Secercah Asa /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Albihar Alamsyah)

Penulis: Fadillah Hanum

Angin malam berembus menerpa wajah dua sekawan, yang tengah asyik menikmati jalanan kota yang sesak dipenuhi kendaraan. Sesekali bercengkerama, mengulik kisah yang pernah mereka ukir bersama teman sepermainan mereka dahulu.

Hingga akhirnya, motor yang dikendarai Anin berhenti di salah satu toko buku. Niyana dan Alana keluar malam itu. Sebenarnya, mereka berdua itu pemburu diskon. Maka dari itu, kala ada informasi yang berkaitan dengan potongan harga, orang yang paling semangat mengambil kesempatan itu adalah Anin dan Ala.

Seperti dugaan mereka, akan banyak orang yang menghadiri event tersebut. Banyak dari mereka yang antusias dengan event yang tengah diadakan. Lantaran, buku-buku best seller yang banyak dibicarakan orang-orang, juga ikut serta dalam jajaran buku yang akan didiskon.

Baca Juga: Makan dan Minum Tidak Boleh Berdiri

Menentukan pilihan untuk membeli buku yang dirasa cocok, memang membutuhkan waktu yang lama. Setengah jam waktu yang dihabiskan mereka hanya untuk berkeliling mencari buku yang bisa dibeli. Namun, perburuan mereka dijeda dahulu karena ada barang lain yang ingin dibeli.

“Lihat, barang-barang ini sering kita lihat berserakan di jalan. Di luar bisa kita dapat gratis, tapi coba lihat ini, hahaha,” canda Anin saat melihat rentetan daun kering, yang mereka rasa sangat aneh jikalau barang-barang seperti itu dijual.

“Heh, hahaha. Tapi, tempat-tempat seperti ini surganya orang-orang yang aesthetic itu ngga, sih?” jawab Ala menanggapi.

“Iya, ya. Entah berwujud apa barang ini, kalau ada di tanganku,” ucap Anin lagi.

“Memang ngga diperuntukkan kita itu,” jawab Ala menyudahi.

Selain pemburu diskon, hal lain yang suka mereka lakukan adalah meledek hal-hal aneh nan unik yang mereka temui. Tidak untuk ditiru, namun begitulah mereka.

Beralih dari rak barang-barang tersebut, mereka pun kembali ke tumpukan buku buruan mereka. Hingga akhirnya, 10 menit sebelum toko buku tersebut tutup, keduanya baru menetapkan buku pilihan dan melakukan transaksi.

“Habis ini kita ke mana, ya?” tanya Anin sembari mengeluarkan motornya dari parkiran.

“Bingung, tempat makan mana lagi yang jam segini masih beroperasi,” jawab Ala. “Jalan saja dulu, berhenti kalau ada tempat makan yang buka,” sambung Ala sembari memikirkan mau di mana dan mau beli makanan apa nantinya.

“Oh iya, aku mau beli kopi untuk menghilangkan kantuk,” kata Anin, si penggila kopi.

“Sip. Nanti kita berhenti di pertigaan itu. Oh iya, kemarin sempat lihat food court di depan pusat perbelanjaan dekat pertigaan yang jualan kopi itu. Setelah beli minum, kita makan di sana, ya,” jelas Ala.

Sesampainya di tenant food court, mereka terkagum dengan tenant yang ada di sana. Mereka pikir hanya makanan yang dijual di food court pada umumnya. Ternyata, banyak makanan unik yang dijual di sana, seperti halnya dimsum bakar.

“Kok ngga dari kemarin ya kita ke sini? Kalap banget sih ini, berasa pengen beli semua makanannya,” kata Ala.

Setelah memesan beberapa makanan yang akan disantap, mereka berdua duduk di tempat yang sudah disediakan sembari menunggu pesanannya datang. Banyak cerita yang dibagi Anin kepada Ala, begitu pula sebaliknya. Apalagi, Anin dan Ala yang saat ini hanya bisa bertemu jikalau ada waktu luang.

“Dulu kita kalau ngumpul berisik ya,” ucap Ala dengan tatapan kosongnya.

“Ala, kita ngga bisa menahan orang-orang untuk terus bersama kita, dunia mereka bukan tentang kita saja. Begitu juga aku, bahkan Ala, dunia kita juga bukan mereka saja, kan?” jelas Anin sambil menghela napas.

“Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya, ya?” sambung Ala lagi.

Bersambung…

Baca Juga: Ikhlas Terhadap Takdir yang Telah Allah Berikan

Editor       : Annisa

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles