ponsel itu kembali berdering, kali ini panggilan masuk dan Rina segera mengangkatnya. Kegembiraan jelas terpancar dari wajahnya begitu mendengar suara sang kekasih hati, meskipun sebenarnya rasa kesal masih ada dalam benaknya.
“Itu bunga edelweiss, bagus bukan?” kata Adit. Rina hanya menjawab seadanya, seakan ingin menunjukkan kekesalan hatinya. Adit sangat menyesal menyadari sikap yang ditunjukkan Rina. Bagaimanapun juga ia tak bisa menolak bila diajak mendaki, itu adalah hobinya. “Kau tahu, bunga edelweiss yang berada di hamparan Tegal Alun itu sangat indah,” Adit mulai bercerita. Rina hanya mendengarkan tanpa bereaksi sedikit pun. “Sebenarnya aku ingin sekali memetiknya dan memberikan bunga abadi itu untukmu. Kau tahu apa yang kupikirkan saat itu? Tidak ada yang lain, selain kau. Aku menikmati keindahan edelweiss sambil memikirkanmu dan berharap kisah kita akan abadi, seperti edelweiss,” kata Adit lagi. Rina tersenyum kecil dan berharap ucapan itu menjadi nyata. “Bukan bunga itu tak pantas untukmu, aku hanya tak ingin mencabut satu keabadian. Bunga itu akan terlihat jauh lebih indah nanti, saat kita melihatnya bersama,” Adit mencoba menenangkan hati Rina.
“Edelweiss memang indah, sayang kisah kita tak seindah dan seabadi bunga ini,” Rina memegang bingkai yang membungkus potret bunga edelweiss di salah satu sisi meja riasnya itu. Yah… keindahan edelweiss kini hanya menjadi satu kenangan yang melekat dalam hatinya. Meskipun keabadian itu bukan untuk cintanya, tapi kisah yang pernah terukir akan tetap abadi menjadi sebuah kenangan. Apa yang bisa wanita muda itu lakukan kini, menghapus kenangan bukan hal yang mudah. Waktu menjadi satu-satunya harapan yang akan membawa kisah itu sedikit menjauh dari kehidupannya yang sekarang; tanpa Adit.
*Penulis adalah mahasiswi UIN SU, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan jurusan Bimbingan dan Konseling Islam semester VII.
Editor : Ahmad Sabili

