Tentangmu

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet pinterest.com)

Penulis: Ikram Muharril

Belakangan ini perlahan aku mampu merangkap banyak hal tentangmu. Kemana larinya tawamu? Sedang hinggap di mana perasaanmu? Semua tentangmu menumpuk tidak beraturan dalam pikiranku. Sewajarnya, aku tidak lagi memikirkanmu, bukan?  Kenyataan malah tidak demikian. Malam yang tak bersahabat, atau malah sudut pandangku yang tersesat. Bayanganmu seperti tidak bisa meloloskan diri. Tuhan sepertinya sedang mengajariku untuk tidak bisa melupakanmu seutuhnya. Tentu, sekte yang mengatakan kita tidak pernah lumpuh melupakan seseorang, kini Aku bisa mempercayainya.

Baca Juga: Jebakan Cinta & Rokok /2/

Pertemuan yang telah kuduga akan memiliki banyak cerita nantinya. Hati menjadi aktor penggerak di berbagai lini. Lisan menyebut namamu, demikian juga dengan pikiran secara sporadis bergema alunan rindu. Untuk saat ini hanya sebatas rindu, bukan lagi mengagumi apalagi memilikimu. Huuh … sedari dulu kata perasaan memang terdengar lucu, bukan?

Baiklah, aku ingin menceritakan tentangmu, Rin.

Tiada lagi keresahan sejak kau menghuni hari-hariku. Kau mampu menundukkan segala permasalahanku lewat rangkulan hangatmu. Semenjak itu pula, batinku terasa dipanggil masa depan, imajinasi dan ide cemerlang menumpah-ruah di sana. Sementara kau … layak berperan di sana. Aku mulai menceritakan impianku satu per satu. Kau yang sedang berada di tengah tuntutan sebagai contoh teladan bagi keluarga, sementara aku berusaha menciptakan peluang agar kita  bisa saling berjuang.

Berbincang hangat denganmu rasanya seperti menggelar perayaan setiap hari. Kesenangan tiada henti mewarnai. Kau yang kukenal begitu tulus, tabah menerima genggamanku. Tiada hari paling indah ketika langit sore menyaksikan kita berdua berjalan bersama. Percakapan   dimulai. Hingga akhirnya salah seorang anak kecil menghampiri menanyakan siapa dirimu. Aku tidak mengenalnya, meski kau tahu kita sedang berjalan menuju rumahku. Lihatlah, dia saja ingin mengenalmu. Apalagi aku yang di sisimu, selalu berharap agar kita saling bersama.

Tawa kita seirima, kopi yang kita minum juga mempunyai cita rasa yang sama. Sebelum pada akhirnya, momen kita tidak lagi direstui semesta. Begitu banyak kesamaan nyatanya tidak menjamin kebersamaan. Kemudian, lewat banyak hari dan tanggal perayaan itu berujung gagal. Kau mulai didekap keraguan. Dering notifikasi darimu tak lagi bergetar. Saat itu pula aku menyadari, berhenti menunggumu adalah seni menyembuhkan harapan.

Terkesan malu tentu saja saat lis perencanaan yang kita buat hanya terhenti dalam sebatas tulisan. Aku tidak mampu mengupayakan keinginanku denganmu, hingga harapanku berganti, semoga kebahagiaan selalu terpasang lewat senyummu. Meski bukan untukku lagi.

Aku tidak ingin menyalahkan waktu perihal ini. Aku malah mensyukuri banyak hal, dan bertemu denganmu adalah perkenalan paling hebat yang dikirimkan semesta. Aku tak lagi mengidamkan kesempurnaan. Aku menjadi teringat dengan ucapanmu yang mengatakan, “Bukankah manusia selalu tampak bahagia meski harinya tidak baik-baik saja?” Katamu berpapasan dengan pukul 10 malam.

Rasanya kata-katamu seperti itu yang kini kurasakan. Berlindung dari segala kepura-puraan adalah kepiawaian yang harus terjaga. Aku tidak ingin membencimu karena langkah kita tak lagi bersama. Aku bersiap melapangkan hati yang dipeluk dengan ketabahan. Untukmu, terima kasih sudah bersedia merajut kisah ini.

Satu hal yang kuinginkan rawat terus senyummu itu. Satu hal lagi, anak kecil itu kembali menanyakan di mana keberadaanmu, Rin.

Baca Juga : Jebakan Cinta & Rokok /1/

Editor       : Aqlia Matslina Fattah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles