
Penulis: Muhammad Ihsan
Anak laki-laki itu masih duduk di bawah pohon flamboyan, menggambar sesuatu di tanah dengan ranting kecil. Dunia di sekelilingnya tetap membeku, tetapi justru pada titik itu, Arga merasa paling tidak siap.
Langkahnya pelan, nyaris ragu, hingga akhirnya ia berdiri tepat di belakang anak itu. Anak itu tidak langsung menoleh, seolah sudah tahu siapa yang datang.
Baca Juga: Selamat Datang di Hari Terakhir (Bagian 2)
“Permisi …” suara Arga pelan.
Anak kecil itu menoleh. Arga berhenti sepenuhnya.
Wajah itu bukan wajah orang lain. Itu wajah dirinya sendiri, lebih kecil, lebih polos, dengan mata yang belum pernah mengenal lelah seperti sekarang.
“Kakak siapa?”
Arga menelan ludah.
“Aku … Arga.”
Anak kecil itu mengernyit.
“Loh, aku juga Arga.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Arga duduk perlahan di sampingnya.
“Aku … dari masa depanmu.”
Anak itu tidak tampak terkejut. Justru ia menerimanya begitu saja.
“Berarti nanti aku jadi besar, ya?”
“Iya.”
“Enak nggak jadi besar?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam lama. Ia ingin menjawab enak, tetapi lidahnya tidak mau bekerja sama.
“Nggak selalu.”
“Kenapa?”
Arga menatap tanah yang sama.
“Soalnya nanti kamu bakal sering bingung. Sering capek. Sering ngerasa sendirian.”
Anak kecil itu mengangguk pelan, seolah memahami meski belum pernah merasakannya.
“Terus kenapa aku harus jadi gede?”
Arga tersenyum tipis. Senyumnya pahit.
“Aku juga lagi nyari jawabannya.”
Anak itu kembali menggambar.
“Ayah sama Ibu masih main sama aku?”
Arga kembali terdiam.
“Masih … tetapi nggak sesering sekarang.”
“Oh.”
Tidak ada kesedihan dalam suaranya. Hanya satu kata yang meluncur pelan.
“Ibu masih menyanyi sebelum tidur?”
“Nggak lagi.”
Anak itu kembali berhenti menggambar.
“Kenapa?”
“Soalnya kita udah sibuk.”
“Kalau gitu, jadi besar itu capek, ya?”
“Iya.”
Sunyi kembali jatuh. Namun, kali ini tidak terasa dingin. Lebih seperti kekosongan yang jujur. Tak lama kemudian, Pak Waktu muncul di belakang mereka.
“Sudah waktunya.”
Arga langsung menoleh.
“Belum.”
“Aku baru ketemu dia.”
Pak Waktu tetap tanpa ekspresi.
“Justru karena itu, kamu harus berpamitan.”
Anak kecil itu berdiri. Ia menepuk celananya yang kotor, lalu tersenyum kepada Arga.
“Kak, aku senang ketemu kamu.”
Arga menggigit bibirnya.
“Aku juga.”
Anak itu mengulurkan tangan kecilnya. Arga menggenggamnya erat.
“Kalau nanti aku capek …”
Ia tersenyum.
“Jangan lupa ketawa, ya.”
Arga mengangguk. Air matanya tak lagi mampu ditahan.
“Jangan buru-buru jadi orang sempurna,” lanjut anak itu.
“Soalnya aku masih di sini.”
Ia menunjuk dada Arga.
Saat itu, cahaya mulai muncul dari tubuh kecilnya, seperti pagi yang datang tanpa suara. Arga langsung menarik tangannya.
“Jangan pergi …”
Anak itu tersenyum.
“Aku nggak pergi.”
“Aku cuma pulang ke tempatku selama ini.”
Cahaya itu makin terang. Tubuh kecil itu perlahan menghilang, seperti debu yang ditiup angin. Jarum jam bergerak lagi.
Tik.
Orang-orang kembali berjalan. Hujan kembali turun. Klakson kembali terdengar. Waktu kembali bergerak. Halte itu telah menghilang, begitu pula Pak Waktu.
Arga berdiri sendiri di tengah trotoar. Tangannya masih menggantung di udara, seolah belum selesai memeluk sesuatu. Ia menatap ponselnya.
17.45
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sesampainya di rumah, aroma masakan dari dapur langsung menyambutnya. Suara panci beradu, televisi kecil di ruang tengah menyala. Hal-hal yang biasanya tidak pernah ia perhatikan malam itu terasa berbeda.
Ibunya menoleh dari dapur.
“Sudah pulang?”
Arga terdiam sesaat.
Wajah itu masih sama. Namun, untuk pertama kalinya, Arga tidak hanya melihat sosok seorang ibu, melainkan seorang anak perempuan yang pernah bernyanyi di depan cermin sambil menggenggam mikrofon mainan.
“Iya, Bu.”
Jawabannya terlambat beberapa detik.
Di ruang tengah, ayahnya duduk sambil bekerja. Gerakannya biasa saja, seperti hari-hari sebelumnya. Namun, di benak Arga masih terbayang anak kecil yang menggambar pesawat di trotoar.
“Capek, engga?” tanya ibunya lagi.
Arga menggeleng.
“Nggak terlalu.”
Padahal, di dalam dirinya, sesuatu baru saja berubah.
Malam itu Arga masuk ke kamar lebih cepat dari biasanya. Ia duduk lama di tepi ranjang, lalu membuka buku catatan kosong yang sudah lama tidak disentuhnya.
Beberapa menit berlalu. Ia hanya menatap halaman putih itu. Hingga akhirnya ia menulis satu kalimat.
“Menjadi dewasa bukan berarti kehilangan anak kecil di dalam diri. Melainkan belajar berjalan bersamanya, pelan-pelan.”
Ia memandangi tulisan itu beberapa saat, lalu menutup bukunya.
Beberapa tahun kemudian …
Seorang anak laki-laki duduk di pangkuan Arga sambil memainkan mobil-mobilan.
“Yah …”
“Hm?”
“Kalau sudah besar enak nggak?”
Arga terdiam sesaat. Pertanyaan itu terdengar begitu akrab. Ia tersenyum pelan.
“Kadang enak, kadang enggak.”
Anak itu berpikir sejenak.
“Kalau gitu aku pengen cepet besar.”
Arga mengusap rambutnya lembut.
“Boleh.”
“Tapi, jangan buru-buru.”
Di luar, senja turun perlahan dengan jingga yang sama seperti hari ketika waktu pernah berhenti.
Di suatu tempat yang tak dapat dijelaskan, seorang kakek duduk di halte tua sambil menyeruput teh hangat. Ia menunggu seseorang yang suatu hari akan mengucapkan kalimat yang sama.
“Aku ingin balik jadi anak kecil.”
Baca Juga: Selamat Datang di Hari Terakhir (Bagian 1)
Editor: Ummy Syafitri

