Sejauh Apapun Berkelana, Tetaplah Ingat Orang Tua

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Internet https://tulisankucca.wordpress.com)
  • Judul : Pulang
  • Penulis :  Tere Liye
  • Penerbit : Republika Penerbit, Jakarta 
  • Tahun Terbit : 2015
  • Tebal Buku : 400 Halaman

Penulis: Karmila Sinaga

Darwis atau lebih dikenal dengan nama pena Tere Liye lahir di Lahat, Indonesia, 21 Mei 1979; umur 41 tahun. Ia adalah seorang penulis novelis asal Indonesia. Beberapa karyanya yang pernah diadaptasi ke layar lebar yaitu Hafalan salat delisa dan Bidadari Surga. Meskipun dia bisa meraih keberhasilan dalam dunia literasi, kegiatan menulis cerita sekadar menjadi hobi, karena sehari-hari ia masih bekerja kantoran sebagai akuntan

Pulang, buku yang menceritakan sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Semua orang pasti mengerti, rumah adalah tempat terbaik untuk pulang. Di mana pun kita berada rasa rindu kepada,ayah ibu pasti akan ada. Bujang salah satunya, yang sudah 20 tahun meninggalkan rumahnya. Dulu ketika ia masih dini, ia pergi ke kota bersama tauke muda, yang dulu pernah datang ke kampungnya untuk berburu babi hutan.

Tauke muda dan bapak bujang adalah sahabat ketika masih muda sampai sekarang, terlihat mereka sangat akrab sehingga tauke berkunjung ke kampung bujang. Bapak dulu adalah orang sangat kekar, ditakuti orang lain, bisa dikatakan sebagai preman yang ditakuti semua orang di kota. Sejak menikah dengan ibu, bapak dan ibunya memutuskan berkelana dan tinggal di kampung, begitu pun aku lahir di kampung.

Ibu yang bernama Midah sering sekali mengirim bujang mengaji dengan seseorang. Tetapi, bapak yang memiliki panggilan si tukang jagal tidak menyukainya, bapak malah merestuinya untuk ikut bersama tauke muda ke kota. Melatih diri menjadi manusia yang ditakuti orang lain. Hingga pertengkaran pun terjadi.

Sejak diputuskan dan diikhlaskannya bujang pergi bersama tauke muda ke kota, ia menjadi orang yang berbeda sesudahnya. Ia adalah jagal nomor satu di Keluarga Tong. Keluarga Tong adalah keluarga yang memiliki pendapatan melalui Shadow economy. Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam,di bawah meja. 

Orang-orang menyebutnya black market, underground ecomomy. Dalam hal ini, maka berbicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar, modal, retail, teknologi, mutakhir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai, yang semuanya dikendalikan oleh institusi ekonomi pasar gelap; hal 30.

Bujang menjadi kepercayaan tauke, bersama dengan beberapa orang yang juga dipercayai, menemui presiden, orang-orang penting seperti Keluarga Lin dan lainnya. Sebelum itu, bujang dilatih dengan sangat keras dan hebat. Bujang untuk nama pasaran di luar disebut sebagai “Si Babi Hutan”.

Kini, tukang pukul adalah pekerjaan favorit bujang. Namun, ia harus bersekolah. Tauke muda yang setelah bertahun-tahun kini disebut tauke besar sangat berharap penuh kepada bujang untuk generasi Keluarga Tong selanjutnya. 

Bujang sangat terkenal di mata keluarga besar, orang-orang tinggi lainnya, karena prestasinya. Ia tukang pukul terbaik sekaligus memiliki kepintaran yang luar biasa, serta ide-ide yang cemerlang. Namun, sejak berpuluh-puluh tahun ia tidak pernah mendatangi kampung halamannya, sehingga terdengar kabar ibunya meninggal dunia dan tak lama setelah kejadian tersebut bapaknya pun ikut meninggal.

Betapa terpuruknya bujang ketika itu, ia tak keluar dari kamar tempat istirahanya. Namun, tetap ia tak mengunjungi kampung halamannya. Suatu malam tauke mendatangi kamarnya, karena ia tahu bujang sedang bersedih dan ia pun memberi surat kepada Bujang. Surat tersebut adalah pemberian dari bapaknya; hal 237.

Tauke terdiam, ia benar-benar tahu perasaan bujang saat itu. Ia benar-benar turut berduka cita. Tak lama, setelah bujang membuka surat. Tauke dan kopong meninggalkan kamar bujang. 

Setelah bertahun-tahun peperangan, kejadian-kejadian yang telah tuntaskan bujang. Terakhir setelah peperangan di gedung Kantor Parwez, ia memutuskan menjenguk pusara ibu dan bapaknya di Talang.

Bujang menatap kembali lading tadah hujan milik bapak yang sudah belukar, juga mengunjungi rumah panggung yang hanya tinggal tiangnya saja. Rumput liar tumbuh di atas reruntuhannya. Dua puluh tahun lamanya ia meninggalkan semua itu; hal 399.

Ia hempaskan semua kerinduannya lewat kata-katanya. Ia duduk di pusara ibunya, tak jauh dari bekas lading dan reruntuhan rumah. Sambil menatap gundukan tanah tanpa nisan. Ia teringat akan semua kenangan yang sudah dilalui berserta ibu dan bapaknya.

Buku yang berjudul Pulang sangat cocok dibaca untuk mereka yang sudah lama berkelana/ merantau, atau bahkan lupa terhadap kampung halamannya, karena sudah bertahun-tahun meninggalkannya. Percayalah, kampung atau tanah kelahiran adalah tempat pertama kali kita tumbuh berkembang. 

Bagi si pembaca buku ini tidak cocok dibaca oleh anak yang berumur 15 tahun ke bawah, karena kata-kata yang dikeluarkan seperti; bujang, si babi hutan, hingga pasar shadow economy sangat belum pantas untuk mereka, karena akan berakibat terhadap keingintahuan menerapkannya dan berakibat fatal.

Editor: Nurul Liza Nasution

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles