Sayangi Aku

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: www.google.com

Penulis: Shofiatul Husna Laili

Temani aku dalam sepi

Genggam tanganku dengan jemari

Tuntun langkahku menuju ilahi

Hanya itu yang selalu ku nanti

Hangatkan aku dalam pelukan

Sentuh khilafku dengan lisan

Bawa aku dalam kedamaian

Sadarkan aku jika berlebihan

Sebab mengharapkan kasihmu dalam impian

Di sudut ruangan kamar yang begitu luas, telah tampak seorang pria dengan genggaman pena menggores-goreskan tinta dalam buku diary-nya. Tanpa sadar tetesan air mulai jatuh dan mengalir di pipinya. Tak ada ungkapan kata yang terdengar, hanya sebuah rasa desakan dada yang dituangkan melalui tulisan dalam buku yang di genggamnya. “Tidak! Aku tidak boleh menangis,” ungkapnya dalam prolog sambil menyeka derai air mata. Setelah merasa tenang, dia mencoba bangkit dan bergegas keluar dari kamar dengan mata yang memerah. “Mau kemana Ndra?” tanya seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya. Tanpa menjawab sepatah kata pun, pria itu langsung berlalu pergi meninggalkan sang ibu. Dengan motor balap yang biasa dikendarainya, ia bergegas pergi keluar dari gerbang. “Andra..Andra..kamu mau kemana?” panggil sang ibu yang tidak digubris oleh si pemilik nama.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, pria yang sejak tadi siang pergi sampai saat ini belum juga kembali. Sang ibu mulai mengkhawatirkannya, ia menunggu kedatangan sang buah hati di teras depan rumah. “Assalamualaikum..” terdengar salam dari seorang pria yang tidak lain adalah suaminya. “Wa’alaikum salam..papa darimana? Kenapa lama sekali pulangnya?” tanyanya. “Papa kan kerja Ma, bagaimana keadaan Andre?” jawabnya diselangi pertanyaan. “Kalau kerja kenapa baru pulang selarut ini Pa? Papa tahu kan mama lelah menjaga Andre seharian, seharusnya kita bisa gantian Pa!” bentak wanita itu dengan suara keras.

Belum ada jawaban dari sang suami, wajahnya yang terlihat lelah dan penat langsung berlalu pergi menuju kamar anak keduanya. “Papa mau kemana? Jawab Pa, mama lelah jika terus seperti ini!” sergah wanita itu sambil tertduduk lemas di lantai. Tangis yang tertahan akhirnya tumpah seketika, wajahnya yang pucat menandakan bahwa dirinya sangat kelelahan. Andre yang sejak tadi melihat kejadian itu langsung menangis, ia merasa bersalah karena dirinya kedua orang tuanya bertengkar. “Kalau papa tidak kerja, lalu kita makan apa Ma?, Andre itu sakit dan papa harus bekerja keras untuk kesembuhannya,” jawab pria itu dengan nada tinggi. Saat amarah keduanya tak terkendalikan, tiba-tiba Andra saudara kembar Andre datang melayangkan ucapan yang tidak sepantasnya ia katakan. “Cukup Ma, Pa!” bentaknya dengan suara keras dan berlalu pergi menuju kamarnya.

Keesokan harinya, hujan telah berhenti dikala pagi berganti siang. Andra yang hendak membasuh muka terkejut saat melewati kamar Andre, tubuhnya terdiammelihat keadaan saudara kembarnya yang tiba-tiba terbaring diatas lantai. Dengan cepat ia segera merangkul tubuh adiknya yang terlihat pucat dan semakin lemah. “Kamu butuh apa? Minum?” tanyanya pelan. Sang adik hanya menjawab dengan anggukan. Segera ia meraih air minum dan menegukkannya kepada Andre. Setelah selesai, Andre langsung mengucapkan terimakasih yang tidak sempat dijawab oleh Andra, ia hanya berlalu pergi mengingat tujuan utamanya. “Aku tahu kamu sayang sama aku, hanya saja kamu tidak menunjukkannya, tapi aku bisa merasakannya Ndra,” kata Andre bermonolog.

Ketika matahari telah menggantung tinggi diatas langit, Andra segera bersiap pergi ke kampus. Sesampainya di kampus, ia tak langsung masuk ke kelas, sebab ia ingin mencari ketenangan terlebih dahulu. Kakinya terus melangkah tanpa arah, ntah mengapa tiba-tiba ia sampai di tempat tongkrongan sekumpulan orang yang bernasib sama dengannya. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini, namun kali ini ia benar-benar butuh ketenangan. Wajahnya cemas dan penuh kegelisahan, salah satu dari mereka mencoba mendekatinya. “Sepertinya aku baru melihatmu, kamu pasti anak baru,” tanya pria bertubuh tegap sambil mengepulkan asap rokoknya.Spontan Andra yang tidak biasa langsung terbatuk-batuk, wajahnya heran melihat semua mata mengarah kepadanya dengan tertawa. Pria itu semakin dekat dan berbicara pelan kepadanya, “Kalau anak mami bukan disini tempatnya Bro,” sambungnya dengan gelak tawa. Tangan Andra mengepal bersiap-siap memukul pria dihadapannya. “Sudah…sudah ayo kita pergi!” salah seorang pria mencoba menghalanginya. Dengan cepat pria itu menarik tangan Andra menjauhi tempat tersebut.

“Tempat kamu bukan di sini Ndra, lebih baik kamu pergi,” ucapnya sedikit berbisik. Sesaat Andra berfikir, dan akhirnya mengikuti ucapan pria yang tidak lain adalah teman sekelasnya. Setelah mendapat isyarat dari temannya, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun.

Malam semakin larut, wajah Andra yang ditunggu-tunggu belum juga terlihat. Kali ini bukan sang ibu yang menantikan kehadirannya, tetapi sang ayah. Wajahnya terlihat cemas dan khawatir, sebab sejak sore tadi ia belum melihat anaknya. Saat pria itu tengah menantikan kehadirannya anaknya, dari kejauhan telah tampak seseorang yang tidak begitu jelas sedang berjalan mendatangi rumahnya. Setelah semakin dekat dan jelas, ternyata pria itu adalah Andra. Kedatangan Andra bersamaan dengan kehadiran ibunya yang tiba-tiba berada dihadapannya, “Darimana kamu Ndra? Kenapa baru pulang selarut ini?” tanya sang ibu. Andra hanya diam membisu, tidak peduli dengan pertanyaan ibunya. “Lihat anak papa, selarut ini baru pulang!” tambahnya yang membuat Andra semakin bungkam. “Sudahlah Ma, Andra itu baru pulang, biarkan dia istirahat,” sambung pria berkaca mata dengan bibir tersenyum. “Tidak Pa, Andra itu harus tahu adiknya sedang sakit, bukannya menjaga adiknya, malah kelayapan keluar! Di mana tanggung jawab kamu sebagai abang?” tegasnya dengan nada tinggi.

“Sudahlah Ma, Andra juga butuh kebebasan, dan sekarang dia sudah pulang,” tambah pria itu. “Kamu memang tidak peduli dengan adikmu kan Ndra? Harusnya kamu kuatkan dia, kamu hibur dia, bukan justru pergi menjauhinya.” Air mata itu kembali membasahi pipinya. Dengan sigap sang suami mencoba menenangkannya. “Sudah Ma.. sudah, Andre pasti sembuh, kita harus yakin.” ujarnya dengan suara lembut. “Andre itu tidak butuh Andra Ma, kasih sayang mama itu sudah cukup menguatkannya.” ucapnya sambil bergegas masuk. Sampai di dalam kamar, bibirnya hanya bungkam sambil menatap langit-langit kamar.

Tiba-tiba ia mendengar suara pecahan kaca, segera ia berjalan menuju suara, ternyata suara itu terdengar dari kamar Andre, “Andre…” ujarnya berteriak, “Mama, papa..” teriaknya berulang-ulang. Dengan cemas dan khawatir ia segera merangkul tubuh Andre yang tidak sadarkan diri. Andra tidak menduga bahwa kondisi adiknya sudah semakin memburuk, kursi roda dihadapannya membuatnya sadar bahwa benar-benar membutuhkannya. “Andre, bangun Ndre, maafkan aku.” Suara teriaknya kini telah disambut dengan kedatangan kedua orang tuanya. Dengan hati-hati mereka membawa Andre ke rumah sakit terdekat.

Beberapa saat kemudian dokter keluar dan mengatakan bahwa kondisi Andre semakin memburuk, semuanya pun larut dalam kesedihan. “Sebaiknya mama dan papa pulang, biar Andra yang jaga Andre,” ucapnya. Akhirnya keduanya menurut dan pergi meninggalkan rumah sakit.

Hampir seminggu Andre terbaring di rumah sakit, keadaannya sudah semakin membaik. Tawanya pun sudah lepas seperti dulu, bibir Andra tersenyum saat melihat adiknya tertawa lepas karena ucapannya yang membuat Andre tertawa. Beberapa hari sudah berlalu, pagi itu suasana tak seperti biasanya, hening tanpa terdengar suara apapun. Pagi ini adalah jadwal pertamaAndre check upsetelah keluar dari rumah sakit. Saat Andra keluar dari kamar tiba-tiba sang ibu menghentikan langkahnya, “Andra mau kemana? Temani adik kamu check upya hari ini?” wajahnya tersenyum penuh harap. “Andra mau pergi Ma, ada urusan!” jawabnya berlalu pergi. “Seberapa penting urusan kamu itu sampai tidak sempat untuk menemani adik kamu sendiri?.” “Sejak kapan mama peduli dengan Andra? Bukannya mama hanya peduli dengan Andre? Sudahlah ma Andra tidak ingin berdebat,” sambil berjalan keluar. “Apa kamu bilang? Mama tidak peduli dengan kamu? Kamu salah Ndra, kamu salah, mama sayang sama kamu dan juga Andre,” bentaknya pelan.

Dari sudut pintu kamar, Andre yang menyaksikan perdebatan keduanya merasa sedih dan akhirnya menangis sambil masuk ke dalam. “Ini semua karena aku, aku selalu membuat mereka bertengkar” Ucapnya sambil menangis. “Ada apa ini ma ribut-ribut,” tanya pria berkaca mata menimpali.Tanpa berkata apapun lagi Andra segera melanjutkan langkahnya keluar setelah melihat sosok yang dikenalinya. “Sudahlah ma, jangan terus-terusan berdebat, dia hanya kurang perhatian,” sambungnya. “Kurang perhatian apa Pa? Mama selalu salah dimata Andra”. “Itu karena cara mama yang salah, mama terlalu sibuk dengan Andre sampai lupa ada Andra yang juga butuh perhatian mama,” jawabnya dengan suara lembut. Dengan cepat dibantah wanita itu “Papa selalu saja membela Andra, tidak ada yang peduli Andre, papa sama saja dengan Andra”.

Sekejap wanita itu berjalan menuju kamar Andre, “Andre..hari ini jadwal kamu chek up sayang, ayo keluar..” panggilnya di depan pintu. Karena belum ada jawaban, akhirnya ia masuk ke dalam, sampai di dalam tak ada seorang pun yang berada di dalam. “Andre! Andre kamu di mana?” sambil mencari diseluruh ruangan. “Pa..Andre pergi, Andre pergi..” teriaknya setelah menemukan surat. Sementara disisi lain kaki Andre terus berjalan meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya tanpa tujuan, hanya mengikuti kemana kaki akan melangkah.

Andra yang mengetahui adiknya pergi langsung mencari keberadaan Andre, tiba-tiba di persimpangan jalan Andra melihat adiknya sedang dipegangi oleh sekumpulan orang yang dikenalinya. “Lepaskan dia! Akulah orang yang kalian cari,” ujar Andra dengan wajah memerah. Sontak semua orang terkejut, sebab yang mereka cari ternyata berada dihadapan mereka. “Oh..ternyata kalian kembar, jadi mana hutang loe? Gue mau loe bayar sekarang!” katanya membentak.

“Lepasin adik gue, gue pasti bayar kok tenang aja”. Kata Andra semakin mendekat. Saat mereka lengah, Andra langsung menarik tangan Andre dan membawanya menjauhi tempat itu, dengan cepat mereka mengejar dan memukuli Andra. “Lepaskan kakakku, lepaskan!” teriaknya sambil menangis, tapi tak satupun dari mereka mendengarkannya. Andre benar-benar bingung harus melakukan apa, sesaat ia menekan tombol Handphonemenghubungi papanya.

Mereka terus memukuli Andra tanpa ampun, Andre terus berusaha menyelamatkan saudara kembarnya itu. “Andra..tolong jangan pukuli dia, jangan..” teriaknya tanpa henti. Tangisnya semakin pecah saat polisi datang dan membawa mereka, “Andra..” sang ibu langsung terduduk lemas melihat tubuh Andra bercucuran darah, air matanya tumpah seketika, ia langsung memangku kepala Andra yang benar-benar luka parah.

“Andra, maafkan mama sayang, maafkan mama..” tuturnya. Sang ayah pun tak mampu menahan tangisnya. “Mama tidak salah, Andra yang salah ma, Andra selalu membuat mama menagis maafkan Andra,” ujarnya lirih dengan suara pelan hampir tak terdengar. “Mama sadar, kamu juga butuh mama sayang, maafkan mama yang tidak peduli denganmu, mama sayang kamu..” tangisnya semakin tak terkendali. “Andra juga sa..sayang sama mama, jaga Andre ya ma, jika Andra pergi maka berikan ha..hati Andra untuknya,” sambung Andra terbata-bata. “Nggak kak, kakak harus tetap temani Andre, kakak tidak akan pergi kemana-kemana,” sambil menggenggam erat tangan Andra. “Ma..sebelum Andra pergi, Andra ingin sekali dipeluk mama, boleh kan ma?” pintanya yang langsung dipenuhi oleh sang ibu. “Pa, ma..berjanjilah untuk tidak tertengkar lagi, dan Andre..maafkan kakak yang belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu, kakak menyayangimu And,” ucapannya terputus dan itulah kata-kata terakhirnya sebelum menutup mata, tangis mereka pecah dan tak terkendali. “Andra.. ,” teriak wanita itu dan Andre.

Editor             : Aminata Zahriata

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles