Mimpi di Balik Bukit Sunyi

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet artstation.com)

Penulis: Muhammad Rahman Hanif 

Di sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik bukit, hiduplah seorang anak muda bernama Arman. Desa itu, Desa Ciptarasa, adalah tempat di mana waktu seolah berhenti. Tidak ada jalan beraspal, tidak ada lampu listrik, hanya hamparan sawah dan bukit yang mengelilingi mereka.

Baca Juga: Kami Dipisahkan oleh Keluargaku /6/

Arman adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang petani, dan ibunya mengelola warung kecil di depan rumah. Kehidupan mereka sederhana, bahkan sering kekurangan. Namun, di balik kesederhanaannya, Arman memiliki mimpi besar. Ia ingin membawa perubahan untuk desanya, meski tak sedikit orang yang meremehkan ambisinya.

“Arman, kamu bermimpi terlalu tinggi. Kita ini orang kampung, nak. Hidup seadanya saja sudah syukur,” ujar Pak Raji, tetangganya, sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Namun, ucapan itu tak menggoyahkan tekad Arman. Setiap malam, di bawah lampu minyak tanah yang redup, ia membaca buku-buku bekas yang ia beli dari kota. Buku-buku itu ia beli dari hasil jerih payah bekerja sebagai buruh tani di waktu senggang. Dalam hati, ia selalu bertanya, kenapa hidup di desa tidak bisa sebaik di kota?

Suatu hari, desa mereka dilanda badai hebat. Hujan deras selama dua hari berturut-turut menyebabkan sungai meluap. Sawah-sawah rusak, dan jalan desa tertutup lumpur. Bahkan, jembatan kecil yang menjadi satu-satunya akses ke kota ambruk dihantam derasnya arus sungai.

Kepanikan melanda warga desa. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Pasokan bahan makanan menipis, dan komunikasi dengan dunia luar terputus. Banyak warga hanya pasrah, menunggu keadaan membaik dengan sendirinya.

Namun, Arman menolak tinggal diam. Dengan sepeda tuanya, ia memberanikan diri menempuh perjalanan ke kota terdekat. Jalan berlumpur dan licin membuatnya beberapa kali terjatuh, namun ia tetap melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di kota, ia mendatangi kantor pemerintahan untuk meminta bantuan.

“Kami butuh bantuan, Pak. Desa kami benar-benar terisolasi,” kata Arman penuh harap.

Namun, jawaban yang ia terima sungguh mengecewakan. “Maaf, nak. Dana kami sudah dialokasikan untuk proyek lain. Lagipula, desa seperti Ciptarasa terlalu terpencil dan tidak menjadi prioritas,” ujar seorang pejabat dengan nada dingin.

Meski kecewa, Arman tidak menyerah. Ia mulai mencari solusi. Ia mendengar tentang program swadaya masyarakat di perpustakaan kota. Dengan semangat baru, ia kembali ke desanya membawa ide untuk memulai perubahan dari dalam.

Arman segera mengumpulkan warga desa untuk bermusyawarah. Ia mempresentasikan gagasannya tentang tanggul darurat untuk mencegah banjir dan membangun jalan setapak agar desa tetap bisa diakses. Namun, tidak semua warga mendukungnya.

“Arman, ide kamu bagus, tetapi dari mana uangnya? Kita ini rakyat kecil. Bahkan makan saja sudah sulit,” kata Pak Raji dengan nada ragu.

Arman tidak menyerah. Ia mulai dengan apa yang bisa dilakukan tanpa biaya besar. Bersama beberapa pemuda desa yang mendukungnya, ia mengumpulkan karung-karung bekas dan mengisinya dengan pasir untuk dijadikan tanggul sementara. Mereka bekerja siang dan malam, meski sering dihujani kritik oleh warga yang pesimis.

Bulan demi bulan berlalu, dan perlahan usaha mereka menunjukkan hasil. Sawah-sawah yang sebelumnya terendam kini kembali produktif. Saluran air yang mereka bangun secara swadaya mengurangi risiko banjir di musim hujan. Arman juga berhasil menghubungi seorang donatur dari kota yang bersedia membantu memasang panel surya untuk penerangan desa.

Perubahan kecil itu membawa harapan baru bagi warga Desa Ciptarasa. Orang-orang yang sebelumnya pesimis mulai ikut terlibat. Mereka sadar bahwa perubahan tidak datang dari luar, melainkan dari usaha bersama.

“Arman, aku salah menilaimu. Ternyata mimpi besarmu membawa manfaat untuk kita semua,” ujar Pak Raji suatu hari sambil menepuk bahu Arman.

Namun, perjuangan Arman tidak berhenti di situ. Ia terus belajar dari buku-buku dan informasi yang ia dapatkan dari kota. Ia bermimpi suatu hari Desa Ciptarasa tidak hanya mandiri, tapi juga menjadi contoh bagi desa-desa lain di sekitarnya.

Kini, desa kecil itu tidak lagi gelap gulita saat malam. Anak-anak bisa belajar di bawah terang lampu, dan warga bisa bekerja lebih efektif dengan infrastruktur sederhana yang mereka bangun sendiri. Arman menjadi simbol semangat dan harapan bagi desanya.

“Perubahan bukanlah mimpi, melainkan hasil dari keberanian untuk mencoba,” ujar Arman di depan para pemuda desa suatu malam. Kata-katanya terus menggema di hati mereka yang mendengarnya.

Dan di balik bukit sunyi itu, Desa Ciptarasa perlahan tapi pasti, mulai melangkah menuju masa depan yang lebih cerah.

Baca Juga: Aku di Pisahkan oleh Keluargaku /5/

Editor       : Fadillah Hanum 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles