Seutas Kepedulian di Tengah Pandemi

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Istimewa)

Penulis: Riski Maulana

Tidak ada yang menyangka hadirnya pandemi Covid-19 memberikan beragam problematika baru dalam tatanan kehidupan masyarakat. Seolah tantangan demi tantangan datang silih berganti, untuk dapat kita hadapi dan selesaikan bersama. Mulai dari isu sosial, ekonomi, kesehatan, bahkan pendidikan semua terkena imbasnya. Berbicara isu pendidikan tentu yang menjadi sorotan pilu adalah anak-anak di pedesaan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki namun tetap harus melanjutkan pendidikan mereka.

Dari rasa keprihatinan itu Muhammad Poso dan beberapa pemuda lainnya tergerak untuk memberikan sumbangsih kecil mereka. Muhammad Poso adalah seorang fresh graduate yang saat itu terpaksa pulang ke kampung halamannya di desa Sibanggor Jae, Kecamatan Puncak Sorik Merapi, Kabupaten Mandailing Natal. Dia merasa terpukul melihat minimnya sarana serta fasilitas pendidikan yang ada di desanya, “sungguh miris,” ujar Poso pada saat diwawancarai melalui telepon. 

Di tengah kondisi pandemi yang merubah keharusan untuk belajar secara daring, tentu menjadi tantangan berat bagi anak-anak terlebih bagi mereka yang tinggal di pedesaan. Karena, tidak hanya faktor ekonomi yang mempersulit mereka namun akses ke fasilitas pendidikan yang juga terbatas dan minim.

Bermodalkan tekad dan keprihatinan besarnya, Poso memulai projek perpustakaan mini di salah satu program kerja organisasinya, The Power of Different salah satu organisasi yang Poso cetus bersama rekannya semasa aktif menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Dengan tujuan utama kala itu untuk menghapus stigma negatif di tengah masyarakat akan maraknya intoleransi kebudayaan. Melihat minimnya fasilitas pembelajaran di desanya, Poso mencoba mengembangkan sayap program kerja organisasi tersebut untuk dapat terjun dan peduli akan isu pendidikan.

MiniPer atau Mini Perpustakaan menjadi salah satu langkah awal yang diambil untuk dapat menjadi wadah serta fasilitas bagi anak-anak pedesaan, agar dapat mengakses pendidikan dengan lebih mudah, serta mencoba menanamkan nilai-nilai pentingnya literasi. Untuk merealisasikan program ini, ada beberapa hal lagi yang harus dilakukan agar dapat berjalan sesuai target. Seperti, mendapatkan sumber buku yang layak yang bisa dibaca dan mencari tempat yang layak yang bisa dipakai serta beragam kebutuhan lainnya yang dapat mempercepat terealisasinya program MiniPer tersebut. 

“Kita coba upayakan semaksimal mungkin, mulai dari mempromosikan program MiniPer ini ke sosial media dan juga mencoba menjalin relasi dengan berbagai organisasi serta instansi yang ada,” jelas Poso dengan penuh semangat tinggi. Membangun suatu hal baru memang menjadi tantangan tersendiri di tengah minimnya kesadaran dan ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya fasilitas pembelajaran bagi anak-anak di desa tersebut. 

Dari sana Poso dan beberapa pemuda lainnya tak putus semangat untuk terus menggencarkan informasi mengenai MiniPer, hingga sampai pada titik di mana mulai banyak orang-orang yang mengetahui tentang MiniPer dan tentu mereka prihatin melihat kondisi anak-anak di desa tersebut. Dari sanalah mulai banyak donasi yang berdatangan baik berupa buku, alat tulis, perlengkapan belajar dan  uang tunai, bahkan ada warga negara Singapura yang turut memberikan donasinya.  “Saya sangat bersyukur karena masih banyak orang-orang yang peduli akan pentingnya sarana pembelajaran bagi anak-anak,” ucap Poso.

Dari keberhasilan Poso dan pemuda di desanya akhirnya berdampak pada banyaknya pemuda-pemudi yang termotivasi dan ingin terlibat langsung dalam projek mini perpustakaan tersebut. Hingga sampai saat ini terdata ada tiga mini perpustakaan yang ada di tiga desa yang berbeda yakni, Desa Sibanggor Jae, Desa Pagur dan Desa Tebing Tinggi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara.

“Dengan adanya tiga MiniPer di tiga desa yang berbeda tentu menegaskan bahwa masih banyak orang-orang yang sadar dan peduli akan pentingnya sarana dan fasilitas belajar yang baik untuk menunjang pendidikan bagi anak-anak, terlebih bagi mereka anak-anak yang berada di pedesaan, semoga ke depan semakin banyak MiniPer lainnya di Indonesia,” jelas Poso menutup percakapan tersebut. Kondisi pandemi kembali menyadarkan kepada kita bahwa masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan perhatian dan bantuan kita.

Editor: Miftahul Zannah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles