
Pemberdayaan Pertanian Organik di Pondok Pesantren Mawaridussalam melakukan panen periode kedua pada Sabtu, 18 Februari 2023. Pertanian yang terletak di Batang Kuis, Medan ini menghasilkan gabah padi sebanyak 1399 kg dengan luas lahan 7 rantai. Lahan yang terletak di depan pondok merupakan program binaan pertanian langsung dari Baitulmaal Muamalat yang sudah panen kedua kalinya. Gabah yang dihasilkan akan dijemur terlebih dahulu lalu diantarkan ke kilang penggilingan padi. Berhubung pondok sendiri belum memiliki mesin giling pribadi, maka masih dilakukan penyewaan mesin giling untuk mengolah padi menjadi beras.
Pertanian padi dengan pupuk kimia dapat menghasilkan gabah dengan perkiraan 6,5 ton tiap hektarnya, kalau 6,5 ton dikalkulasikan pada 7 rantai, gabah padi mendapatkan hasil 1.800-an kg. Namun, panen kali ini dengan luas lahan 7 rantai menghasilkan 1399 kg, mendekati angka panen menggunakan pupuk kimia, “Panen padi organik ini sangat menarik untuk dikembangkan oleh masyarakat, dengan biaya yang murah karena sudah menghapus biaya pupuk kimia, namun, hasilnya mendekati pada lahan pengguna kimia. Selain pembiayaan murah hasilnya juga enggak main-main,” imbuh Budi Syahputra selaku Pimpinan Cabang BMM Sumut.
Imam Syarifuddin selaku penanggung jawab pertanian padi organik pesantren mengatakan padi yang dipanen merupakan bibit pandan wangi, sehingga kalau mendekat ke padi akan terasa wangi. Bibit dipakai adalah bibit pandan wangi sehingga memiliki tekstur padi yang panjang- panjang,” katanya.
Lebih lanjut, Imam juga menyampaikan panen ini terbilang cukup lama, di mana umumnya umur padi 90 hari sudah panen. “Padi yang kita tanam periode ini memang sedikit di luar prediksi, biasanya 90 hari padi yang ditanam sudah bisa dipanen, namun kali ini padi sudah mencapai umur 100 hari baru dipanen, mungkin salah satu latar belakangnya karena padi ini sepenuhnya organik, yang hanya mengandalkan pupuk organik dan kekuatan alam,” ujarnya.
Panen padi kali ini memberikan dampak kebermanfaatan kepada warga, karena melibatkan warga dalam hal pemanenan. “Bersama 27 warga memanen padi untuk seluruh lahan seluas 7 hektar ini,” tambah Ibnu yang juga ikut dalam bagian pengolalan pertanian padi Pondok Pesantren Mawaridussalam.
Di sisi lain, salah seorang warga juga merasa panen ini menjadi pembelajaran baru bagi warga. “Saya terkejut juga ikut panen kali ini, baru kali ini saya lihat penanaman padi yang berbeda, tanpa pupuk dan hasilnya juga terbilang banyak. Saya juga baru tau kalau penanaman padi secara organik ini bisa juga diterapkan di sini, ” kagum Sugiono salah satu warga yang ikut panen raya.
Pertanian organik memang menjadi hal yang baru untuk masyarakat Batang Kuis sekitar, mengingat seluruh masyarakat yang memiliki lahan pertanian padi memang masih melakukan pemupukan kimia untuk tumbuh kembangnya pertanian. Pondok Pesantren Mawaridussalam lewat panen yang melibatkan warga merasa kagum dengan konsistensi pesantren untuk tetap memilih jalan organik. “Banyak warga memang yang meragukan organik, tetapi kami tetap punya visi misi memberikan yang terbaik untuk pangan santri,” tutup Imam saat ditemui di pesantren.
Reporter : Cici Hardiyanti dan Widia Usada
Editor : Adelini Siagian


Sukses buat kalian semuaa
Suskes dunia dan akhirat