
Penulis : Juraidah Nasution
Pagi hari yang cerah dengan senyuman sang mentari yang bersinar menerangi bumi seolah keadaan hari itu juga yang ku rasakan saat aku berada di usia 5 tahun, ketika itu aku masih berada dibangku TK. Namaku Ririn, aku mempunyai seorang abang yang usianya 2 tahun di atas ku. Aku juga mempunyai ayah dan ibu dan keluarga besar yang penuh dengan kebahagian dan hidup yang berkecukupan.
Selain keluarga ada juga seseorang yang dekat dan selalu bersamaku, namanya Samuel biasa dipanggil Sam. Pulang sekolah bersama ketika orang tua Sam tidak bisa menjemputnya, begitu pun dengan ku. Saking dekatnya, kami sering liburan bersama keluarga sehingga dengan itu aku sampai lupa mencari sahabat selain Samuel.
Aku gak butuh orang lain untuk berada disisiku. Aku cuma butuh Sam sebagai sahabat ketika aku merasa senang dan sedih sebab Sam yang selalu mengerti dengan keadaan. Dia selalu membuat hari-hari selalu indah. Bahkan dia seolah malaikat yang dikirim Tuhan kepadaku.
Hingga umurku beranjak 12 tahun ketika aku berada diakhir bangku SMP, kami memutuskan untuk melanjutkan sekolah favorit masing-masing. Aku dengan sekolah yang ada ilmu fisikanya sedangkan Sam mengambil sekolah kejuruan.
Satu tahun berlalu, sebuah kejadian tragis datang kepada keluargaku, ke dua orang tuaku meninggal karena tabrakan tragis dan hal tersebut membuat ku tak bisa berkata apa-apa semua terasa gelap seolah dunia tak jejak untuk ku jalani. Semua itu seolah mimpi buruk bagiku,
“Rin,” panggil Sam saat di pemakaman.
“Sam,” balas Ririn sambil menangis
“Menangislah sepuas yang kau mau, aku akan berikan bahuku untuk tempat sandaran mu,” kata Sam sambil memeluk Ririn seraya menenangkan.
“Sam…. Aku gak tahu ntah apa yang ku rasakan saat ini, hatiku sekarang bergejolak tak menentu, aku ingin marah dengan Tuhan sebab kenapa dia membiarkan semua ini terjadi dan kenapa dia merenggut kebahagiaanku, umurku masih 13 tahun dan aku gak sanggup menghadapi kenyataan yang seperti ini. Tuhan terlalu memaksaku untuk bisa mandiri dan menjauhkan semua yang aku sayang. Kau tahu aku sekarang sendiri, aku gak mempunyai ayah dan ibu, gak ada yang lagi menyayangi ku, Sam,” tangis Ririn memuncak.
“Jangan pernah berkata seperti itu, ada aku dan Aris sebagai abangmu yang bisa selalu menyayangimu dan bisa menjadi teman dalam hidupmu. jangan pernah memaksakan semua kehendak mu, hidup itu seperti roda dan selama nya yang kita inginkan tak selamanya sesuai dengan rencana yang kita harapkan, cobalah untuk mengikhlaskan semua yang terjadi dan terima kenyataan yang ada itu adalah cobaan yang diberikan Tuhan kepadamu sebab itu tanda cintanya kepadamu, seberapa sabar kau menghadapi ujian yang diberikannya kepada mu,” hibur Sam.
“Sabar, ikhlas itu gak mudah Sam, mungkin karena kau gak merasa kan yang aku rasakan. Mudah untuk berbicara dan tak mudah untuk berbuat Sam, tolong pahami aku,” cetusku dengan nada tinggi.
“Emang betul semua ucapanmu Rin, aku hanya bisa berbicara tapi percayalah aku bisa merasakan apa yang sedang kau rasakan saat ini, dan yakinlah Rin semua ini pasti ada hikmahnya aku percaya samamu kau Ririn temanku yang bisa melewati hal ini, dan aku akan selalu ada disaat kau butuhkan aku dan aku berjanji kepadamu aku gak akan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu berada disampingmu itu janji ku denganmu, Rin,” ucap Sam menenangkan.
“Sam,” mata bekaca-kaca.
“Iya aku janji, aku harap jangan bersedih lagi, ayo kita pulang semua orang udah pulang dan sampai kapan kita harus di sini. Hmmm atau sampai aku jadi keriput gara-gara nunggui gadis cantik yang gakmau berhenti menangis,” Sam mencoba menghibur.
“Sam,”
“Iya gadis cantikku, aku dengar panggilan mu,” jawabnya senyum.
“Terima kasih Sam udah jadi temanku, dan makasih atas senyumanmu, aku beruntung bisa punya diri mu Sam, aku berharap kau bisa menepati janjimu kepadaku, hanya kau dan Aris sekarang yang ku sayang,” pintaku sambil memeluk Sam.
“Iya gadisku, sekarang kita pulang biar aku mengantar mu,” sambil melepas pelukan.
Satu hari berlalu setelah pemakaman orang tua Ririn, ketika itu Ririn masih mengambil libur sekolah.
Sam sekarang dimana? Bisa datang ke rumah bentar gak, Ririn gak mau makan ni dari semalam. Dia hanya mengurung dirinya di dalam kamar, dia gak mau dengarin aku, dia bisa sakit kalau begini terus menerus, dia bakalan makan kalau kau yang nyuruh, datanglah segera yan sam. Pinta Aris kepada Sam melalui sebuah pesan singkat.
***
“Rin, tahu gak hari ini aku jumpa Melisa dia makin cantik ya, trus dia nanya kabarmu, katanya mana gadis cantikmu Sam biasanya selalu ada di dekatmu, terus aku jawab dia gak mau dekat-dekat samaku karena gadisku itu unik orangnya, dia gak akan jumpai aku kalau dia lagi ngambek apalagi kurus karena gak makan, jadi dia selalu menjauh dari ku walaupun aku rindu banget sama dia,” Sam mencoba merayu.
“Terus aku juga jumpa sama Jak di kelasmu, dia bilang kalau dia rindu samamu ya aku spontan marah karena hanya aku yang boleh merindukanmu, karena kau gadis cantikku. Jadi keluarlah Rin, aku rindu banget denganmu aku ingin bercerita dan melihat senyum manismu, ku harap jangan kecewakan aku untuk datang kesini,”
“Rin, please keluarlah!”
Hmm.. ku rasa kamu gak akan keluar, sebaiknya aku yang harus pergi. Ya sudah aku pulang ya Ririn, jaga kesehatan mu!” Bersembunyi dibalik sofa
“Sam..sam.. kamu dimana? Apa mungkin dia udah pulang? Sam, kamu dimana? Aku juga rindukamu, Sam. Jangan tinggalin aku!” Teriakku sambil keluar rumah.
“Aku disini, aku gak akan pergi kok dari kamu, aku akan selalu di sampingmu karena itu janjiku,” Sam keluar dari balik sofa dan menghampiri ku.
****
Hari-hari pun berlalu begitu juga dengan Ririn yang sudah sembuh dari lukanya tentang bayang-bayang ke dua orang tuanya. Dia sekolah seperti biasa dan begitu juga hubungannya dengan Sam yang semakin hari semakin dekat sehingga membuat perasaanku berubah bukan lagi sebatas sahabat tetapi melebihi dari sahabat yang aku rasakan kepadanya dan aku berpikir dia pun begitu. Akan tetapi suatu ketika entah apa yang terjadi dengannya, Sam berubah 180 derajat.
“Sam, kamu kenapa? Kenapa akhir-akhir ini selalu menjauh dariku. Apa aku ada salah dengan mu? Tanyaku.
“Eh rin, aku sampai kaget kau ada di sini. Hmm.. oya kenalin ini teman aku Adi
“Hai Rin,” sapa Adi seraya mengulurkan tangan.
“Hai juga, aku Ririn!”
“Oya Sam kamu kok gak jawab pertanyaan aku ya kenapa kamu akhir-akhir ini berubah, apa aku punya salah denganmu?” Tanya Ririn mengulangi.
“Salah apa? Gak kok! Oya Rin kamu nanti pulang sama Adi ya soalnya aku ada urusan lain, penting soalnya,” pinta Sam sambil tertawa.
Entah apa yang terjadi, Sam memang betul-betul berubah. Dia tak menjawab pertanyaanku, kenapa dia akhir-akhir ini menjauhiku. Dan tak lama berselang dari hari itu aku mendengar Sam mempunyai pacar baru namanya Mika. Dia satu sekolah dengan Sam. Dan begitu juga Adi dia juga selalu berusaha mendekatiku.
