Oleh : Lilin Karlina
Rintik hujan sudah mulai turun. Perlahan seperti sapuan kuas sang maestro, yang menambah warna gelap setiap jengkal lapisan aspal. Udara dingin pun mulai beraksi bagai sekumpulan lebah yang siap menyengat setiap kulit yang hangat. Dan aku masih tetap berharap.
Mungkin lebih dari seratus kali aku putar balik kepalaku tanpa ku tahu apa maksud ku. Dengan melihat betapa seringnya ku lirik jam yang usang dipergelangan tangan, pasti setiap pasang mata disekitarku akan tahu betapa cemasnya aku. Bila ada yang bertanya, aku pasti menjawabnya dengan tegas, ya, aku sangat cemas. Kugosokkan kedua tanganku untuk mengusir dingin yang makin tak bersahabat. Sejenak aku mengutuk diri sendiri, mengapa aku lupa membawa jaket? Tentu saja aku lupa, saat itu tak ada lagi ruang dikepalaku selain memikirkan saat ini. Saat dimana aku akan tersenyum bahagia atau mungkin sebaliknya, menangis bagai wanita malang. Setidaknya, jahe hangat yang kupesan dapat memberiku sedikit tambahan semangat.
Seandainya orang tahu mengapa aku disini, aku yakin mereka akan tertawa dan mengatakan betapa bodohnya aku. Dan aku akan hanya diam, menjawabnya hanya akan menambah pernyataan bodoh. Karena memang aku tak memiliki jawaban, aku hanya mengikuti panggilan jiwa. Bodoh bukan?
Dia adalah wanita yang begitu menakjubkan. Dia cantik, ramah dan aku tak akan pernah bosan untuk sekedar ngobrol dengannya,dia adalah kakak kandungku. Aku yakin, dia memiliki sebuah peti rahasia yang sangat besar yang berisi segala bahan pembicaraan, joke dan ratusan tebakan. Dan sampai saat ini, mungkin baru seperseratusnya yang pernah ku dengar.Seperti sebuah kisah yang dibuat-buat memang, aku bertemu pertama kali dengannya saat menunggu teman seperjuangan. Terpandang indah seperti bidadari surga dengan sayap yang memikat mataku dan dengan raut wajah yang bersinar bagaikan rembulan. Aku tidak tahu apakah aku hanya bermimpi atau hanya halusinasi. Kakakku yang sudah lama tiada,kini bagaikan bangkit kembali dengan wujud yang berbeda bagaikan bidadari surga. Tapi ntah mengapa saat itu terlinang air mata dari pipinya. Aku bingung dan tak tahu ada apa dengan semua ini ?. tanda tanya begitu mendalam dan suasana begitu mencekam.
Mungkin hanya embun dari surga yang akan menghentikan tangisnya. Ia begitu saja meneteskan air mata saat menatapku dan kemudian menangis tanpa ku sanggup untuk menghentikannya.
“Apa yang membuat kakak menangis?” Nampaknya pertanyaan ku itu sudah lebih dari lima kali ku ucapkan tanpa ada balasan selain senggukan.“siapa yang membuat kakak menangis? Hmmng?” kugenggam erat tangannya. Aku bagai seorang adik yang sedang menenangkan kakaknya yang patah hati. Dia ingin menjawab, tapi semua tak mampu ia keluarkan dari bibirnya yang indah. Aku hanya mampu mempererat genggaman tanganku.“adikku” katanya lirih. “Kamu, yang membuatku menangis..” tanpa sadar mataku melotot seakan salah mendengar.Aku ingin mengucapkan sesuatu tapi semua seperti tertahan di ujung bibirku. Mungkin beginilah rasanya seorang yang bisu. Jutaan kata ingin diungkap, namun semua bagai bisikan dibibir.“Tapi..” aku bingung, “Maafkan aku,” akhirnya ku paksa mulutku berucap.“Mungkin aku telah menyakitimu kakak. Tapi ku mohon, katakanlah salahku?. Kauadalah malaikat. Kau begitu sempurna. ”Ia tersengguk“. Aku bagaikan patung yang tak tahu harus berbuat apa dan apa yang harus ku katakan. Tak tahu ekpresi apa yang harus kuungkap.“Aku rindu kakak,” kataku lirih.“Dan itu yang membuatku semakin menangis..”Aku masih tak mampu bergerak. Tanganku masih menggenggam tangannya yang dingin dan kepalaku bagai idiot yang tidak mampu mencerna kata-kata termudah sekalipun. Aku terdiam begitu lama. Semua peristiwa seakan berputar kembali dikepala.“kakak,masihkah kakak ingat kepadaku?” kataku tiba-tiba sambil kuangkat tangannya yang masih digenggamanku.“Sekarang dengarkan aku,” aku membelai rambutnya dengan lembut, mengarahkan kepalanya untuk menatapku.“dan kuhapus air matanya. Lalu diapun berkata “ adikku,kakak sayang padamu,jaga dirimu baik-baik mesti kakak tak bisa lagi menemanimu dalam dunia nyata”. Air mataku tak bisa lagi kuhindarkan,hanya terdiam dan mendengar apa yang telah diucapkan sang kakak.
Tiba-tiba bidadariku menghilang begitu saja, suasanapun kian mencekam. Ada apa dengan semua ini,beribu tanda tanya yang terlintas difikiranku. Apakah aku sedang bermimpi ? atau seorang bidadari yang saat ini datang menghampiriku dalam dunia nyata?. Sungguh aku tak mengerti dengan semua ini. Tapi seketika ada terdengar suara getaran yang sangat tajam,yang membuatku tersadar dari keterpakuanku. Yah,Ternyata aku hanya bermimpi,mimpi yang takkan pernah terwujud didunia nyata. Takkan mungkin makhluk yang sudah tiada hadir didunia nyata layaknya manusia lainnya. Dari mimpiku banyak yang bisa merubahku menjadi lebih baik,pesan bidadari surgaku seakan membuatku lebih kuat akan menjalani hidup ini.

