
• Judul Buku: Metamorfosis
• Penulis: Franz Kafka
• Penerjemah: Sigit Susanto
• Penerbit: Kakatua
• Tahun Terbit: 2022
• ISBN: 978-623-7543-60-2
• Halaman: 84 halaman
Peresensi: Safna Dawita
Buku Metamorfosis karya Franz Kafka edisi terjemahan penerbit Kakatua menghadirkan pengalaman membaca yang terasa sunyi, ganjil, dan tidak nyaman; namun di sinilah letak kekuatan dari buku ini.
Novel dibuka dengan peristiwa yang langsung mengejutkan pembaca, yaitu ketika si protagonis, Gregor Samsa, terbangun di suatu pagi dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa. Di buku ini, Penulis tidak memberi pengantar panjang, dan tidak pula menjelaskan sebab perubahan itu. Kejadian absurd tersebut diterima begitu saja, seolah sesuatu yang wajar, sementara pembaca dipaksa ikut masuk ke dalam cerita.
Gregor digambarkan sebagai tulang punggung keluarga. Ia bekerja tanpa henti untuk melunasi semua utang orang tuanya, menekan keinginannya sendiri, serta hidup dalam rutinitas yang menjemukan. Ketika ia berubah wujud dan tidak lagi mampu bekerja, hubungannya dengan keluarganya yang semula tampak hangat perlahan berubah menjadi dingin dan penuh jarak. Penulis dengan tajam memperlihatkan bagaimana nilai seseorang di mata keluarga dan masyarakat sering kali diukur dari sejauh mana ia berguna. Ketika ia telah kehilangan fungsi, empati pun lenyap.
Baca Juga: Loneliness Is My Best Friend: Menemukan Diri di Tengah Kesunyian
Keunggulan dari Metamorfosis bukan terletak di alurnya yang rumit, melainkan terletak pada suasana dan tekanan batin yang dibangun. Penulis menulis dengan gaya datar dan tenang, bahkan ketika ingin menggambarkan situasi yang mengerikan. Nada dingin inilah yang membuat penderitaan Gregor terasa lebih nyata. Di sini, pembaca tidak diajak untuk menangis, melainkan dipaksa menyaksikan bagaimana rasanya berada di posisi yang terasingi. Terjemahan dari penerbit Kakatua terasa mengalir. Pemilihan katanya sederhana, namun tetap menjaga atmosfer muram dan tercekik yang menjadi ciri khas dari karya ini.
Dialog-dialog keluarga Samsa terasa kaku dan canggung, mencerminkan hubungannya yang makin renggang. Beberapa kalimat panjang tetap dipertahankan, sehingga pembaca bisa merasakan aliran pikiran Gregor yang berputar-putar dan tak pernah benar-benar menemukan jalan keluar.
Metamorfosis dapat dibaca dari banyak sudut, mulai dari kritik terhadap dunia kerja yang menindas, potret keluarga yang rapuh, hingga kisah tentang identitas, dan rasa bersalah. Gregor tidak pernah benar-benar memberontak atas nasibnya. Ia lebih sering menyalahkan diri sendiri, bahkan ketika diperlakukan tidak manusiawi. Sikap pasrah ini membuat ceritanya semakin menyedihkan karena penderitaan datang bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam dirinya sendiri.
Selain itu, tokoh Gregor Samsa juga dapat dipahami sebagai simbol manusia modern yang terjebak dalam sistem yang tidak memberinya ruang untuk menjadi diri sendiri. Sejak awal cerita, Gregor lebih mengkhawatirkan keterlambatannya bekerja dibandingkan kondisi tubuhnya yang berubah drastis. Hal ini menunjukkan bagaimana tuntutan pekerjaan telah mengikis kesadaran kemanusiaannya. Penulis seakan ingin menegaskan bahwa keterasingan tidak selalu datang dari perubahan fisik, tetapi justru dari sistem yang memaksa manusia mengabaikan kebutuhan batinnya sendiri.
Buku edisi Kakatua ini cocok bagi pembaca yang ingin menikmati karya Franz Kafka tanpa gangguan bahasa yang kaku atau terlalu akademis. Buku ini menyajikan pengalaman membaca yang meninggalkan rasa ganjil dan pertanyaan panjang setelah halaman terakhir selesai dibaca. Buku metamorfosis mengingatkan kita bahwa menjadi manusia itu bukan sekadar melihat bentuk tubuhnya melainkan juga tentang pengakuan, hubungan, dan martabat. Namun, ketika semuanya telah direnggut, yang tersisa hanyalah tentang kesunyian, rasa sunyi yang menakutkan dan menghantui, bahkan setelah cerita ini usai.
Baca Juga: Belajar Menghadapi Ketakutan Melalui Stranger Things Kelima
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

