Segelas Air Mineral

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: www.google.com

Penulis: Nurul Farhana Marpaung

            Perlahan kupaksa membukakan kelopak mata yang sedari tadi bak terkunci rapat. Kantuk yang tak dapat dihindari setelah satu malaman bergadang karena tugas kuliah ditambah lagi hapalan dan disambung makan sahur dan salat subuh. Dengan masih mengenakan mukena, rupanya aku tertidur selama tiga jam. Kawan satu kosku sudah mendahuluiku pergi ke kampus.

***

            “Han, bangun! Masuk jam berapa?” Seru Riri membanguniku.

“Mmmm…” desahku sambil menangkis tangan Riri.

Rupanya Riri dengan niat baiknya membanguniku sebelum dia berangkat ke kampus. Kala itu aku masih terlena dengan alam mimpi setelah semalaman penuh tidak merebahkan badan di kasur empukku itu.

***

            Dari sudut mata kanan, tanpak pantulan cahaya matahari itu masuk melalui sela-sela jendela. Langsung saja ku lipat kasur dan ku susun bantal segera beranjak dan melihat jam di telepon genggamku, ternyata sudah pukul delapan. Padahal mata kuliah pertama masuk pukul sembilan.

Hari ini kami dihantam sebanyak 10 SKS dengan 4 mata kuliah beserta tugas-tugas yang menumpuk. Alasannya sangat sederhana, mengejar ketertinggalan selama waktu perkuliahan. Wah.. itu bukannya sederhana, tapi alasan itu sangatlah rumit menurut batinku. Waktu istirahat yang singkat yang hanya diberi waktu selama beberapa menit untuk pergantian mata kuliah, kemudian sekitar setengah jam waktu untuk salat.

“Han, bangun!” Ucap Ais membanguniku.

Dengan pena masih berada ditangan kanan dan tertancap dibuku catatan, kepala merebah ke meja dengan berbantalkan tangan. Mata dan kepala terasa berat membuatku tak sanggup mengikuti mata kuliah yang ketiga. Dengan secara tidak sadar Aku tertidur, walau hanya sebentar. Ternyata tiga teman di sampingku pun ikutan tidur berbaris bagai ditiup angin.

“Sudah lama Aku tertidur?” Tanyaku sambil mengusap mata.

“Dari tadi dibanguni tapi kok nyenyak kali kau, Han! Lebih kurang 15 menit lo,” gerutu Ais seraya memberi buku catatannya.

Untung saja dosen kali ini benar-benar baik hati, dia tidak marah malah bertanya dengan nada yang lembut. Ah, beruntung sekali rasanya. Mungkin dia maklum dan tahu sebabnya. Karena aku anak yang baik, dan tak biasanya seperti itu jadi wajar saja dia tidak marah malah tertawa.

“Mungkin karena bulan puasa juga makanya bapak ini baik,” kataku pada Ais.

“Huss..bapak itu kan memang baik,” cetus Ais dengan mengerutkan kening.

Kumandang adzan bergema tanda salat Ashar pun tiba, satu demi satu keluar kelas menuju masjid dengan langkah dipercepat karena mata kuliah keempat sudah menunggu. Dosen ketiga masuk, paparan demi paparan pun dijelasan oleh pemakalah dengan stamina yang telah jauh menurun, tak sedikit dijumpai kawan-kawan yang tidak serius lagi mengikuti perkuliahan sore itu. Sebagian mengoceh, tertidur, main handphone, bahkan bermain andalan ludo untuk menghilangkan kebosanan dan kepenatan mereka. Dosen pun tak lagi dihiraukan keberadaannya, seakan tak punya etika dan sopan santun lagi.

“Aduhh…mati lagi,” suara gemerisik terdengar dari deretan laki-laki.

“Ngantuk kali Aku cemanalah!” Ditambah gemerisik lainnya berasal dari bangku belakang.

Bunyi handphone pun bersambut-sambutan. Sesekali moderator menenangkan keadaan, pun dosen ikut menenangkan dan mempercair suasana. Kadang juga sang dosen melirik-lirik ke deretan bangku belakang, karena sumber keributan berasal dari sana.

“Alhamdulillah.. perkuliahan kita untuk semester VI berakhir,” tutup Pak Dosen.

“Alhamdulillah,” serentak menjawab.

Ku tutup buku catatanku seraya memasukkan ke dalam tas lalu ku sandang. Langkah tegappun dipasang, karena setengah jam lagi waktu untuk berbuka puasa.

Angkot yang biasa ku naiki telah menunggu, yang katanya angkot terakhir. Buru-buru ku masuki rumah makan sederhana itu untuk membeli lauk berbuka puasa. Memakan waktu yang cukup lama menunggu ibu itu memasaknya terlebih dahulu. Niat hati mau cepat ternyata tidak. Ku lihat juga jam di telepon genggamku, ternyata waktu untuk berbuka puasa sudah dekat. Setelah selesai, segera ku naiki angkot dan sebagai antisipasi ku beli air mineral sebagai pelepas dahaga berbuka puasa.

“Puasa, Dek? Sudah adzan!” Kata supir itu.

Terdengar suara adzan dari radio angkot supir itu. Tapi Aku masih ragu bahwa sumber adzan itu bukan dari radio Medan.

“Sudah berbukanya kau, Dek?” Tanyanya.

“Itu radio Medan, Pak?” Tanyaku memastikan.

“Iyalah, buka aja. Udah haus kan?” Ujarnya sambil tertawa.

Langsung saja ku baca doa berbuka, ku teguk segelas air mineral dingin yang sebelumnya ku beli. Rasanya dahagaku hilang, rasa capek dan lelah serasa terbayar. Aku lega setelah berbuka puasa walau hanya dengan segelas air mineral dingin.

“Alhamdulillah,” ucapku dalam hati sambil tersenyum melihat dan menikmati segelas air mineral dingin pelepas dahaga itu.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles