
Penulis: Raihana Tuzzikriah
Konyol banget aku, menari di bawah rinai hujan dengan jalan yang penuh sesak lalu lintas. Tapi entah kenapa aku malah menikmatinya. Gemericik hujan, tetesan air hujan, dan juga rasa kebebasan. Aku tidak peduli perhatian orang-orang yang lalu lalang di jalan tertuju padaku. Karena earphone yang menutup lubang telingaku dan melodi musik yang membuatku semakin merasakan kebebasan dan keberanian melakukan hal konyol itu, aku malah semakin menikmatinya.
Beberapa tahun yang lalu, di tempat yang selalu menjadi kenangan indah dalam hidupku.
“Jan.. Jani!”. Teriak sahabatku.
Aku tak peduli teriakannya, aku terlalu fokus pada makhluk sempurna ciptaan Tuhan itu. Tinggi jangkun, rambut hitam legam serta tebal, senyumnya manis, kulit putih nan bersih serta kumis tipis nya itu.
“Jani, ” tanganku diguncang dengan kasar. Kesal.
“Apaan sih? Ganggu orang aja”. Kataku sewot.
“Kau dipanggil Mam Ida, dia marah karena kau belum ada ngumpul tugas kan?” Kata teman ku diselingi senyum liciknya itu.
“Astaghfirullah,” kataku sambil memegang kepala.
“Udah sono pergi! Sebelum nilai kau dicabut,” Katanya mengusirku.
“Oke.. Makasih ya lainnya, ku berlari ke kelas.
Sebenarnya tugasku sudah siap dari beberapa hari yang lalu dan semalam adalah waktu pengumpulan, tapi aku lupa membawanya. Untung saja aku diberi kelonggaran, kalau tidak nilai jadi taruhannya.
Setelah perkaraku selesai, aku langsung kembali ke kelas karena sebentar lagi bel masuk kelas setelah istirahat akan berbunyi. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku, si pendiam itu, dia masih saja duduk di bangku taman sekolah, asyik dengan novel tebal yang dipegangnya.
“Woy! Ngapain? Masuk kelas lho!” Kataku menyahut duluan setelah 2 menit duduk disampingnya dan setelah itu bel masuk berbunyi.
“Iya ya?” Tanyanya bingung.
Langsung saja aku pergi dan masuk kelas, ternyata dia mengikutiku dari belakang, berjalan kikuk sambil melihat sekitaran lorong sekolah yang sudah lengang. Si pendiam, begitulah ku sebut dia, bukannya mengejek atau lainnya hanya saja aku dari awal tidak tau namanya. Tanda nama yang biasanya di seragam putih abu-abu tertutup dengan jilbab besarnya. Walaupun dia sekelas dengan ku tapi dia tidak banyak berbicara di kelas.
“Buku apa yang kau baca?” Tanyaku sambil berjalan ke kelas ku yang paling ujung.
“Novel fantasi,” katanya singkat, sudah jadi kebiasaan dia untuk berkata singkat.
“Oh lain kali boleh pinjam ngak, tanyaku basa-basi.
“Boleh”. Tiba-tiba saja dia memberikannya padaku.
“Lho? Bukannya kau lagi baca?” Tanyaku.
“Sudah selesai,” jawabnya singkat lalu kami berpisah duduk di bangku yang berjauhan, belum sempat aku mengucapkan terimakasih dan sedikit terkejut, padahal aku hanya basa-basi. Ternyata guru belum datang ke kelas, selamat.
***
Setahun berlalu, dan sekarang sudah dua tahun aku berada di Sekolah Menengah Atas Negeri ini, rambutku makin panjang, aku tidak memakai jilbab seperti Aisyah, sekarang aku sudah tau nama si pendiam itu karena kami semakin lama semakin dekat. Berbicara tentang sastra, pelajaran, pemikiran masing-masing serta tentang cinta. Cinta, orang yang selama ini aku kagumi dan juga aku intip dari balik kejauhan menjadi orang yang berarti istilahnya pacar. Aldo, dia menembakku beberapa hari yang lalu. Langsung saja aku curhat dengan sahabatku Nay, walaupun sudah berbeda kelas tapi kami tetap berkomunikasi. Tidak lupa dengan Aisyah, aku curhat dengannya, dia banyak memberikan aku nasehat sebelumnya.
