Teman yang Baik!

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad Ihsan)

Penulis: Nur Citra Naadirah Br Tarigan

Teman yang baik adalah teman yang selalu mengingatkan untuk hal kebaikan dan mencegah agar tidak terjerumus kepada hal yang buruk. Maka, kita harus pandai dalam mencari teman dekat agar pengaruh baik yang kita dapat dari teman tersebut adalah pengaruh baik dan positif.

Baca Juga: Cahaya dalam Kegelapan

Di sebuah taman yang indah dengan pemandangan yang asri, serta bunga dengan berbagai jenis yang baru bermekaran, di sanalah menjadi tempat bermainnya anak-anak yang dipenuhi dengan canda tawa mereka. Namun, di saat anak-anak lain asyik bermain dengan teman-temannya, terlihat di bawah sebuah pohon besar yang tidak jauh dari kerumunan anak-anak bermain, ada seorang gadis kecil yang hanya diam menatap keramaian itu.

Ia termenung dengan tatapan kosong, tidak tahu apa yang ia pikirkan saat itu. Aku heran, mengapa ia tidak ikut bermain dengan anak-anak lainnya? Padahal kalau dilihat-lihat, umurnya dengan anak-anak yang tengah bermain itu tidak berbeda jauh.

Karena rasa penasaranku begitu besar, sehingga aku ingin sekali menemuinya. Aku juga ingin mengetahui kenapa ia tidak ikut bermain bersama dengan yang lain.

“Hai,” ucapku dengan penuh riang dan semangat.

Namun nihil, gadis kecil itu hanya menoleh dan menatapku sebentar kemudian ia kembali memandangi keramaian yang tidak jauh darinya.

“Gadis kecil ini aneh sekali, pantas saja tidak ada yang mau bermain dengannya,” bisikku yang tanpa kusadari gadis kecil itu mendengarnya.

“Ya, aku memang orang aneh. Makanya, enggak ada satu pun yang mau berteman denganku,” ucapnya dengan pandangan terus melihat ke depan dan wajah yang lesu.

“Eh, bukan begitu maksudnya,” jawabku panik dan merasa bersalah atas ucapanku sebelumnya.

“Aku hanya ingin mengajakmu untuk berteman, tapi karena kamu diam aja, aku bingung harus bagaimana, maaf, ya, untuk ucapanku yang enggak baik tentang kamu tadi,” aku menjelaskan tujuanku menemuinya, agar ia bisa memaafkanku.

Kembali seperti semula, gadis kecil itu masih saja diam seribu bahasa. Suasana sekarang pun makin kikuk, aku yang merasa bersalah enggan untuk meninggalkannya sendirian. Alhasil, aku memilih untuk duduk di sampingnya.

“Hmm … aku izin duduk di sini, ya, hehe,” perlahan aku duduk di sebelahnya dengan ragu, takut ia akan marah lagi padaku.

“Ya, silahkan saja, ini tempat umum, siapa saja boleh duduk, tidak perlu izin,” jawabnya malas.

“Hmm … kalau boleh tau, nama kamu siapa?” aku mencoba mencairkan suasana yang membisu tanpa basa-basi apa pun dari tadi.

“Emang penting, ya?”

“Ya, penting, dong. Bagaimana aku mau memanggil kamu kalau ketemu lagi?” ucapku dengan penuh semangat.

“Memangnya kita akan bertemu lagi setelah ini? Bukankah kamu akan pergi juga meninggalkanku dan enggak akan pernah mau menemuiku lagi, setelah itu akan menjadi orang asing yang saling tidak mengenal seperti orang-orang lain yang aku temui selama ini?” gadis itu mengungkapkan hal itu dengan mata yang berkaca-kaca, hanya saja enggan untuk meneteskan air matanya.

“Ya, aku, kan, berbeda dengan orang-orang yang selama ini kamu temui. Aku mau berteman denganmu. Aku akan berjanji menjadi teman yang baik dan enggak meninggalkan kamu,” aku mengatakan itu sambil mengulurkan jari kelingking ke arah gadis kecil itu.

“Janji?” aku mengangguk dan gadis kecil itu pun mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingkingku.

Baca Juga: Pengingat Jalur Langit

Editor        : Fadillah Hanum 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles