Oleh : M. Zuchri Nasuha Lubis
Â
Genre            : Drama, Pendidikan, Inspirasi, Biografi
Rilis Perdana : 21 November 2013
Studio            : Miles Production
Sutradara      : Riri Riza
Pemain          : Prisia Nasution, Nyungsang Bungo, Rukman Rosadi
Â
Penantian sobat kampus yang sangat antusias dengan film bergenre Inspirasi akhirnya berbuah manis. Pasalnya, hari ini adalah rilis perdana film Sokola Rimba yang sudah dinanti-nantikan pemutarannya selama beberapa bulan terakhir.
Kisah inspiratif dan edukatif tentang pengalaman seorang perempuan yang mengajar masyarakat suku Anak Dalam di hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi ini, diadaptasi dari novel karya Butet Manurung dengan judul yang sama.
Kisah bermula dari Butet Manurung (Prisia Nasution) yang telah menemukan jalan hidup yang diinginkannya. Menjadi seorang pengajar di masyarakat suku Anak Dalam yang dikenal sebagai Orang Rimba, yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan bukit Dua Belas.
Setelah tiga tahun mengajar anak Rimba di hulu Sungai Makekal dalam kondisi yang serba terbatas, Butet terserang malaria. Butet yang pingsan di tepi sungai diselamatkan oleh anak rimba dari hilir yang bernama Bungo (Nyungsang Bungo).
Kemunculan Bungo yang diam-diam selalu memperhatikan Butet mengajar, mendorong Butet untuk memperluas wilayah kerjanya hingga ke hilir. Namun, keinginan Butet ini menjadi awal masalah ketika atasan Butet di lembaga konservasi (Rukman Rosadi) tidak menyetujui rencana ini. Belum lagi penolakan dari masyarakat Rimba di hilir yang menentang kehadirannya.
Visualisasi kehidupan rimba dalam film produksi Miles Production ini terwujud berkat kerja sama beberapa profesional seperti sinematografer Gunnar Nimpuno dan penata artistik Eros Eflin yang bekerja dengan Riri Riza di film “Petualangan Sherinaâ€.
Selain itu ada Aksan Sjuman yang menggarap musik film serta editor W. Ichwandiardono, yang sebelumnya mengerjakan film “Laskar Pelangi†dan “Sang Pemimpiâ€.
Seperti dikutip dari antaranews.com, Riri berharap film Sokola Rimba mampu membuka mata orang bahwa pendidikan di Indonesia tidak bisa disamaratakan di semua tempat.
“Indonesia itu kompleks, enggak bisa disamaratakan, pendidikan harus sama di antara orang desa, kota, atau rimba. Situasi film ini memperlihatkan hal itu.†paparnya.



kabarnya prisa nasution nangis saat mau pulang dr lokasi syuting di pedalaman itu..
film yg menarik dan haru…
mantaplah,,
semoga anak rimba tetap mendapat pembelajaran..