Pretty Lethal: Ketika Sepatu Pointe Jadi Senjata

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://id.pinterest.com/)

Judul Film: Pretty Lethal

Sutradara: Vicky Jewson

Penulis Naskah: Kate Freund

Genre: Aksi, Thriller

Durasi: 60 menit 28 detik

Tahun Rilis: 2026

Pemeran Utama: Maddie Ziegler, Lana Condor, Iris Apatow, Millicent Simmonds, Avantika, Uma Thurman

Peresensi: Muhammad Ihsan

Kalau ada yang bilang balet itu anggun dan jauh dari kesan berbahaya, mereka belum pernah menonton Pretty Lethal. Film aksi-thriller garapan Vicky Jewson ini hadir dengan premis yang berani. Lima balerina muda yang dikirim ke kompetisi bergengsi di Budapest justru terjebak di penginapan terpencil dan harus bertarung hidup dan mati melawan kawanan mafia bersenjata. Bukan dengan senjata api, tapi lewat kemahiran pirouette (gerakan berputar), keindahan arabesque (berdiri dengan satu kaki), hingga hantaman sepatu pointe (sepatu khusus balet), gerakan balet yang anggun itu dimanfaatkan sebagai teknik bertarung yang mematikan.

Cerita bermula dari lima balerina yang tergabung dalam satu regu bernama Bones. Di dalamnya ada Bones (Maddie Ziegler), si penari utama yang keras dan kompetitif. Lalu ada Princess (Lana Condor), gadis kaya manja yang lebih peduli pada penampilan ketimbang latihan. Anggota lainnya adalah Grace (Avantika) yang penurut tapi diam-diam punya tekad kuat, serta dua bersaudara: Zoe (Iris Apatow) yang berkepribadian hangat, dan Chloe (Millicent Simmonds), seorang tunarungu yang justru memiliki kepekaan tubuh paling tajam di antara mereka semua.

Baca Juga: Kelas yang Mengajarkan Arti Kehidupan dalam Assassination Classroom

Perjalanan mereka berubah mencekam saat bus yang ditumpangi mogok di tengah hutan. Mereka terpaksa berlindung di sebuah penginapan misterius milik Devora Kasimer (Uma Thurman), seorang mantan bintang balet yang hidup menyendiri dan punya pembawaan misterius yang kuat.

Jewson pintar membangun ketegangan sebelum akhirnya semuanya berubah jadi kacau, brutal, tetapi tetap seru. Adegan berantamnya malah mirip pertunjukan sirkus yang kacau tapi menghibur. Para balerina ini memanfaatkan kelenturan badan, kekuatan otot, dan pisau tersembunyi di ujung sepatu pointe mereka buat ngelawan balik. Hasilnya, kita disuguhin perpaduan antara gerakan tari yang anggun dengan aksi baku hantam yang brutal. Kombinasi ini rasanya susah dibayangkan kalau tidak dilihat langsung di layar. Sinematografer Bridger Nielson juga mengeksekusinya dengan pas. Kamera bergerak mengikuti ritme penari, dan slow-motion dipakai bukan sekadar pemanis visual, tetapi untuk mempertegas setiap benturan dan hantaman fisik.

Dari jajaran pemain, Uma Thurman jelas jadi bintang utamanya. Sebagai Devora, karismanya terasa berlapis dan sulit ditebak. Di satu momen dia bisa kelihatan jahat, tetapi di momen berikutnya tiba-tiba muncul empati yang gak terduga. Di antara kelima balerina, Maddie Ziegler tampil paling menonjol, sementara Millicent Simmonds memberi dimensi emosional yang paling tulus. Kehadiran Millicent sebagai karakter tunarungu bukan cuma pajangan biar kelihatan inklusif. Keterbatasan itu nyata dan bermakna lewat ekspresi dan bahasa tubuhnya berhasil menyampaikan emosi tanpa banyak dialog.

Sayangnya, naskah garapan Kate Freund terasa agak buru-buru. Kelima balerina ini datang dengan label sifatnya masing-masing, tetapi jarang dikupas lebih dalam. Konflik antarkarakter yang sempat mencuat di awal pun akhirnya cuma jadi pelengkap, bukan lapisan emosional yang digarap serius. Tetapi di balik kekurangan itu, film ini memiliki pesan yang menarik. Femininitas tidak harus dibuang demi kelihatan kuat. Karakter-karakter ini tidak perlu meniru gaya tokoh aksi pria di film aksi pada umumnya buat menang. Mereka tetap menari, dan lewat tarian itulah mereka menghabisi musuh-musuhnya.

Film ini tidak banyak basa-basi. Selama 88 menit, semuanya berjalan cepat dan tetap seru. Di akhir, baru terasa kalau ancaman terbesar di film ini bukan senjata atau ledakan, melainkan lima perempuan yang sudah bertahun-tahun melatih tubuh mereka, lalu akhirnya menggunakan semua kemampuan itu untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Di Balik Sosok Kuat Seorang Ayah dalam Film “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?”

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles