Secangkir Teh di Pagi Hari (Bagian 2)

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. https://food.detik.com/)

Penulis: Rizkiani Fadhila

”Aku mau Andy jadi lulusan sarjana, melanjutkan apa yang ingin aku raih. Sayangnya tidak bisa, karena masalah ekonomi. Itu bikin aku sibuk sama kerjaan sampai jarang masuk kuliah. Kamu, kan, tau, Rin, Ayah, Ibu, bukan orang yang mampu.”

Pagi itu, aku duduk di samping Mas Bima, menaruh secangkir teh yang baru kusiapkan, tersenyum lembut mendengar kalimatnya. ”Tapi sekarang kerja kerasmu itu membuahkan hasil, kan, Mas?”

Baca Juga: Secangkir Teh di Pagi Hari (Bagian 1)

”Karena itu, aku bakal usahakan Andy bisa lanjut kuliah tanpa memikirkan ekonomi.”

”Aku yakin kita bisa.”

”Tapi ada hal yang aku takutkan, Rin,” katanya tiba-tiba, nyaris membuat keningku berkerut.

”Apa?”

”Aku takut aku pergi sewaktu-waktu.”

Mataku membulat, ”Jangan bilang gitu, Mas!”

Mas Bima hanya terkekeh, menyeruput teh manis hangat yang tadi kusiapkan. Namun itu seruputan terakhirnya sebelum sore itu aku mendapat kabar suamiku jatuh dari lantai empat ketika bekerja. Napasku bahkan berhenti, rasanya benar-benar mati hingga ketiga anakku datang di hadapan dan memelukku. Mereka pun menangis, dadaku terasa sesak, suami yang kucintai pergi meninggalkanku beserta ketiga anaknya. Aku mengusap air mataku yang terjatuh saat mengingat kenangan itu. Kurebahkan tubuhku di ranjang, mencoba untuk tidur.

Harum teh tercium di penciumanku, mataku mengerjab menyesuaikan cahaya. Kudapati pula Andy tengah melihat foto sang ayah di meja kerja almarhum di ujung ruangan.

”Kenapa gak bangunin Ibu?’ tanyaku.

Andy menoleh terkejut, menyadariku sudah bangun. ”Ibu nyenyak banget, habis itu badannya agak anget, Andy jadi segan bangunin.”

Ya, aku sendiri merasakan tubuhku agak tidak enak, mungkin karena beberapa minggu ini aku bekerja dari pagi hingga malam di laundry.

”Ibu gak usah kerja, ya, hari ini?” raut wajahnya memelas.

”Kenapa gitu? Lagian Ibu cuma gak enak badan.”

”Kan, udah ada Andy. Nanti Andy yang kerja cari uang untuk Ibu dan adik,” Andy duduk di tepi ranjang.

”Uangnya Andy simpan aja, buat nikah,” kataku terkikik.

Andy mengusap tengkuknya, diam-diam tersenyum malu. ”Ah, Ibu… Andy belum kepikiran sampai sana. Andy mau kerja dulu biar Ibu gak usah capek lagi kerjanya.”

Aku tersenyum. “Tapi Andy harus pikirin hidup Andy ke depannya, toh?’

“Nanti Andy pikirkan, sekarang prioritas Andy hanya Ibu sama adek.”

”Siapa pun yang bakal jadi istrimu bakal beruntung banget. Ibuk jamin,” kataku menatap putra sulungku dengan bangga.

Andy hanya tersenyum. ”Andy udah dapat tawaran kerja di tempat Pak Wijaya, Bu. Insyaallah, gajinya lumayan buat hidup kita sebulan. Terus nanti bakal ikut tes CPNS juga.”

”Alhamdulillah, kalau rencana kamu sudah matang, Ibu akan dukung.”

”Makasih, Bu. Minum teh dulu, Bu, udah Andy buatin.”

Aku mengangguk, tetapi tak langsung meminumnya. ”Ibu mau salat dulu.”

Andy membantuku berdiri dan menuju kamar kecil untuk mengambil wudu. Usai salat, aku kembali duduk di tepi ranjang, menyeruput teh manis buatan Andy.

Lalu aku tersenyum. ”Sejak kapan teh buatan kamu gak kepahitan atau gak kemanisan gini?”

Ia kembali tersenyum. ”Sejak belajar sama satu gadis, Bu. Teman dekat di Kampus, anaknya manis banget, kalau ke kantin selalu mesan teh manis. Aku jadi keinget sama Ibu.”

”Katanya belum kepikiran buat cari jodoh,” kataku menggoda.

Andy tertawa. ”Cuma teman, Bu.”

“Teman hidup?”

Andy kembali tertawa. “Lihat nanti, deh, Bu. Untuk sekarang, Andy mau fokus sama adik-adik dan Ibu dulu.”

“Kalau keduluanan orang lain gimana?”

”Ya… mungkin, orang itu lebih baik dari Andy. Kata Ibu, kalau jodoh, bagaimana pun jalannya pasti dipersatukan, toh?”

Aku hanya tersenyum. ”Andy tau gak filososfi teh?”

”Emang ada, Bu?”

”Ada, dong. Teh itu melambangkan kehangatan dan kebersamaan, makanya Ibu selalu buat teh untuk kita kalau pagi. Almarhum bapakmu itu, gak bisa kalau sehari aja gak minum teh buatan Ibu,” aku tertawa, menjeda ceritaku. ”Cari jodoh itu yang bisa saling memahami, menghargai, dan jaga komunikasi, karena kalau kita udah tua, cuma bisa duduk di teras rumah sambil minum teh,” aku kembali tertawa.

”Ibu kangen Ayah?”

Aku tersenyum. ”Kangen banget. Ayahmu itu selalu paham dan dia sati-satunya orang yang paling mau dengar cerita Ibu,”

”Iya, Bu. Ibu istirahat, ya.” kata Andi.

Aku tersenyum, mengangguk. Andy keluar dari kamar. Mataku terpejam, ruangan sekitarku hening. Senyum di raut wajah lelaki yang pernah menemaniku kembali terlintas. Pria itu seolah menantiku di tengah-tengah sinar cahaya di belakangnya. Napasku melemah, gelinang air mata jatuh perlahan, semua seketika senyap hingga napasku benar-benar sesak, dan pandanganku menggelap.

”Kamu udah usaha sebaik mungkin,” sosok yang paling dirindukan tiba-tiba muncul di pandangan.

”Mas?” aku berlari memeluknya. ”Aku rindu.”

”Aku juga sangat merindukanmu, Rin.”

”Andy sebentar lagi akan Wisuda,” kataku memberitahunya.

Ia mengangguk, ”Makasih udah wujudin itu, kamu sangat hebat, aku beruntung punya kamu.”

”Kamu udah lakukan yang terbaik, Andy paham itu. Kamu juga udah jadi istri yang baik, dan Ibu yang baik untuk anak-anak kita, Rin.”

”Mereka akan baik-baik aja, kan?”

”Mereka akan baik.”

Seketika hatiku tenang. Mungkin memang sudah waktunya. Andy, Ibu titip adik-adikmu, maafkan Ibu tidak dapat membantu, maafkan bila ini terasa membebanimu, maafkan Ibu pergi lebih dahulu. Terima kasih sudah menjadi anak-anakku, dan bila nanti saatnya akan tiba, Ibu akan senantiasa menunggu kalian di surga.

Baca Juga: Seribu Langkah Pulang /6/

TAMAT

Editor: Fadillah Hanum

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles