Serial Bidaah, Ketika Film Menjadi Cermin Pembelajaran Spiritual dan Sosial

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. https://images.app.goo.gl/sFyqy2nAnpjSLnZm7)

Peresensi: Sigit Bahuraksa

  • Judul Film: Bidaah
  • Tahun Rilis: 6 Maret 2025
  • Sutradara: Ellie Suriaty
  • Jumlah Episode: 15 Episode
  • Platform Tayang: VIU
  • Genre: Religius

Beberapa waktu terakhir, film asal Malaysia berjudul Bidaah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Film ini tidak hanya memancing rasa penasaran masyarakat, tetapi juga mengundang pro dan kontra dari berbagai kalangan, khususnya mereka yang memegang teguh nilai-nilai keagamaan. Namun, terlepas dari kontroversi yang menyertainya, ada satu hal penting yang terlupakan oleh sebagian besar penontonnya, yaitu makna dan pembelajaran yang tersembunyi di balik film tersebut.

Kita hidup di tengah masyarakat yang kompleks, di mana tradisi, agama, budaya, dan teknologi saling bertautan membentuk realitas sosial. Film Bidaah menjadi cermin dari kompleksitas tersebut. Film ini tidak sekadar menyampaikan cerita, melainkan mengangkat dinamika antara tradisi keagamaan yang mengakar dan pergolakan batin individu dalam menghadapi perubahan zaman. Tokoh-tokohnya membawa penonton untuk merenungkan makna ibadah, keikhlasan, serta cara masyarakat memahami ajaran agama yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga: Ada Hidup yang Tertinggal dalam Semangkuk Mi Ayam

Dari sudut pandang pendidikan, film ini layak mendapat perhatian bukan karena kontroversinya, tetapi karena kemampuannya mengajak penonton berpikir kritis. Banyak dari kita, terutama generasi muda, dibesarkan dalam sistem pendidikan yang cenderung menekankan hafalan dibandingkan pemahaman. Dalam konteks keagamaan, hal ini berpotensi melahirkan generasi yang “taat simbolik” tanpa benar-benar memahami esensi ajaran agamanya. Film Bidaah menantang kondisi tersebut dengan menampilkan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang tabu untuk dibahas di ruang publik.

Contohnya, dalam salah satu adegan, tokoh utama mempertanyakan mengapa suatu ritual dilakukan jika tidak tahu maknanya. Pertanyaan itu, meskipun sederhana, mengusik kesadaran kita. Betapa sering kita melakukan sesuatu hanya karena “sudah dari dulu begitu”, terlalu mengikuti ajaran nenek moyang tanpa mencoba menggali dasar ajaran atau tujuan spiritualnya. Ini bukan soal membenarkan atau menyalahkan tradisi, tetapi mengajak untuk lebih memahami dan memaknainya.

Beberapa penonton terlihat gelisah dan terusik, merasa nilai-nilai agamanya sedang dipertanyakan. Namun, bukankah agama justru mendorong kita untuk berpikir, merenung, dan mencari kebenaran? Bukankah proses ijtihad dalam Islam mengajarkan bahwa pemahaman agama berkembang sesuai konteks zaman dan budaya?  Perkembangan zaman yang sangat dinamis perlu dikaji secara mendalam.

Di sinilah letak pembelajaran penting dari film Bidaah. Film ini menunjukkan bahwa spiritualitas bukanlah sekadar ritual, melainkan pencarian makna yang terus-menerus. Bidaah membuka ruang dialog, meskipun tidak selalu nyaman, antara teks agama dan realitas sosial. Alih-alih menjadikan agama sebagai sesuatu yang beku, film ini mengajak untuk menghidupkan kembali semangat berpikir, bertanya, dan menggali nilai-nilai esensial di balik simbol-simbol keagamaan.

Sayangnya, reaksi masyarakat terhadap film ini lebih banyak bersifat emosional daripada reflektif. Di berbagai platform, muncul seruan pelarangan, pemboikotan, bahkan ancaman terhadap para pembuat film. Reaksi-reaksi semacam ini menunjukkan bahwa ruang dialog keagamaan masih belum cukup aman untuk perbedaan pandangan. Padahal, jika dikelola dengan bijak, film ini bisa dijadikan alat pembelajaran dalam forum-forum pendidikan, diskusi kampus, hingga kajian keagamaan.

Sebagaimana dalam sistem pendidikan kita, semestinya kita mulai mengubah pendekatan dari yang serba menerima menjadi serba mengkaji. Perlu ada ruang yang lebih luas untuk bertanya, menggugat, dan merenung, terutama ketika menyangkut hal-hal yang dianggap sakral. Karena melalui pertanyaanlah, kita menemukan makna. Dan melalui makna, kita bisa membangun keyakinan yang lebih dalam, bukan hanya sekadar menerima dan mengikuti.

Film Bidaah tidak memberikan jawaban, ia hanya menghadirkan pertanyaan-pertanyaan.  Akan tetapi, dari sanalah kita belajar, bahwa dalam kehidupan beragama, bukan hanya soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang sungguh-sungguh mencari kebenaran.

Karena itu, alih-alih ditolak mentah-mentah, Bidaah seharusnya dijadikan bahan refleksi bersama. Film ini mengajarkan bahwa agama bukan hanya tentang dogma, tetapi juga tentang cinta, makna, dan kejujuran hati dalam menjalani kehidupan beriman.

Baca Juga: Film Modal Nekat, Misi Tiga Bersaudara Demi Membayar Hutang

Editor: Ummy Syafitri

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles