
Penulis: Maya Riski
Tinta usang itu berpisah
Padahal susah payah aku merajutnya
Kertas ini telah basah
Padahal kuselalu mengharapkannya
“Sehhhhhhh, galau Bu Haji?” tanya Armi sambil tertawa melihat tulisanku di buku Matematika berwarna biru.
“Buset, itu apa? Puisi? Syair? Pantun? Atau dear diary? Hahaha, tapi tunggu nih buku kayanya aku tahu deh punya siapa. Ini kan buku tugas Matematikanya Armi ya, Nya?” tanya Nia sambil menahan tawa.
“Ha? Beneran, Nya?” tanya Armi terkejut sambil mendekat.
“Ya Allah Anya…, ini buku tugas aku yang kamu pinjemin buat nyontek tadi pagi kok dicoret-coret? Di bawah tugas yang bakal dikumpul lagi, Anyaaaaa….” Wajah sedih sekaligus kesal Armi tak menggubris perasaanku yang sedang bimbang setelah bertemu dengan ‘Bang Rahman-nya’ seusai waktu istirahat kedua.
***
“Dijemput siapa, Nya?” tanya Armi.
“Ha? Aku naik angkot Mi, Ibu aku lagi tempat saudara soalnya.”
“Bareng aku aja kalau gitu.”
“Kamu nggak marah sama aku, Mi?”
“Tadinya sih iya Nya, tapi kan Pak Budi nggak datang, jadi di-cancle deh marahnya,” ucap Armi sambil memberiku helm.
Sepanjang perjalanan tak banyak yang kami bicarakan, mungkin karena kami terlalu sering berbicara bersama, jadi bingung apa yang mau dibicarakan sampai Armi mulai bertanya.
“Tadi jadikan Nya jumpa Pak Rahman?” tanya Armi.
“Jadi, Mi.”
“Kok cepat banget, Nya?”
“Emmm, iya ya?”
“Tapi ya Nya, kenapa setelah dari ruangan Pak Rahman murung banget, cerita dong Nya, mana tau aku bisa bantu, hehe,” ucap Armi sambil berusaha melihat wajahku.
“Eh Mi, awas….!” teriakku dengan kencang.
Bersambung…