“Kau tau, dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran, aku berharap kau bisa menjaga hatimu dari hal-hal yang belum saatnya kau rasakan, nanti setelah menikah,” katanya dengan senyuman.
“Perasaan itu lumrah tapi sekedarnya saja apalagi pada makhluk ciptaan Allah. Jangan melebihkan harapanmu itu kepada makhlukNya, cukup Allah saja, kau tau kan kisah Nabi Yusuf dan seorang wanita yang bernama Zulaikha,” katanya antusias.
“Pakai hijab lha.. Hijrah dong,” katanya setelah aku menyinggung jilbab besarnya.
“Kau tau kan topeng? Alat menyembunyikan wajah. Menutupi rahasia di balik rahasia. Bukan tujuan jahat. Atau pun menjadi munafik. Tapi menyamarkan perasaan dan pikiran. Ketika hal yang tidak diharapkan terjadi. Terkadang butuh topeng itu. Menyembunyikan rasa”. Itu tertera di belakang buku tulis yang aku pinjam, dia yang menulisnya.
Aku tak begitu peduli dengan apa yang diucapkan, aku berpikir ini adalah kesempatan menerima seseorang yang dari dulu aku dambakan menjadi pacar, kekasih.
Setahun berlalu, dan sekarang dua tahun, aku telah menjadi mahasiswa aktif di kampus ternama. Pacarku masih tetap sama, Aldo.
Terik panas matahari menyengat kulitku karena sekarang musim kemarau, aku tidak perduli karena hari ini adalah hari spesial bagi kami yang sudah tiga tahun berlalu kami pacaran. Rencananya aku mau memberikan kejutan di tempat kerja part time nya dekat taman kota.
Aku memasuki rumah sederhana yang disulap menjadi restoran sejuk. Dia bekerja sebagai pelayan, sebenarnya yang punya restoran adalah pamannya sendiri. Aku mencari keberadaannya, melihat ke arah kanan dan kiri. Suasana yang begitu santai dan sejuk, tidak terlalu ramai. Tapi ada suara berisik aku mendekatinya.
Nay, iya itu dia, sudah dua tahun aku tidak bertemu dengannya. Dia duduk sendiri dipojok. Aku mau menghampirinya namun kakiku tertahan, hatiku mengiris, air mata keluar begitu saja melihat seseorang yang ku kenal memeluk dan mencium pipi Nay serta memberikan Nay kado kecil, Aldo, dia melakukan itu.
Kue yang susah payah ku buat jatuh begitu saja, tentu saja mereka tidak melihatku karena aku lari dan bersembunyi begitu saja. Mungkin tempat yang pas adalah taman kota sebagai tempat pelarianku.
“Tes“. Satu tetesan hujan mendarat di pipiku. Kemudian ribuan tetesan hujan datang memburu tubuhku, di situ aku mulai menangis lalu memasang earphone dan menghidupkan lagu. Kemudian menari seperti orang gila.
Teringat tulisan Aisyah.
“Kau tau kan topeng? Alat menyembunyikan wajah.. Menutupi rahasia di balik rahasia. Bukan tujuan jahat. Atau pun menjadi munafik. Tapi menyamarkan perasaan dan pikiran. Ketika hal yang tidak diharapkan terjadi.Terkadang butuh topeng itu.Menyembunyikan rasa”
Mungkin hujanlah yang menjadi topengku, kebebasan rasa penyesalan bersatu jadi satu. Kekonyolan pertama kali yang kulakukan, butuh keberanian juga rasa untuk melepaskan kesakitan hatiku. Lalu setelah hujan aku tak tahu apa yang akan ku lakukan?
Editor : Siti Arifahsyam

