
Judul: Epiphany
Pencipta: “Hitman” bang, Slow Rabbit, Adora (produser: Slow Rabbit)
Penyanyi: Jin (BTS)
Genre: Rock Alternatif, Balada Pop-Rock
Tahun rilis: 2018
Durasi: 3 menit 48 detik
Peresensi: Nadiyah Putri Budiani
Lagu Epiphany ini merupakan salah satu lagu solo paling berkesan dari member BTS, yaitu Kim Seokjin yang merupakan member tertua di grup. Lagu ini dirilis pada 9 Agustus 2018 sebagai comeback trailer untuk album Love Yourself: Answer. Lagu ini langsung mencuri perhatian karena membawa pendekatan yang berbeda dari lagu-lagu BTS pada umumnya. Alih-alih menonjolkan elemen dance atau rap yang energik, Epiphany memilih jalur balada dengan instrumen piano yang mendominasi, dipadukan dengan gitar akustik yang lembut.
Yang menarik dari lagu ini adalah jika dilihat secara musikal, lagu ini dibangun dengan struktur yang naik secara bertahap di awal lagu. Pendengar dibuat tenang dan intim oleh nada maupun makna dari lagu tersebut. Lalu, perlahan berkembang menjadi megah. Pada bagian refrein di lagu tersebut, kita bisa mendengar suara falseto tinggi Jin yang megah. Bagian inilah yang menjadikan lagu ini menarik dan sangat indah. Teknik ini seolah membuat pendengarnya diajak untuk masuk ke dalam sebuah perjalanan emosional, dari belajar menuju penerimaan diri.
Baca Juga: Hate That I Made You Love Me: Ketika Cinta Terbentur Pintu Keyakinan yang Tak Sama
Tema besar yang diangkat Epiphany adalah proses menemukan cinta terhadap diri sendiri. Ini bukan cinta yang datang dari validasi orang lain, melainkan kesadaran bahwa seseorang harus lebih dulu menerima dan mencintai dirinya sendiri sebelum bisa mencintai orang lain dengan tulus.
Terdapat lirik sangat indah yang dituangkan Jin dalam lagu solonya ini, “aku yang harusnya kucintai, diriku yang berharga ini, akhirnya aku sadar jadinya aku mencintai diriku, walaupun ga sempurna tapi indah, harusnya aku yang kucintai”. Lirik yang menjelaskan bahwa ia tersadar ternyata harusnya mencintai dirinya sendiri, walaupun tidak sempurna, setidaknya dengan ketidaksempurnaan itu justru terdapat bagian dari keindahan yang memang layak untuk dicintai. Pesan seperti ini atau situasi ini pasti sangat relevan, terutama bagi generasi muda yang sering terjebak dalam tekanan sosial untuk tampil sempurna di depan orang lain agar mendapat pengakuan dan diperlakukan dengan layak.
Epiphany bukan sekadar lagu solo biasa. Ia menjadi semacam pernyataan sikap Jin sekaligus penutup dari teori Love Yourself yang panjang. Jika dilansir dari Wikipedia, popularitas lagu Epiphany mencapai hingga 575 persen begitu lagu ini dirilis dan video musiknya berhasil meraih lebih dari 20 juta penonton hanya dalam 24 jam pertama. Filosofi cerita terdapat dalam video musik yang menampilkan Jin yang bolak-balik melintasi dimensi waktu dan versi diri yang berbeda, seolah sedang mencari jawaban atas pertanyaan tentang identitas dirinya. Pada akhirnya, ia sadar bahwa jawaban itu bukan di luar sana, melainkan ada pada dirinya sendiri.
Lagu ini pasti sangat menyentuh bagi pendengar yang sedang berproses untuk menerima diri sendiri. Lagu ini dapat menjadi pengingat sederhana namun kuat. Proses mencintai diri sendiri memang tidaklah instan, tetapi begitu seseorang sampai pada titik penerimaan itu, semuanya terasa jauh lebih ringan. Epiphany mengajarkan bahwa kesempurnaan bukan syarat untuk dicintai, cukup menjadi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup.
Jadi, untuk kalian yang sedang berproses mencintai diri sendiri, tetap semangat. Penulis hanya ingin mengatakan, jangan biarkan perkataan orang lain menjadi penghambat untuk kita berkembang. Tidak perlu sempurna untuk bisa dicintai banyak orang, tetap menghargai dan menjadi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup.
Baca Juga: Berani Melepas Hubungan yang Menyakitkan Lewat Lagu Rabun Jauh
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

