
Penulis: Ikram Muharril
Saat langit memerah jingga, ketika orang lain jatuh dalam pesona jagat raya, gadis itu masih terdiam bersama gema lagu dengan bait yang berulang kali terasa seperti sedang menyindirnya. Tetapi sebentar, sebenarnya ini bukanlah sindiran, melainkan persis dengan perasaan di dalam hatinya. Keindahan di luar sana sangat bertolak belakang dengan harapan semu yang kini dipeluknya.
“Nikmati, nanti setelah hangatnya menghilang kau akan menyesalinya,” ucap Zayn.
Gadis itu segera tersadar, Senang berdalih pandang karena kehadiran Zayn yang mengagetkannya. Meskipun dalam kondisi melamun, ia masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan temannya tersebut. Mengenai kopi dihadapannya, benar saja, sudah terlanjur dingin karena tiga puluh menit yang lalu telah ada dihadapannya, hanya saja setetespun belum sampai di tenggorokannya.
“Kau dalam masalah! seperti kopi ini, telah tersaji tetapi menolak untuk menyadarkan diri,” sindir halus Zayn.
Baca Juga: Ibu Tidak Pulang /1/
Lelaki itu langsung duduk tanpa izin terlebih dahulu. Baginya, basa-basi tidak ada dalam kamus logikanya. Sementara Senang, berusaha mencermati kalimat yang baru saja didengarnya.
“Aku tidak paham yang baru kau katakan, bisa jelaskan?,” tanya Senang.
“Senang, kita sejak lama saling mengenal. Aku paham gerak-gerik yang kau peragakan. Apalagi soal kopi ini, kau sangat suka meminumnya ketika dalam keadaan sedih karena bagimu, itu sebuah pelarian. Parahnya lagi, saat ini kau seperti kehilangan kesadaran begitu dalam, hingga kopi yang kau pesan telah dingin dengan sendirinya,”
Senang menghela nafas panjang, pandangannya jatuh pada pekatnya kopi. Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya sejauh ini, sama seperti judul lagu yang sedang berputar, “Runtuh”.
“Aku hanya terjebak dalam konspirasi rasa, itu saja,” sahut Senang.
Zayn mengangguk karena dugaannya terjawab. Senang pun mulai menyeruput perlahan kopi miliknya. Sebenarnya soal cinta tidaklah terlalu buruk, hanya saja butuh waktu untuk mengikhlaskannya dan bukan berarti menutup segalanya. Rangkaian perkataan Senang membuat Zayn tertawa, pilihan kosakatanya itu “konspirasi”, seperti sedang membahas politik saja.
“Sindiranmu itu sangat halus (sembari tertawa), tapi kenyataannya membuatku semakin sedih. Menyebalkan!,” gerutu gadis itu.
“Aku tidak sedang menyinggungmu, ya. Aneh saja, namamu Senang tapi kau mengharap genggaman orang lain agar hidup bahagia, hidup tidak sebercanda itu, teman,” ucap Zayn, kali ini melahap sebungkus roti.
“Menurutmu bagaimana?” ucap Senang.
“Semua bermula dari ketidaksengajaan lalu berakhir dengan ragam cerita. Setiap luka dikemas rapi sebagai prasasti kehidupan, menjadikannya sebagai pelajaran. Patah hati adalah hadiah dari Tuhan. Pencipta lagu yang sedang kita dengar pernah berkata, “Jatuh cinta bukanlah pilihan, tuhan yang memilih. Kecewa adalah konsukuensinya, bahagia adalah bonus”. Tidak perlu disesalkan karena untuk mendapatkan kebahagiaan, kita pasti bertemu dengan luka sebagai garda terdepan,” ucap Zayn dengan kutipan kata mutiaranya.
Senang mengangguk paham, temannya yang satu ini selalu saja mampu menjadi penenang. Ia selalu saja tiba-tiba hadir saat hatinya benar-benar rapuh. Entah terkoneksi dari mana, Zayn selalu menyadarkan Senang untuk segera pulih. Allah sangat baik, memberi kekuatan melalui ucapan seorang temannya itu.
“Menyenangkan bercerita denganmu, kita cuma butuh waktu untuk pulih. Sama seperti katamu, semua bermula dari ketidaksengajaan hingga diakhiri banyak perdebatan, cinta membutuhkan kebebasan, membangkitkan semangat bukan malah meruntuhkan kesadaran. Sekali lagi terimakasih telah mengingatkan,” ucap Senang dengan hati yang lega.
Zayn mengerlingkan mata dan lanjut melahap potongan rotinya. Senang yang memperhatikannya, mampu membuat Zayn tersenyum. Melihat wanita itu rasanya meringankan beban yang ada dalam dirinya yang sebenarnya sedang ia sembunyikan.
“Bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Senang beralih topik.
“Baik-baik saja,” ucap Zayn dengan santai.
“Dasar pembohong!,” seru Senang.
Baca Juga:Titipan-Nya /1/
Editor: Annisa