“Sam,” Ririn mencoba memanggil.
Sam mengabaikan panggilan Ririn
“Sam..Sam kamu kenapa? Aku panggil berulang kali tapi kamu mengabaikan panggilanku. Kamu berubah sam! Aku gak mengenal kamu Sam, kamu baik denganku dan kamu berjanji akan selalu disisi ku, kamu selalu akan membuatku bahagia tapi kenapa kamu berubah?” tanyaku heran.
“Aku tahu Sam sekarang kamu sudah punya pacar mungkin itu alasan mu kenapa menjauh dariku, dan aku sadar kalau selama ini aku mengharapkan lebih darimu, mengharapkan kamu selalu ada di sisiku disaat bahagia dan sedih,” cetusku.
“Aku gak seperti yang kamu bayangkan, aku manusia dan kadang butuh kebebasan untuk hidup, selama ini aku merasa terkekang hidup di sisi mu, kau selalu saja bicara seluruh masalahmu kepadaku sampai hal yang gak begitu penting untuk kau ceritakan dan aku bosan dengan hal itu. Cobalah untuk berpikir kalau hidup itu harus berubah begitu juga denganmu Rin jangan terus menerus mengharapkanku selalu di sisimu, kau punya teman dan Tuhan. Kau bisa mengadukan segala hal dengan mereka, bukan denganku. Kamu ngerti! Aku mau pulang dan aku bosan lihat mu,” bentak Sam dengan nada memuncak.
“Sam kenapa begitu sakit yang ku rasakan ketika ucapan itu keluar dari mulutmu langsung,” Ririn tertunduk sambil menangis.
“Maafkan aku Rin atas semua sikapku, aku yakin kau bisa mandiri tanpa aku. Aku akan cerita semua masalahku suatu hari nanti,” ucap Sam dalam hati sambil bersembunyi dibalik sebuah pohon.
Keadaan pun semakin hari semakin merenggang. Sam dan Ririn tak pernah lagi tegur sapa. Semua keadaan berubah, matahari yang bersinar di pagi hari pun seolah tak memberikan warna cerah.
Dua bulan berselang setelah kejadian tersebut, aku mendapatkan kabar kalau Sam sudah meninggalkanku untuk selamanya.
“Sam,” Ririn menangis tanpa henti sambil menabur bunga.
“Ikhlaskan Sam, Rin. Dia minta ketika dia meninggalkan kita jangan ada yang nangis, sebab dia juga akan ikut sedih karena orang yang mencintainya juga sedih. Ini ada titipan buat Ririn,” bujuk Ibu Sam sambil mengulurkan sebuah surat.
Dear gadis ku Ririn, maaf atas semua yang telah ku perbuat denganmu. Atas semua sikapku dan atas kedekatanmu dengan Adi yang membuat mu gak nyaman dengan semua ini, dan untuk masalah Melisa aku dengan dia gak pernah pacaran, kami hanya sebatas teman, aku mengatakan kalau aku pacaran dengan Melisa agar kau menjauh dari ku. Aku tak ingin kau selamanya denganku karena aku takut kehilanganmu. Aku sayang denganmu gadisku, tapi setelah aku divonis kangker otak dan sudah masuk stadium 4, aku sadar aku adalah manusia yang hanya memiliki setitik cinta yang tak akan bisa abadi selamanya, sebab yang abadi adalah cintaku kepada sang Ilahi. Itulah makna dan arti dari titik yang dalam diriku dan aku berharap kau bisa mempunyai titik dari arti cinta yang dalam untuk sang Ilahi, sebab dia adalah cinta yang kekal yang selalu di sisimu. Aku titip salam buatmu selalu senyum dan jaga hatimu buat sang Ilahi. Ikhlaskan aku, sebab aku adalah cinta yang fana untukmu.
Dari surat itu aku sadar kalau sesungguhnya aku sudah mempunyai titik arti sebuah cinta dalam hidupku, tapi selama ini tak pernah tersadar dalam diri kalau cinta yang abadi bukanlah cinta kepada makhluk, tapi titik cinta yang sesungguhnya dalam diriku adalah cintaku kepada sang Ilahi.
Editor : Nurul Farhana Marpaung

